Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kitab Sarasamuscaya Sloka 60, Dharma Dalam Hidup

Putu Agus Adegrantika • Senin, 17 Februari 2025 | 14:25 WIB
AGAMA : Generasi muda Hindu tengah diberikan pemahaman agama.
AGAMA : Generasi muda Hindu tengah diberikan pemahaman agama.

BALIEXPRESS.ID – Dharma merupakan aspek kebenaran yang wajib diusahakan oleh setiap umat Hindu. Dharma menjadi simpulan dari seluruh aspek yang bersifat kebaikan.

Kebaikan tentunya perlu diusahakan oleh setiap insan Hindu, agar nantinya mampu berintegrasi menjadi keagungan nilai-nilai kebaikan sebagai wujud keutamaan dharma dalam kehidupan umat Hindu itu sendiri.

Banyak orang suci, penuntun agama, yang memberikan semangat kepada umat Hindu agar selalu setia dalam menjadikan dharma sebagai rona dan bunga semerbak dalam mengisi kehidupan ini.

Oleh sebab itu, sangat beralasan apabila seluruh pergerakan umat yang mengatasnamakan Hindu wajib diinternalisasi oleh dharma.

Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, menjelaskan upaya memahami dan menjalankan perbuatan dharma tentunya tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

Meskipun tujuannya berbuat dharma, namun dilakukan oleh tindakan nir-dharma, maka hal itu sama saja tergolong sebagai ketidakmurnian laku dharma.

“Permasalahan yang sering terjadi adalah banyaknya usaha memahami dan menerapkan perilaku dharma dengan balutan sifat rajasik. Hal ini disebabkan oleh belum mampunya umat manusia dalam mengendalikan sisi ego dalam dirinya,” paparnya.

Danu mengatakan ego yang tumbuh dalam usaha menerapkan dharma, cenderung melahirkan sisi otoriteristik ketika mencoba memahami terlebih lagi menjadikan dharma sebagai perilaku hidup.

Sifat rajasik seperti ini akan lebih banyak terlihat pada orang yang menjadikan jalan dharma sebagai pelarian semata.

Sifat rajasik yang cenderung muncul ketika melaksanakan dharma seperti terlalu diikat oleh ambisius.

Ambisius sering kali melahirkan sikap terburu-buru. Hasil dari semua itu akan bermuara pada kurang maksimalnya pemahaman dan realisasi sejati dari dharma dalam hidup umat Hindu.

Terkait dengan permasalahan tersebut maka Kitab Sarasamuccaya Sloka 60 memberikan perenungan mengenai upaya memahami dharma, yang dapat disimak melalui petikan berikut: 

 “Lawan ta waneh, atyanta ring gahana kĕta sang hyang dharma ngaranira, paramasūkṣma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndān pinet juga sira de sang paṇḍita, kĕlan upaśamā pagwan, kotsāhan”.

Terjemahannya, “Lagi pula dharma itu sangat dalam/tinggi dan amat rahasia. Tidak beda dengan jejak ikan di dalam air, namun diambil juga oleh sang pendeta dan diusahakan dengan tenang, sabar. dan keteguhan iman”.

Kitab Sarasamuscaya Sloka 60 di atas memberikan kunci memahami dharma. Secara sederhana terdapat tiga kunci dalam memahami dharma itu sendiri.

Pertama, mehamami dharma wajib dilakukan dengan ketenangan. Ketenangan diri pada nantinya akan melahirkan kejernihan berpikir.

Pola pikir yang jernih akan memberikan ruang bagi berkembangnya analisis dan wawasan luas, dua hal ini tentunya sangat diperlukan dalam mencari titik termurni dari sebuah kebenaran sebagai wujud keagungan dharma tersebut.

Oleh sebab itu, banyak yang menganalogikan ketenangan ini ibarat air danau.

Apabila air danau tidak tenang (bergelombang), maka dapat menimbulkan keruh dalam air.

Disisi lain, air yang tidak tenang akan membatasi pandangan seseorang ketika ingin melihat sesuatu di tengah kedalaman danau.

“Sebaliknya, apabila air danau ada dalam posisi tenang, maka kejernihan air akan terjamin. Air yang tenang memudahkan seseorang untuk memandang segala hal di kedalaman danau,” ujar Danu.

Tidak hanya itu, ketenangan air danau juga akan menambah keindahan baik di lingkungan sekitar danau, permukaan danau, begitu juga di dalam danau.

Begitu juga halnya dengan upaya memahami dharma, maka seseorang perlu menenangkan diri agar nantinya mampu menghayati nilai mendalam dharma termasuk menikmati keindahan hakiki dari dharma itu sendiri.

Kedua, manusia wajib sabar (ksawaman) dalam upaya memahami dharma. Usaha dalam memahami, terlebih lagi berusaha merealisasikan dharma sebagai perilaku cenderung mendapatkan berbagai tantangan.

Tantangannya ada yang berasal dari dalam diri, seperti rasa malas, bosan, ingin menempuh jalur nir-dharma penuh kenikmatan.

Tidak jarang ada pula tantangan yang berasal dari luar diri seperti ingin digagalkan oleh orang lain yang tidak ingin kita berhasil berbuat kebaikan.

Tantangan ini tidak hanya data dalam satu kali, namun selalu menghampiri dan menjadi godaan negatif sepanjang manusia mendedikasikan dirinya untuk memiliki perilaku dharma.

Oleh sebab itu, manusia perlu membudayakan sikap sabar dalam bergerak konsisten dan setia di jalan dharma.

“Ketiga, keteguhan tidak boleh lupa untuk dibangun dalam diri ketika berusaha memahami dan menjalankan laku dharma. Keteguhan sama artinya dengan ketangguhan. Setidaknya, latar belakang pentingnya keteguhan dalam memahami dan menjalankan laku dharma juga bertumpu pada banyaknya tantangan ketika manusia berusaha untuk menanamkan dharma dalam dirinya,” tegas Danu. *

 

Editor : Putu Agus Adegrantika