BALIEXPRESS.ID – Terletak di Desa Buduk, Mengwi, Badung, Pura Manik Galih menjadi tempat suci Hindu Bali, yang unik dan menarik perhatian.
Pura ini menjadi tujuan utama para petani untuk memanjatkan doa kepada Dewi Sri, Dewi Padi dan Kesuburan, yang diyakini sebagai sakti dari Dewa Wisnu.
Keberadaan Pura Manik Galih tidak hanya menjadi simbol keagamaan, tetapi juga menyimpan kisah sejarah yang penuh teka-teki.
Pesona Dewi Sri di Pura Manik Galih
Dewi Sri yang dipercaya berstana di Pura Manik Galih merupakan simbol kemakmuran dan kesuburan.
Masyarakat Bali, terutama para petani, menjadikan Dewi Sri sebagai sosok yang dipuja atas keberhasilan panen mereka.
Namun, meskipun sawah-sawah di sekitarnya semakin menyusut akibat pembangunan infrastruktur, tradisi sembahyang kepada Dewi Sri tetap hidup di hati para pangempon pura.
“Walau sudah banyak yang berprofesi di luar bidang pertanian, masih banyak pangempon yang punya sawah,” ujar Jro Mangku Made Pasek Arsana, pemangku Pura Manik Galih.
Asal Usul Pura: Ayam Raja dan Pohon Keket
Cerita turun-temurun menyebutkan bahwa Pura Manik Galih awalnya dikenal sebagai Pura Batan Keket.
Konon, pada masa lalu, seorang raja dari Kerajaan Mengwi mengikuti ritual adu ayam (metajen).
Ketika ayam sang raja kabur dan bersembunyi di bawah pohon Keket, raja memutuskan untuk membangun pura di tempat tersebut.
“Cerita orang dahulu seperti itu. Tapi karena tidak ada purana, saya kurang bisa memastikan kebenarannya juga,” jelas Jro Mangku Made Pasek Arsana.
Selain itu, disebutkan bahwa raja memberikan laba pura berupa sawah seluas 15 are, yang hasilnya digunakan untuk upacara piodalan.
Nama Pura Manik Galih baru disematkan pada tahun 1985, menggantikan nama sebelumnya, Pura Batan Keket.
Piodalan dan Tradisi yang Tetap Hidup
Piodalan di Pura Manik Galih jatuh pada Buda Kliwon Wuku Shinta, bertepatan dengan Hari Raya Pagerwesi.
Bebantenan saat piodalan biasanya berupa tumpeng solas, dan untuk odalan jelih menggunakan pulagembal, sesuai tradisi turun-temurun.
Jro Mangku Made Pasek Arsana juga mengungkapkan bahwa pohon Keket yang dahulu menjadi ciri khas pura berada di sebelah barat daya.
“Sebelum dibangun balai gong ini, ada pohon Keket. Saya masih ingat itu,” ujarnya dengan semangat.
Keunikan Arsitektur dan Harapan Masa Depan
Kori Agung Pura Manik Galih yang masih berarsitektur tua dibangun pada tahun 1973 dan menjadi daya tarik tersendiri.
“Harapan saya, semoga kori agung ini tetap dipertahankan sebagai warisan budaya,” tutup Jro Mangku Made Pasek Arsana.
Keunikan Pura Manik Galih tidak hanya terletak pada nilai sejarahnya, tetapi juga pada kisah-kisah yang menyelimutinya.
Sebagai tempat pemujaan Dewi Sri, pura ini menjadi pengingat akan pentingnya kesuburan dan rasa syukur dalam kehidupan masyarakat Bali, meski zaman terus berubah. ***
Editor : I Putu Suyatra