Ritual yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali, tepatnya pada Purnama Sasih Kedasa atau Bulan Sepuluh Penanggal Saka ini diperingati sebagai Bhatara Turun Kabeh atau turunnya dewa-dewi untuk menyucikan desa dari segala kekotoran.
Prajuru Desa Adat Sidatapa, Putu Nadia, 42 mengatakan briyang dimaknai sebagai tumpah atau keluar secara bersama-sama.
Sedangkan agung bermakna besar. Jika dilihat secara etimologis, maka Briyang Agung diartikan sebagai keluarnya masyarakat Sidatapa berbagai klen atau marga secara bersama-sama untuk melaksanakan penyucian atau ngereb pada catuspata atau pempatan jalan.
Dikatakan Nadia ritual yang dipusatkan di Pura Desa atau Bale Agung memang idealnya dilaksanakan saban tiga tahun sekali.
Ritual tidak boleh dilaksanakan kalau sudah masuk Tumpek Wariga (pengarah). Artinya hanya boleh dilsakanakan sebelum dan sesudah Uncal Balung.
“Kalau saat Sasih Kedasa ketemu Galungan, maka boleh dilaksanakan sebelum Tumpek Wariga atau sesudah Uncal Balung. Begitu juga kalau ada cuntaka prajuru adatnya, juga tidak boleh dilaksanakan. Maka harus tidak ada yang cuntaka,” jelasnya sembari menyebut jika tradisi ini terakhir kalinya dilaksanakan tahun 2010 silam.
Prosesi diawali dengan upacara mekiis kangin atau membersihkan Ida Bhatatara dan Pajenengan ke timur pada Tilem Kesanga ke Pantai labuhan Aji.
Selanjutnya, sebelum Purnama Kedasa dilakukan mekiis kauh atau membersihkan Ida Bhatara dan pajenengan ke Barat pada tempat kekedokan Pura Taman Kayu Mas.
Di tempat ini, prosesi upacara ritual dilakukan dari pagi sampai larut malam hari.
“Keesokan harinya ritual dilanjutkan dengan ritual ngewayonan yakni upacara menghaturkan perlengkapan busana seperti kain, udeng, pekir karena seluruh Ida Bhatara Kabeh tedun,” jelasnya.
Baca Juga: Rayakan Pesta Romantis Dengan Sunset Diatas Samudra Hindia di O’laya Magnifique
Acara terus dilanjutkan dengan memasang umbul-umbul poleng ageng pada balai Piyasan Timur dan umbul-umbul putih ageng pada balai Piyasan Barat.
Inilah sebuah simbol atau pertanda bahwa masyarakat desa Sidetapa siap melakukan upacara besar Briyang Agung.
“Jadi umbul-umbul besar ini baru boleh dipasang pada saat akan melaksanakan ritual Briyang Agung dan pada saat upacara biasa tidak boleh dipasang,” ungkapnya.
Yang menarik adalah prosesi ngeneng atau dikenal dengan sebutan istirahat. Karena pada hari tersebut masyarakat dan seluruh pemuka desa Sidetapa pergi ke hutan untuk berburu kijang.
Sarana tersebut nantinya akan digunakan sebagai sarana upacara ritual Briyang Agung.
“Kalau tidak dapat kijang dengan cara meboros, bisa juga dilaksanakan dengan membeli, karena itu sarana penting saat Briyang Agung,” bebernya.
Selain Kijang, krama juga harus mempersembahkan segala hasil bumi seperti isin alas atau isi hutan.
Sarana ini disimbolkan dengan buah-buahan sebagai hasil kebun, palawija sebagai hasil sawah, hasil ternak sebagai hasil peternakan seperti ayam atau babi dan isin segara (isi laut) yang disimbolkan dengan ikan asin teri.
Baca Juga: ICOHIS Keempat UHN Sugriwa Kembali Angkat Nilai-Nilai Kisah Ramayana
Tak hanya orang dewasa yang ikut ngayah. Sekehe Teruna mendapat tugas untuk menghias Pura Desa dengan janur dan ambu agar terlihat indah.
Mereka juga mempersiapkan bambu yang akan digunakan sebagai sarana membuat api pada saat pelaksanaan Briyang Agung.
Malamnya, dilanjutkan dengan melaksanakan pertunjukkan gamelan atau tetabuhan ngundang taksu.
Gamelan ini berupa dengan tabuh ngeleganti mebiasan yang dilakukan oleh para sekehe teruna desa Sidetapa.
Saat upacara Briyang Agung dilaksanakan, warga desa adat Sidetapa melakukan kewajibannya berupa menghaturkan nasi, kue bantal alem, kelapa, pisang serta Juru Saya menghaturkan kayu api, daun pisang, katikan, daun sirih, janur dan daun kelapa (selepan) serta lainnya.
Masyarakat mendapat tugas sebagai krama paebat ikut menjagal dan mengolah babi dan kijang yang telah tersedia untuk dijadikan sarana olahan berupa kawisan jejaton untuk melengkapi banten Bali Taksu.
Ritual ini digunakan pada saat ritual Briyang Agung.
Pada puncak acara dipusatkan di Pura Desa. Upacara di bencingah (dalam) dipimpin oleh Jero Balian Desa dengan sarana tegen-tegenan, banten berisi rujak ketewel, caru manca warna di bawahnya.
Untuk upacara di luar (jaba) dihaturkan banten tigang wakul, medaging keris nungkayak, beras acatu, jinah bolong telung benang tali beroso wastra, base makojong saha medaging toenan.
Masyarakat desa Sidetapa yang telah siap mengikuti ritual dengan sarana keris, tombak, pajenengan.
Prosesi dilakukan dengan mengiringi senjata pusaka berupa tombak milik desa yang sangat dikeramatkan yang bernama Ki Lebur Capung. (dik)
Editor : I Putu Mardika