Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mitos Wuku Watunggunung serangkaian Hari Saraswati, Ilmu Diterima tanpa Kemarahan

I Putu Mardika • Kamis, 6 Februari 2025 | 03:27 WIB

 

Patung Dewi Saraswati yang berada di sekolah sebagai Ista Dewata para pelajar yang menuntut ilmu
Patung Dewi Saraswati yang berada di sekolah sebagai Ista Dewata para pelajar yang menuntut ilmu
BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Saraswati yang merupakan momentum pemujaan Dewi Saraswati sebagai sumber Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan tidak terlepas dari mitologi Wuku Watunggunung yang merupakan wuku terakhir dari 30 Wuku yang ada.

Dosen Pendidikan Agama Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, M.Pd mengatakan Wuku Watunggung sarat akan mitologis yang memiliki kaitan erat dengan perayaan Saraswati.

Secara mitologis diceritakan, bahwa Watugunung adalah nama seorang putra Brahmana dengan Dewi Sinta sebagai Ibunya.

Sejak masih bayi, Watugunung telah menunjukkan kebesaran kehendak atau nafsunya melebihi dari yang biasa, ditandai dengan kuatnya makan yang makin hari makin banyak, sehingga ibunya merasa kewalahan meladeninya.

Pada suatu hari Dewi Sinta merasa tidak tahan dengan rengek-rengekan anaknya yang keras kepala, hingga sampai lupa diri lalu memukul kepala anaknya dengan siut (alat pengaduk nasi), sampai luka dan berbekas.

Akibat dari perbuatan ibunya, Watugunung menjadi lebih marah dan pergi dari rumahnya Dalam pengembaraannya itu ia dapat bertapa, pertapaannya diceritakan berhasil dengan memperoleh kesaktian yang maha hebat, namun watak nafsunya yang besar sebagai dasar mental pribadinya masih tetap kuat.

Dewi Landep dikawininya, kerajaan Ukir, Kulantir dan yang lainnya diserang serta di tundukkannya. Demikian pengembaraan Watugunung, mengakibatkan banyak mempunyai daerah jajahan.

“Pada suatu saat Watugunung dapat bertemu dengan Dewi Sinta, yang dikenalinya lagi sebagai ibunya, akhirnya dikawininya,” katanya.

Dalam kehidupannya sebagai suami istri, Dewi Sinta pada suatu hari sedang asik mencari kutu pada kepala suaminya Watugunung, melihat ada bekas luka dikepalanya, lalu ditanyakan.

Saat itu watugunung menceritakan riwayat hidup pribadinya, terutama dengan luka yang ada dan berbekas dikepalanya.

Setelah selesai bercerita, betapa kagetnya sang Istri (Dewi Sinta) karena telah merasa berdosa dan berlaku tidak baik serta menodai kesucian alam. Dewi Sinta menjadi bingung dan berputus asa.

Perlakuan yang tidak baik dirasakan pula akibatnya oleh Dewata, sehingga Sorga bagaikan terguncang, alam semesta tidak menentu keadaannya.

Upayapun telah dicari oleh para Dewata untuk mengakhiri riwayat hidup si sakti Watugunung, yang berwatak keras, nafsu besar itu.

“Dewa Wisnu kemudian dimohon pula untuk memerangi, yang pada akhirnya Watugunung dapat ditundukkan namun tidak dibunuh,” imbuhnya.

Nah, perlakuan yang ditimpakan oleh para Dewa, menimbulkan nama-nama hari Padewasan berangkaian dengan Hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, yang jatuh pada wuku Watugunung

Diantaranya Pada hari Minggu/Redite Keliwon Watugunung disebut Hari Pamelas Tali, Hari Senin/Soma Umanis Watugunung disebut Hari Sandung/Candung Watang.

Hari Selasa/Anggara Pahing Watugunung disebut Hari Candung Pahidpahidan, Hari Rabu/Buda Pon Watugunung disebut Hari Urip

Kemudian Hari Kamis/Wraspati Wage Watugunung disebut Hari Panegdegan Hari Jumat/Sukra Keliwon Watugunung disebut Hari Pangredanan dan Hari Sabtu/Saniscara Umanis Watugunung disebut Hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati.

Dijelaskan Nyoman Ariyoga, apabila dihayati secara mendalam tentang munculnya tata urutan atau rangkaian hari-hari menjelang Saraswati nama-nama tersebut mengandung pengertian yang sangat pelik dan unik, yang perlu dikaji manfaat kegunaanya.

“Panghyangning Sang Hyang Aji Saraswati atau masuk secara tertuntunnya ilmu pengetahuan itu dapat diterima oleh pikiran kita, tidaklah mungkin bisa diperoleh, apabila dalam diri kita masih bergejolak dan berkobar-kobar dengan nafsu kemarahan,” jelasnya.

Nafsu atau keinginan yang lebih besar, bukanlah untuk dibunuh atau dimusnahkan, melainkan perlu dikendalikan, sehingga gejolak dan kobarannya menjadi seimbang menuju terang, teguh, dan kuat (Panegdegan, Pangredanan) sehingga dapat dipakai sebagai pendorong semangat belajar, agar ilmu pengetahuan itu cepat diterima dan dimiliki dalam kehidupannya.

Cerita Watugunung sarat akan makna bahwa mampu memerangi kebodohan adalah awal dari turunnya ilmu pengetahuan, segala ikata-ikatan kebodohan atau sifatsifat buruk watugunung harus dilepaskan.

“Bagaimana seharusnya memuliakan wanita sebagaimana mana layaknya memuliakan Ibu, Ibu adalah penyebab awal dari Penciptaan itu sendiri, karena wanita adalah aspek dari penciptaan,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#mitos #watunggunung #Hari Saraswati #sinta #ilmu pengetahuan #WUKU