Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Filosofis Ritual Pasupati, Menghidupkan daya Magis Benda, Agar Memiliki Jiwa

I Putu Mardika • Jumat, 14 Februari 2025 | 04:23 WIB

 

Prosesi mempasupati pusaka agar memiliki jiwa dan kekuatan
Prosesi mempasupati pusaka agar memiliki jiwa dan kekuatan
BALIEXPRESS.ID-Upacara Pasupati menjadi salah satu ritual yang sering dilaksanakan khususnya bagi umat Hindu di Bali.

Proses mapasupati umumnya dilakukan terhadap benda seperti pratima, prasasti, awig-awig, sesabukan, keris, pusaka, tombak dan sebagainya.

Pasupati diharapkan memberikan manfaat secara magis terhadap benda-benda yang disakralkan tersebut

Dosen Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan, Komang Heriyanti menjelaskan, pasupati secara etimologi berasal dari kata “pasu dan pati”.

Pasu artinya makhluk dan pati artinya raja, melindungi, menjaga. Sedangkan yang berkaitan dengan pasupati adalah disebut pasupata atau pemuja Siwa.

Ia mengatakan pasupati merupakan proses menghidupkan dan kemudian memohonkan kekuatan magis terhadap benda-benda tertentu yang disakralkan sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Hindu, khususnya di Bali.

Masyarakat percaya bahwa segala ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa mempunyai suatu kekuatan dan jiwa yang bisa dihidupkan melalui upacara, termasuk juga benda ciptaan manusia tersebut.

Baca Juga: Polisi Beber Kronologi Dua Perempuan di Bali Bisa Membunuh Seorang Pria dengan Penyiksaan Sadis Selama 13 Hari

“Apalagi dikaitkan dengan hal yang disakralkan, maka keyakinan umat sudah tertata dari mencari bahan untuk pratima, pembuatan benda tersebut, sampai proses upacara sudah mencari hari baik menurut tattwa yang berlaku,” ungkapnya.

Setiap tahapan dari mencari bahan hingga proses upacara Pasupati juga dibuatkan serentetan upacara.

Dikatakannya, upacara Pasupati mangandung makna memohon benda yang disakralkan itu berjiwa dan mempunyai kekuatan.

“Upacara Pasupati bertujuan untuk memberikan kekuatan magis agar benda itu bisa difungsikan dengan baik. Setelah pelaksanaan upacara Pasupati, benda yang sudah diupacarai ditempatkan pada suatu tempat yang khusus sebagai suatu wahana untuk memohon perlindungan,” jelasnya.

benda-benda yang diberikan upacara Pasupati dianggap sebagai benda yang memberikan manfaat bagi si pemilik, baik berupa perlindungan, kekuatan, dan sebagainya tergantung tujuan masing-masing individu atau masyarakat.

Setelah suatu benda selesai dipasupati, maka tentunya sebagai benda yang sudah dianggap memiliki jiwa, harus dilakukan perawatan atau disucikan dengan upakara.

Upakara yang dipersembahkan bukan dalam arti ditujukan untuk menyembah benda-benda tersebut, tetapi segala bentuk ritual ditujukan kepada Tuhan yang bersemayam di dalamnya 

Heri mengatakan, di Bali ritual Pasupati banyak dilaksanakan bertepatan pada datangnya upacara Tumpek Landep yang jatuh setiap 210 hari sekali tepatnya pada setiap hari Saniscara Kliwon Wuku Landep.

Baca Juga: Terungkap Motif Sadis Pembunuhan Seorang Pria oleh Tiga Perempuan di Bali: Puncak Pemicunya Tak Terduga

Hari raya ini sebagai simbol hari turunnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Pasupati yaitu Dewa yang berkuasa atas segala jenis senjata atau alat-alat yang terbuat dari logam.

Untuk itu maka pada hari raya Tumpek Landep ini, segala jenis senjata diupacarai dengan cara menghaturkan berbagai sarana upacara.

Semua tujuan upacara itu dihaturkan kepada manifestasi Tuhan Yang Maha Kuasa yang menguasai semua senjata atau peralatan seraya memohon kepada Sang Hyang Pasupati agar semua peralatan itu bertuah.

“Proses Pasupati bisa hanya dengan mengisi energi atau kekuatan Tuhan atau mensthanakan sumber kekuatan tertentu di dalam benda tertentu, tergantung kemampuan orang yang melakukan upacara Pasupati tersebut,” imbuhnya.

Benda-benda seperti pratima, arca, dan keris sudah diyakini menjadi benda sakral yang memiliki kekuatan di luar kesadaran manusia.

Baca Juga: SADIS! Usai Dianiaya, Seorang Gadis Digilir Lalu Dibuang ke Sungai: Diduga Pacar Korban Juga Terlibat

Nilai-nilai kesakralan tersebut muncul karena adanya kekuatan upacara Pasupati.

Upacara Pasupati menyebabkan semuanya berubah secara nyata.

Benda-benda yang dulunya mati atau tidak memiliki roh setelah diupacarai Pasupati menjadi benda-benda seperti keris, arca, patung maupun benda lainnya mempunyai roh/jiwa.

Benda ini diyakini mempunyai kekuatan dengan cara disakralkan oleh pemiliknya baik perorangan maupun kelompok masyarakat sebagai pendukungnya.

“Masyarakat yang menyungsung benda tersebut sangat meyakini bahwa benda tersebut memancarkan sinar suci yang mampu melindungi, mengayomi masyarakat dari wabah,” katanya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #pasupati #upacara #hindu #Tumpek Landep #logam