Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Berdirinya Pura Mpu Bharadah, Berawal Dari Pedanda di Bali Terima Pawisik

Putu Resa Kertawedangga • Rabu, 29 Januari 2025 | 15:48 WIB

Pelinggih utama dari Pura Palenggahan Ida Bhatara Mpu Bharadah, di Desa Pamenang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Pelinggih utama dari Pura Palenggahan Ida Bhatara Mpu Bharadah, di Desa Pamenang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

BALIEXPRESS.ID - Sebuah Pura di Desa Pamenang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur didirkan dengan nama Pura Palenggahan Ida Bhatara Mpu Bharadah.

Pura ini berdiri dekat dengan kompleks situs pamuksan Sri Aji Jayabaya.

Pura Palenggahan Ida Bhatara Mpu Bharadah ini didirikan berdasarkan pawisik yang diterima salah satu pedanda dari Bali.

Baca Juga: I Gusti Lanang Mantra, Seniman ‘Pemulung’  yang Sulap Sampah Jadi Karya Seni

Mpu Bharadah adalah seorang Pendeta Budha yang namanya hingga kini dikenal masyarakat Bali.

Mpu Bharadah juga merupakan penasehat dari Raja Airlangga dari Kerajaan Kediri.

Memasuki area pura, terdapat sebuah catatan silsilah dari Mpu Bharadah.

Baca Juga: Pura Tirta Harum Serangan, Denpasar Perpaduan Hindu-Budha, Telaga Bermula dari Percikan Air

Dalam silsilah tertuliskan garis keturunan Mpu Bharadah hingga tokoh besar di Bali.

Di utama mandala terdapat satu padmasana besar dengan ketinggian sekitar 15 meter.

Tepat disebelahnya ada sebuah palinggih Mpu Bharadah berbentuk patung.

Baca Juga: Ternyata Ini Manfaat Pelaksanaan Brata Malam Siwaratri

Jero mangku Pura Mpu Bharadah, Rakino mengatakan, pura ini pertama kali dibangun berdasarkan pawisik dari seorang pedanda di Bali.

Ia menceritakan dulunya sang pedanda adalah seorang pengusaha yang sering mengunjungi situs pamuksan Sri Aji Jayabaya.

Pedanda tersebut juga disebutkan sebagai keturunan dari Mpu Bharadah.

“Beliau menerima pawisik, Hyang Mpu Baradah kan mengikuti Raja Airlangga, berhubung di sini belum dibikinkan palinggih atau tempat tinggal, beliau meminta untuk dibuatkan yang dekat dengan raja,” ujar Rakino saat ditemui, Minggu (26/1).

Sehingga setelah menerima pawisik tersebut, Sulinggih asal Bali mulai mencari tempat untuk membuatkan sebuah pura.

Lahan yang digunakan sebagai pura pun didapatkan setelah melihat sinar suci saat makemit di Sendang Buntung atau Tirta Kamandanu.

Cahaya tersebut mengarah ke arah selatan tak berselang lama kemudian menghilang.

Namun Jero Mangku Rakino juga menuturkan, awal mencari lahan untuk pura sangat sulit.

Bahkan hingga setahun lebih belum mendapatkan lahan.

“Akhirnya yang mempunyai lahan ini menawarkan untuk dibikin pura. Awalnya lahan ini adalah sawah ada gundukannya yang tidak bisa ditanami,” ungkapnya.

Lahan pembangunan pura ini pun awalnya sulit terjual akibat tidak dapat ditanami.

Kemudian pembangunan Pura Mpu Bharadah ini pun mulai dibangun pada tahun 1997 dengan proses pembangunan satu setengah tahun.

Setelah pembangunan dilaksanakn upacara ngenteg linggih pada tahun 1999.

Untuk bahan pura menggunakan batu dari Bali dan Banyuwangi.

Rakino menyebutkan, piodalan di Pura Mpu Bharadah ini dilaksanakan setiap Purnama sasih sada.

Seluruh sarana upacara dibuatkan oleh krama dari Bali.

Bahkan ada juga bantuan dari umat Hindu lainnya yang ada di dekat pura.

Selain itu persembahyangan, juga dilaksankan setiap hari beaar Hindu.

“Untuk persembahyangan di Pura biasanya setiap Purnama dan Tilem dan hari besar lainnya. Banyak umat Hindu dari kota yang juga datang sembahyang,” jelasnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#bali #jawa timur #kediri #pura #airlangga #Mpu bharadah #pedanda