Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mitos dalam Sejarah Pasek Toh Jiwa Wanagiri, Pohon Ketug-tug Simbol Prajurit

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 9 Februari 2025 | 00:13 WIB
PURA : Suasana Pura Pase Toh Jiwa Wanagiri, Desa Wanagiri, Kecamatan Selemadeg, Tabanan.
PURA : Suasana Pura Pase Toh Jiwa Wanagiri, Desa Wanagiri, Kecamatan Selemadeg, Tabanan.

BALIEXPRESS.ID -Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri, Desa Wanagiri, Kecamatan Selemadeg, Tabanan dipertahankan oleh masyarakat setempat berdasarkan teo-ekologi. Masyarakat mempertahankan teo-ekologi bertumpu pada teori religi yang dikolaborasikan dengan teori Deep Ecology.

Teori religi dalam hal ini bersumber dari teori-teori mengenai religi,animisme dan magis.Termasuk hakikat dari yang sakral, dan sebagai sistem kebudayaan.

Teori Deep Ecology (ekologi dalam) yang secara esensial menekankan tentang kesadaran dan kepedulian mendalam terhadap alam.

Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, sesuai hasil disertasinya menjelaskan teori tersebut penyebab pembertahanan teo-ekologi di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri didasari oleh alasan historis.

Selain itu juga karena Bhisama Pasek Wanagiri, alasan teologi, alasan mitologi, medis, Upakara, dan alasan ideologi lainnya.

 

”Alasan historis pembertahan teo-ekologi di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri bertumpu pada besarnya keterlibatan tumbuhan dalam narasi hostoris pura. Sejarah Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri menerangkan tentang besarnya peran tumbuhan yang salah satunya berasal dari pohon Ketug-tug,” paparnya.

Pohon Ketug-tug merupakan salah satu tanaman berbatang lunak yang tumbuh di lingkungan hutan hujan tropis pegunungan Batukau.

Tanaman ini sering dipergunakan dalam pelaksanaan upacara agama Hindu seperti Banten Negtegan dan Caru .

Disisi lain sering dipergunakan sebagai Rarontek Katugtug yang dipercaya dapat mengusir hama dalam kehidupan agraris masyarakat.

 

Khusus dalam narasi historis Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri, keberadaan pohon Katug-tug dikatakan sebagai cikal bakal terbentuknya Prajurit Pasek Wanagiri, yang berhasil memenangkan pertempuran melawan Men Lemod (seorang manusia sakti dan jahat).

Prajurit yang berasal dari pohon Katug-tug tersebut kemudian ikut kembali ke Wanagiri dan menetap sebagai warga Pasek Wanagiri.

Alasan historis lainnya adalah adanya konsistensi pelestarian alam dalam lintas peradaban pura.

Pembertahanan kealamian alam yang sebagai wujud fisik dari Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri dalam setiap peradaban, telah dijadikan habitus bersifat konservasi ekologis oleh Pangempon pura.

Habitus ini tidak saja tumbuh pada Pangempon, namun juga dilaksanakan oleh para pimpinan atau tokoh di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri.

Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi integrasi yang sangat kuat dari berbagai elemen untuk mempertahankan, sekaligus membudayakan kealamian alam sebagai hal pokok dalam eksistensi Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri.

“Maka dapat dikatakan bahwa unsur alam yang diterangkan dalam sejarah Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri mampu mengembangkan dan menggali pengetahuan masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan konkrit serta mandiri dalam menjaga kealamian alam itu sendiri,” terang Danu.

Kemudian terkait Bhisama Pasek Wanagiri turut menjadi aspek tekstual yang memperkuat alasan pemertahanan teo-ekologi di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri. Bhisama Pasek Wanagiri diposisikan sebagai Sabda suci dari leluhur yang didalamnya secara khusus memberikan aturan mengenai tempat suci warga Pasek Wanagiri.

Bhisama Pasek Wanagiri salah satunya menerangkan tentang eksistensi dirinya yang netral atau terbebas dari pengaruh tatanan budaya Jawa. Bhisama ini memberikan sebuah tanda bahwa leluhur Pasek Wanagiri yang saat ini menjadi Pangempon Pura Pasek Wanagiri memiliki loyalitas tinggi terhadap kemurnian budaya Bali atau budaya Bali Kuno.

 

Tidak tertutup kemungkinan bahwa salah satu aspek Bali Kuno yang wajib dipertahankan oleh warga Pasek Wanagiri adalah tentang tatanan tempat suci itu sendiri. Ciri khas tempat suci era Bali Kuno masih memiliki kemiripan dengan kepercayaan masyarakat prasejarah di Bali.

 

Alasan teologis mendominasi pembertahanan teo-ekologi di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri. Alasan teologi merupakan latar belakang berdasarkan keyakinan terhadap Tuhan, yang menjadi dasar pembertahanan teo-ekologi di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri.

 

“Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri diyakini memiliki korelasi erat dengan Bhatara Pucak Kedaton. Keyakinan ini secara langsung memberikan pemahaman bahwa Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri memiliki korelasi pula dengan Bhatara Tumuwuh (Tuhan penguasan tumbuh-tumbuhan) sebagai sentralisme teologis di Pucak Kedaton,” terang pemuda asli Penebel, Tabanan ini.

 

Disisi lain, berkesesuaian pula dengan manifestasi Tuhan yang utama di Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri sebagai Siwa Raja Gunung. Siwa sering dipandang sebagai Tuhan yang utama. Sementara itu, “raja gunung” diartikan sebagai penguasa hutan dan gunung serta isinya.

 

Sehingga, Siwa Raja Gunung dalam hal ini adalah kuasa Tuhan yang utama untuk melindungi unsur alam berupa hutan dan gunung (Giri) itu sendiri.

Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri juga berkorelasi dengan Bhatara Jatiluwih, Bhatara Sarinbhuana, yang secara bersama sebagai penguasa isi alam khususnya dalam sektor agraris. Pura ini juga memiliki aspek simbolistik yang menunjukkan konsepsiologi Purusa-Pradana sebagai sumber kehidupan seperti Bale Truna Kembar, Bale Agung Kembar, serta Penjor Truna-Penjor Desa.

 

Spirit animisme (kepercayaan terhadap roh yang bersemayam pada tumbuhan serta benda tertentu) dan dinamisme (kepercayaan terhadap roh nenek moyang) juga dipegang teguh oleh Pangempon Pura Pasek Toh Jiwa Wanagiri dalam mempertahankan konstruksi kealamian pura sebagai karakteritik utama tempat sucinya. 

 

Realitas ini memiliki kesejajaran dengan studi teologi lingkungan hidup yang memandang Tuhan adalah pencipta, pemelihara, dan penata kembali lingkungan dan menjadi kewajiban manusia untuk menghayati serta turut menjaga alam itu sendiri. *

 

Editor : Putu Agus Adegrantika
#wanagiri