Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sarat Makna, Sangka Mudra di Awal dan Akhir Tarian Topeng Sidakarya

I Putu Mardika • Kamis, 6 Februari 2025 | 02:47 WIB

Mudra sebagai posisi jari yang sarat akan makna dalam pementasan Topeng Sidakarya
Mudra sebagai posisi jari yang sarat akan makna dalam pementasan Topeng Sidakarya
BALIEXPRESS.ID-Pementasan Tari Topeng Sidakarya di akhir sebuah Upacara Yadnya tidak terlepas dari Mudra.

Mudra yang sering ditunjukkan adalah Sangka Mudra sejak awal hingga akhir Topeng Sidakarya digelar. 

Posisi  jari  manganjali dalam  Tarian  Sidakarya  sering  diperlihatkan  pada  awal  tarian  dan  akhir  pementasan  atau  pada  momen  lainnya. 

Posisi  jari  yang  demikian,  memiliki  kesamaan  dengan  Sangka Mudra, yakni Mudra yang  dimaknai  oleh  para  Tantris sebagai  simbol  membuka  pura  dalam  diri,  dimana  Tuhan  bersthana  di  dalamnya. 

Seniman Topeng Sidakarya, Nyoman Suardika yang juga ketua PHDI Buleleng mengatakan, dalam  pementasan  tari  topeng  Dalem  Sidakrya,  sikap  tangan  manganjali simbol  dari  penyucian diri dan penyucian di luar diri.

Selanjutnya posisi jari nuding dua ini sangat sering diperlihatkan oleh penari terlebih penari  topeng  Dalam  Sidakarya. 

Baca Juga: Mudra dalam Tarian Topeng Sidakarya Sarat Makna, Ini Penjelasannya

Dalam  pengetahuan Mudra posisi  jari  yang  demikian  disebut  dengan Perthiwi Mudra.

Mudra tersebut sering digunakan  oleh  pengikut Tantra untuk  membangkiktkan  kekuatan cakra dalam  tubuh. 

“Perthiwi lambang  bumi,  dan  bumi  adalah  ibu  bagi  manusia  serta  bumi  adalah  lambang kesuburan dan kemakmuran. Sejalan dengan itu, tarian  topeng  Dalem  Sidakarya  merupakan  tarian  simbol  pemarisuda agar  bumi  menjadi  makmur  dan  sejahtera.  Demikian  juga  melalui  yadnya, bumi  akan  memberikan  kesuburan,” imbuhnya.

Posisi tangan atau jari ngeregep juga kerap diperlihatkan dalam pementasan tarian sakral  Dalem  Sidakarya.

Ngeregep dalam Mudra hampir sama dengan  posisi  Dhyana Mudra.

Baca Juga: Melonjak Tajam! Sepanjang 2024 Diskominfosanti Buleleng Kumpulkan 1,8 Ton Sampah Plastik dan Kertas.

Dhyana Mudra sering digunakan dalam sadhaka melakukan meditasi, dan sang Bhuda sering menggunakan sikap ini  dalam  memusatkan  pikiran. 

Dengan  demikian,  Mudra ini  simbol  dari  pemikiran  yang  terpusat  pada  nafas  (nyeraya)  sehingga  energi  dapat  difokuskan  agar  energi  kosmik  dapat  mambantu  kehidupan  duniawi. 

Hal  tersebut,  sejalan  dengan  makna  dari  pementasan  topeng  Sidakarya  sebagai  pemarisudha agar yadnya sukses  dan  alam semesta tersucikan.

Posisi jari  ngebat sering  digunakan  dalam  pentas  tarian,  khususnya tari topeng Sidakarya.

Dalam Mudra sikap jari yang demikian disebut dengan Japa Mudra yakni memiliki makna  sebagai pemuasatan  segala  gerak  indria  pada  satu  objek.

Baca Juga: Lomba Mengetik Aksara Bali Absen dalam Perayaan Bulan Bahasa Bali

Japa   ngaran   mantra   (japa artinya mantram), dan  posisi  jari  ngebat dapat  dimaknai  sebagai  simbol  penyatuan  kekuatan  mantram yang  diucapkan  sebagai  media untuk penyucian.

“Japa dipersepsikan sama dengan jnana, dan  melalui  jnana seseorang  dapat  menyucikan dirinya,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Mudra #tarian #yadnya #sidakarya #topeng