Namun, pura Pucak Macan Putih begitu lekat di hati penekun spiritual, karena didirikan berdasarkan pawisik yang diterima orang Bali.
Bahkan diyakini jika pura ini erat kaitannya dengan petilasan Hyang Prabu Tawangalun.
Bali Express (Jawa Pos Group) menyempatkan melakukan tirtayatra ke pura ini akhir Januari lalu. Pura Pucak Macan Putih berada di tengah hutan lindung yang dikelola oleh Kesatuan Rencana Pengelolaan Hutan (KRPH) Perhutani Banyuwangi Barat.
Butuh perjuangan untuk menjangkau pura ini. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam dari Kota Banyuwangi.
Perjalanan kian seru setelah memasuki kawasan pemukiman hingga memasuki areal hutan belantara.
Sesampainya di lokasi, koran ini memarkir kendaraan di dekat loket tiket masuk ke area petilasan. Kawasan Pura Pucak Macan Putih ini berada di areal Petilasan Prabu Tawang Alun yang saat ini dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi.
Sebelum masuk, pengunjung dikenakan biaya tiket masuk serta parkir kendaraan. Suasana hening, udara sejuk kian menambah vibrasi spiritual.
Baca Juga: Pencurian Sepeda Motor di Bangli, Jupiter Tanpa Kunci Setang Raib saat Ditinggal ke Warung
Saat melangkah kaki menapaki anak tangga, mata terarah pada telaga dengan air berwarna hijau tenang.
Telaga yang berada di tengah rimbunnya hutan Songgon ini sering digunakan sebagai aktifitas memancing oleh warga setempat.
Nampak sejumlah warga tengah asyik memancing di kawasan ini.
Tak mengherankan jika dilihat secara etimologi, kata ‘rowo’ berasal dari bahasa Jawa yang berarti danau, sementara ‘bayu’ berarti angin. Keberadaan telaga ini dianggap keramat oleh warga setempat.
Dari kejauhan sudah terlihat sebuah bangunan yang menyerupai candi. Benar saja, Candi inilah yang diyakini sebagai petilasan dari Prabu Tawang Alun.
Di belakang candi tersebut terdapat sejumlah mata air memancur yang digunakan pengunjung untuk menyucikan diri sebelum melakukan sungkem di petilasan Prabu Tawang Alun.
“Silahkan membasuh diri dulu di air itu mas,” kata Atim, tokoh Hindu di Desa Rowo Banyu yang juga Ketua PHDI Kecamatan Songgon didampingi Romo Mangku Pura Pucak Macan Putih.
Petilasan ini merupakan peninggalan salah satu Raja Blambangan, Prabu Tawang Alun, yang memilih menghindari perang saudara di kerajaannya.
Demi menghindari konflik, ia melepaskan tahtanya dan menjalani kehidupan sebagai pertapa di Rowo Bayu.
Menurut Atim, sebelum menjadi lokasi pertapaan, Rowo Bayu adalah hutan lebat yang dianggap angker dan menyimpan berbagai kisah mistis.
Baca Juga: Kecelakaan Maut Bus, Dua Orang Meninggal Dunia: Rencana Buat Momen Indah Masa SMA Jadi Tragedi
Dahulu, masyarakat enggan memasuki kawasan ini karena dianggap sangat wingit.
Namun, Prabu Tawang Alun menemukan tempat tersebut dan menjadikannya lokasi untuk menyepi serta bersembah semedi di kaki Gunung Raung.
Petilasan Prabu Tawang Alun merupakan sebuah bangunan candi yang terletak di sekitar Rowo Bayu.
Di dalamnya terdapat sebuah ruang pertapaan yang diyakini oleh masyarakat sebagai tempat di mana Prabu Tawang Alun bermeditasi setelah memilih untuk menyepi.
Konon, pada suatu waktu, terdengar suara gaib yang berbicara kepadanya, menyuruhnya kembali dan menunggangi macan putih menuju ke arah timur.
Akhirnya, ia membuka Hutan Sudimara dan mendirikan pemerintahan baru di Blambangan, yang kemudian dikenal dengan sebutan Macan Putih.
Prabu Tawang Alun pun menjadi leluhur para penguasa Blambangan. Beberapa abad kemudian, banyak pemimpin Blambangan (sekarang Banyuwangi) yang diyakini berasal dari garis keturunannya.
Baca Juga: Tiga Warga Tabanan Jadi Korban Pohon Kelapa dan Papan Reklame Roboh Akibat Angin Kencang
Rowo Bayu memiliki lima sumber mata air utama, yaitu Kaputren, Dewi Gangga, Kamulyan, Panguripan, dan Rahayu.
Sumber-sumber air ini diyakini memiliki khasiat tertentu bagi mereka yang meminumnya atau menggunakannya untuk membasuh diri.
Misalnya, sumber air Kaputren dipercaya dapat membantu seseorang mendapatkan keturunan yang baik, sementara Dewi Gangga diyakini membawa kecantikan bagi keturunan.
Sumber mata air Kamulyan dan Panguripan sering dikunjungi oleh mereka yang ingin memperbaiki kehidupan.
“Air ini bisa untuk raupan, basuh kepala, kumur dan diminum, silahkan disampaikan permohonannya,” ungkap Hatim sembari mengarahkan.
Setelah melaksanakan membasuh diri sembari melukat, langsung diarahkan melakukan sungkem di Petilasan Prabu Tawang Alun.
Baca Juga: Detik-detik Kecelakaan Maut Hindrai Truk, Pengendara Yamaha NMax malah Tewas Dilindas Truk Gandeng
“Sampaikan permintaan Panjenengan. Apapun itu,” kata Atim mengarahkan.
Usai melakukan sungkem, Koran ini lantas diarahkan naik menapaki sejumlah anak tangga menuju pura Pucak Macan Putih.
Namun, terlebih dahulu menemukan Candi Macan Putih yang berdiri kokoh di sebelah Pura Pucak Macan Putih. (dik)
Editor : I Putu Mardika