Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tanpa Jenazah, Ini Prosesi Upacara Pitra Yadnya di Desa Gesing, Banjar

Putu Agus Adegrantika • Sabtu, 1 Februari 2025 | 18:43 WIB
UPACARA : Prosesi upacara Pitra Yadnya Tumandang Mantri  di Kecamatan Banjar, Buleleng.
UPACARA : Prosesi upacara Pitra Yadnya Tumandang Mantri di Kecamatan Banjar, Buleleng.

BALIEXPRESS.ID - Upacara Pitra Yadnya adalah sebuah upacara atau ritual dalam agama Hindu yang dilakukan untuk menghormati dan menghargai arwah leluhur. 

Kata Pitra berarti leluhur, dan Yadnya berarti persembahan atau upacara yang dilakukan dengan tujuan mendapatkan berkah.

Dalam tradisi Hindu, Pitra Yadnya dilakukan untuk memohon agar roh leluhur diberikan kedamaian, kesejahteraan, dan pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian (moksha). 

Hal tersebut dilakukan juga dalam Prosesi Upacara Pitra Yadnya Tumandang Mantri di Kecamatan Banjar, Buleleng.

Panitia upacara, Jro Mangku Gde Nyoman Adi Garnida, menjelaskan Pitra Yadnya biasanya dilakukan dengan berbagai bentuk persembahan, seperti makanan, air, dan doa-doa khusus, yang diyakini bisa membantu leluhur dalam perjalanan spiritual mereka.

“Salah satu momen penting terkait dengan Pitra Yadnya adalah pada waktu Pitru Paksha, yakni periode 16 hari dalam kalender Hindu yang diadakan untuk menghormati roh leluhur melalui upacara seperti Shraddha dan Tarpan,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut diungkapkan upacara ini merupakan upacara ngaben tanpa jenazah atau watangan. 

“Upacara ini masih bertahan di Desa Gesing, Kecamatan Banjar, Buleleng, upacara ini sering disebut dengan istilah "ngeyehin" dalam artian proses pengiriman menggunakan air bukan api,” terang Jro Mangku Garnida.

Baca Juga: Tak Terbukti Terlibat Penculikan WNA Ukraina, Polda Bali Pulangkan Khasan Askhabov Dengan Hormat

Pada proses upacara ini selesai di setra untuk watangan di ganti memakai pengawak cendana, dengan panjang alengkat pengurip amusti. 

Disebutkan bahwa upacara ini pertama kalinya dipuput oleh Sulinggih, dimana biasanya dipuput oleh pemangku.

Prosesi upacara tersebut setelah selesai ngirim, dilanjutkan dengan ngereka, yang direka adalah tanah sisa penguburan kemudian dilanjutkan dengan nganyud ring tukad, upacara dilanjutkan dengan nyekah, natak tiyis metatah dan mewinten, setelah itu meajar ajar. *

 

 

 

 

Editor : Putu Agus Adegrantika
#pitra yadnya