BALIEXPRESS.ID – Dalam kehidupan ini ada empat tahapan kehidupan yang disebut Catur Asrama. Pertama terdapat Brahmacari Asrama, artinya suatu tingkatan atau tahapan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Hal itu diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu, Aris Widodo.
Dalam kitab manawa dharmasastra disebutkan bahwa umur untuk mulai belajar adalah semasa anak-anak yaitu dimulai dari umur 5 tahun dan selambat-lambatnya umur 8 tahun.
“Pada masa ini wajib menuntut ilmu pengetahuan untuk mempersiapkan diri menuju masa depan yang gemilang, taki takining sewaka guna widya. Artinya seorang siswa wajib menuntut mu samasa muda,” paparnya.
Kedua terdapat Grahasta, artinya suatu tingkatan atau tahapan hidup berumah tangga. Grhasta berasal dari dua kata grha dan stha. Grha artinya rumah, stha artinya berdiri atau membina. Jadi Grahasta artinya masa membina rumah tangga.
Pada masa grahasta tujuan hidup yang diprioritaskan adalah mendapatkan artha dan memenuhi kama. Adapun tujuan grhasta yang utama adalah mencari harta benda untuk dapat memenuhi hidup (kama) dengan berdasarkan dharma.
Kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang grhasta adalah bekerja mencari harta, menjadi pemimpin rumah tangga, menjadi anggota masyarakat yang baik, melanjutkan keturunan.
Ketiga ada Wanaprastha, artinya suatu tingkatan atau tahapan hidup manusia pada masa persiapan untuk melepaskan diri dari ikatan keduniawian.
Wanaprastha artinya mengasingkan diri ke dalam hutan dengan mendirikan pertapaan.
“Pada masa ini kewajiban sudah tidak ada lagi di dunia seperti anak-anaknya sudah pada berumah tangga.tujuan hidup pada masa grhastha adalah persiapan mental dan fisik untuk dapat menyatu dengan Hyang Widhi,” ungkap Aris Widodo.
Sedangkan keempat terdapat Bhiksuka atau Sanyasin. “Bhiksuka atau Sanyasin adalah tingkatan atau tahapan kehidupan telah lepas sama sekali dari segala ikatan keduniawian (Moksa) dan hanya mengabdikan diri kepada Hyang Widhi,” pungkasnya. *
Editor : Putu Agus Adegrantika