Mudra yang sering ditunjukkan adalah Sangka Mudra sejak awal hingga akhir Topeng Sidakarya digelar.
Posisi jari manganjali dalam Tarian Sidakarya sering diperlihatkan pada awal tarian dan akhir pementasan atau pada momen lainnya.
Posisi jari yang demikian, memiliki kesamaan dengan Sangka Mudra, yakni Mudra yang dimaknai oleh para Tantris sebagai simbol membuka pura dalam diri, dimana Tuhan bersthana di dalamnya.
Seniman Topeng Sidakarya, Nyoman Suardika yang juga ketua PHDI Buleleng mengatakan, dalam pementasan tari topeng Dalem Sidakrya, sikap tangan manganjali simbol dari penyucian diri dan penyucian di luar diri.
Selanjutnya posisi jari nuding dua ini sangat sering diperlihatkan oleh penari terlebih penari topeng Dalam Sidakarya.
Baca Juga: Mudra dalam Tarian Topeng Sidakarya Sarat Makna, Ini Penjelasannya
Dalam pengetahuan Mudra posisi jari yang demikian disebut dengan Perthiwi Mudra.
Mudra tersebut sering digunakan oleh pengikut Tantra untuk membangkiktkan kekuatan cakra dalam tubuh.
“Perthiwi lambang bumi, dan bumi adalah ibu bagi manusia serta bumi adalah lambang kesuburan dan kemakmuran. Sejalan dengan itu, tarian topeng Dalem Sidakarya merupakan tarian simbol pemarisuda agar bumi menjadi makmur dan sejahtera. Demikian juga melalui yadnya, bumi akan memberikan kesuburan,” imbuhnya.
Posisi tangan atau jari ngeregep juga kerap diperlihatkan dalam pementasan tarian sakral Dalem Sidakarya.
Ngeregep dalam Mudra hampir sama dengan posisi Dhyana Mudra.
Baca Juga: Melonjak Tajam! Sepanjang 2024 Diskominfosanti Buleleng Kumpulkan 1,8 Ton Sampah Plastik dan Kertas.
Dhyana Mudra sering digunakan dalam sadhaka melakukan meditasi, dan sang Bhuda sering menggunakan sikap ini dalam memusatkan pikiran.
Dengan demikian, Mudra ini simbol dari pemikiran yang terpusat pada nafas (nyeraya) sehingga energi dapat difokuskan agar energi kosmik dapat mambantu kehidupan duniawi.
Hal tersebut, sejalan dengan makna dari pementasan topeng Sidakarya sebagai pemarisudha agar yadnya sukses dan alam semesta tersucikan.
Posisi jari ngebat sering digunakan dalam pentas tarian, khususnya tari topeng Sidakarya.
Dalam Mudra sikap jari yang demikian disebut dengan Japa Mudra yakni memiliki makna sebagai pemuasatan segala gerak indria pada satu objek.
Baca Juga: Lomba Mengetik Aksara Bali Absen dalam Perayaan Bulan Bahasa Bali
Japa ngaran mantra (japa artinya mantram), dan posisi jari ngebat dapat dimaknai sebagai simbol penyatuan kekuatan mantram yang diucapkan sebagai media untuk penyucian.
“Japa dipersepsikan sama dengan jnana, dan melalui jnana seseorang dapat menyucikan dirinya,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika