Uniknya, dalam pementasannya tidak mementaskan lakon, serta menari di halaman pura menghadap pelinggih saat sulinggih melaksungkan upacara. Tari Topeng Legong ini hanya ditarikan oleh dua orang perempuan yang belum remaja.
Pertunjukkan Tari Topeng Legong ini mempunyai kedudukan yang sama dengan sesajen khususnya dalam upacara Dewa Yadnya, sehingga Tari Topeng Legong ini sangat disakralkan dan disucikan oleh masyarakat yang ada di Desa Ketewel.
Pementasan Topeng Legong ini disebutkan dalam lontar “Purana Tatwa Pura Payogan Agung” disebutkan bahwa Hyang Pasupati turun dari gunung semeru dan di Bali menciptakan sebuah bangunan yang disebut dengan Pura Payogan Agung.
Bangunan tersebut terletak di dalam hutan “jerem”, yang kemudian sekarang disebut dengan Desa Ketewel. Upacara piodalan di Pura Payogan Agung jatuh pada hari budakliwon sinta/pagerwesi.
Baca Juga: Penindakan ETLE Dominasi Operasi Keselamatan Agung 2025 di Jembrana
Setiap selesai upacara tidak ada ilen-ilen atau tari-tarian, oleh karena itu beliau kembali ke gunung semeru untuk mengambil topeng bidadari yang berjumlah 9 buah.
Kemudian topeng bidadari tersebut di bawa ke Bali yaitu pada jaman kerajaan Samprangan.
Selanjutnya diceritakan seorang Ksatrya Dalem yang bernama I Dewa Agung Anom Karna yang berasal dari puri Sukawati, Beliau melakukan yoga semadi di pura Payogan Agung Ketewel kemudian terdengarlah suara Hyang Pasupati yang isinya agar beliau menciptakan sebuah tarian yang sesuai dengan karakter topeng yang telah ada yaitu Topeng Legong.
Jro Mangku Gede selaku pemangku di Pura Payogan Agung Desa Ketewel menjelaskan Tari Topeng Legong yang ada di pura Payogan Agung Desa Ketewel ini merupakan suatu tarian sakral yang bentuknya menyerupai tari legong pada umumnya namun menggunakan tapel/topeng pada saat menari.
“Tari ini sebagai tari Wali karena menurut kenyataan yang ada tari tersebut memiliki nilai-nilai sakral yang tidak boleh digunakan sebagai tari hiburan,” jelasnya.
Tari ini hanya dipentaskan pada saat upacara keagamaan yang berlangsung di Desa Ketewel Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar.
Nilai-nilai sakral yang terkandung dalam tariTopengLegong ini adalah sama kedudukannya dengan sesajen yang berguna sebagai sarana upacara, serta ditarikan oleh anak perempuan yang belum remaja.
Tariannya sangat sederhana dan lemah lembut karena merupakan persembahan untuk para Dewa/leluhur.
Sebelum menarikan tarian ini para penari berpuasa guna menyucikan diri dan pada malam hari para penari diupacarai supaya bersih.
Baca Juga: Konsisten Melayani UMKM, BRI Cetak Laba Rp60,64 Triliun
Dalam rangkaian piodalan para penarinya mengadakan latihan serta dilengkapi dengan sesajen agar pelaksanaan latihan tari tersebut terlaksana dengan selamat dan baik, serta dalam pementasan tari topeng legong tersebut berjalan dengan lancar dan tidak ada godaan.
Sebagai tari yang bersifat sakral, tari topeng legong merupakan salah satu bentuk seni yang harus mendapat perhatian besar dari masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu agar tari topeng legong yang ada di Desa Adat
Tari Topeng Legong di Pura Payogan Agung Desa Keyewel dipentaskan pada malam hari yaitu tepatnya pada malam penyimpenan piodalan di pura Payogan Agung yang jatuh pada hari raya pagerwesi atau buda kliwon sinta.
Pementasannya bertempat di areal pura yang telah disediakan. Pada pementasan tari Topeng Legong ini ada beberapa tahapan yang harus dilanjutkan terlebih dahulu.
Tahap pertama yaitu sebelum pementasan dilakukan upacara permohonan keselamatan dengan menghaturkan sesajen yang terdiri atas “peras ajengan, santun asoroh, rayunan putih kuning atanding, tetabuhan arak berem, cecepan, segehan lima tanding”.
Baca Juga: Viral! Detik-detik Sopir Pajero Tikam Kondektur Bus Damri di SPBU: Ternyata Ini Pemicunya
Kemudian setelah sesajen tersebut di haturkan, para penari kemudian melakukan persembahyangan memohon keselamatan pada saat menarikan tari Topeng Legong tersebut
Penari kemudian mengenakan topeng yang akan ditarikan dengan diiringi gambelan pengiringnya.
Adapun iringan yang mengiring tari Topeng Legong adalah gambelan semarpegulingan dengan tabuh yang disebut dengan Wali Subandar. Kemudian penari mulai menarikan tari Topeng Legong selama 1 putaran.
Setelah selasai menari pada putaran yang pertama kemudian para penari melepas topeng yang tadi digunakan pada saat menari kemudian menggantinya dengan topeng yang ditarikan berikutnya dengan tarian yang sama.
Tari Topeng Legong ini ditarikan 4 kali putaran dengan tarian yang sama dengan topeng yang berjumlah 9 buah di tarikan secara silih berganti.
Baca Juga: Truk Muat Baja Hantam Pohon di Pinggir Jalan, Kernet Tewas: Diduga Ini Penyebabnya
terakhir setelah tari Topeng Legong ini selesai ditarikan kemudian topeng yang telah digunakan pada saat menari diletakkan kembali pada kotak untuk diupacarai dan kemudian di bawa atau dalam istilah bali nya “di pundut” ke Gedong tempat penyimpanannya.
“Dan selanjutnya para penari kembali bersembahyang dan selanjutnya melepaskan kostumnya dan memakai pakaian adat sebagaimana mestinya,” tutupnya.
Masyarakat Ketewel masih sangat mempercayai bahwa tari Topeng Legong ini mampu memberikan perlindungan terhadap masyarakat Ketewel karena mempunyai kekuatan magis yang dianggap dapat melindungi masyarakat Ketewel dari bencana atau brebeh.
Dengan demikian Tari Topeng Legong ini memberikan sugesti yang sangat besar terhadap masyarakat Desa Ketewel sehingga sampai saat ini masyarakat masih tetap menjaga kesucian dan kesakralan dari Topeng Legong ini agar tetap terjaga kelestariannya (dik)
Editor : I Putu Mardika