Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pande Wayan Suteja Neka, Sempat Menjadi Guru, Kini Tekuni Dunia Seni

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 18 Februari 2025 | 11:44 WIB

SENIMAN : Pande Suteja Neka.
SENIMAN : Pande Suteja Neka.

BALIEXPRESS.ID- Seniman patung dari Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, yaitu Pande Wayan Suteja Neka sempat tergabung dalam organisasi seni pertama di Bali. Yaitu kelompok Pita Maha pada tahun 1936 silam.

Selain pematung, Suteja Neka sapaan akrabnya memiliki hobi mengoleksi keris dan lukisan, sampai-sampai dirinya rela melepas statusnya menjadi seorang guru, demi kecintaannya pada dunia seni tersebut.

Saat ditemui beberapa waktu lalu, Pande Suteja Neka menuturkan tahun 1969 dirinya mengambil keputusan berhenti menjadi guru.

Padahal saat itu menjadi guru sangat diidam-idamkan banyak orang. Namun dalam hatinya harus memilih. Sehingga keputusannya untuk fokus terjun di dunia seni.

Setelah melepas status guru, dirinya mulai menjadi pemburu karya seni, atau yang disebut kolektor. Mulai lukisan, hingga keris-keris kerajaan yang ada di Bali hingga luar Bali.

Kerja kerasnya terus menunjukkan hasil, dengan dibukanya Galeri Neka pada 20 Oktober 1966 yang terletak di Jalan Raya Ubud.

Terlebih koleksinya kala itu, tak hanya pada karya seniman Bali, tapi juga karya seni lukis modern Indonesia non Bali.

Suteja Neka menambahkan, modal sebagai mantan guru dan seniman amat berguna dalam perkembangan usahanya tersebut. Sehingga niatnya untuk mendirikan museum seni sebagai daya tarik tersendiri.

Baginya galeri itu bukan art shop. Sebab galeri harus ada koleksi yang baik, ditambah kliping dan buku referensi untuk bandingannya.

Begitu juga dengan jual beli, bukan asal laku saja, jangan melihat karya seni dari komersilnya.

Dalam kesempatan itu, dirinya juga menceritakan perjalanan Museum Neka yang dia bangun. Dia mengaku sempat hampir putus asa, lantaran salah satu lukisan yang bertajuk sabungan ayam tidak mau dilepas sang seniman, apalagi menjual.

Lantaran pelukis yang dimaksud memiliki watak yang keras, serta anti dengan art shop untuk menaruh karya seninya.

 

Namun harapan datang ketika dirinya kedatangan wisatawan Belanda, yang ternyata seorang kolektor lukisan.

Dari pertemuan dengan turis itu, diketahui maksud sang turis yang ingin membeli lukisan milik Neka yang juga memang tidak dijual.

Saat itulah, sebagai konsekuensi, Neka bersedia memberikan koleksinya, asalkan bisa ditukar dengan lukisan sabungan ayam tersebut.

Itulah kemudian pelancong yang bernama Van Oranje itu, dia sebut menjadi semacam dewa penolong bagi Neka.

Lantaran berhasil mendapatkan lukisan sabungan ayam tersebut. Momen yang akhirnya mengantarkan Neka bisa mendapatkan karya seni yang telah dia incar bertahun-tahun.

Sehingga sampai saat ini museum lukisannya yang ada di Jalan Raya Ubud, menyimpan beberapa karya seni beberapa seniman terkenal di Bali.

Sedangkan museumnya yang ada di Jalan Raya Sanggingan, Ubud, khusus untuk mengoleksi keris bersejarah yang ada di Bali maupun luar Bali. *

 

 

 

 

Editor : Putu Agus Adegrantika