Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Ngingkup Setelah Meajar-Ajar

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 9 Februari 2025 | 00:23 WIB
UPACARA : Penjelasan makna upacara ngingkup setelah meajar-ajar oleh Ida Pandita Mpu Nabe Siwananda Wiradharma Jaya Dangka.
UPACARA : Penjelasan makna upacara ngingkup setelah meajar-ajar oleh Ida Pandita Mpu Nabe Siwananda Wiradharma Jaya Dangka.

BALIEXPRESS.ID - Ida Pandita Mpu Nabe Siwananda Wiradharma Jaya Dangka, menjelaskan makna dari ngingkup setelah pelaksanaan meajar-ajar. Disebutkan secara tattwa, ngingkupn sama dengan ngunggahang ke Betara Hyang Guru.

 

“Dalam artian mengembalikan ke asal mula penjelmaan atman yang sempat menghuni badan manusia. Dapat diartikan moksa melalui upacara dan yang wajib melaksanakannya adalah pratisentananya atau keluarga pengarep,” papar Ida Pandita Mpu Nabe.

 

Disebutkan bahwa ini wajib dilaksanakan untuk membebaskan roh atau atman yang telah meninggalkan jasadnya. Kalau kalau dalam kapasitas besar dengan sarana yang lebih komprehensif ada lagi yang disebut nilapati.

 

“Makanya dalam tahap kedua saat ngingkup setelah menyatukan dengan sarana niyasa rantasan putih kuning. Dimana yang satu berasal dari penyatuan leluhur baik yang duluan diaben dengan yang baru diaben, atau disebut silih asih,” ujar Ida Pandita.

 

Diyakini panca amrtam, seperti air putih, brem, arak, toya bungkak gadang. Terakhir kelimanya dicampur plus sedikit susu. “Ini bermakna atman tidak berwarna, maka dikembalikan atau dibebaskan atman dari warna,” pungkas Ida Pandita.

 

Kesimpulannya, bahwa ini dikembalikan ke Sang Hyang Windu Tungga, Karena hanya angka nol "O" bisa menyatu dengan angka "O". “Inilah makna dari ngingkup atau nilapati mikro, karena dari pradana atau prakerti menyatu dengan Sang Hyang Tunggal,” tutup Ida Pandita. *

 

 

 

 

 

 

Editor : Putu Agus Adegrantika