Pementasan dimulai pada malam pertama diawali dengan sesolahan Sanghyang Sampat yang menyimbolkan pembersihan dan kesucian untuk melaksanakan rentetan sanghyang hingga berakhir di malam kesebelas.
Pemilihan waktu pelaksanaan sanghyang yang dilakukan pada Sasih Karo, diyakini pula dipilih dengan perhitungan yang cermat.
Baca Juga: Wakil Bupati Jembrana Hadiri Puncak Karya Ngenteg Linggih di Pura Setya Dharma Jati Banyuwangi
Purnama Karo dianggap sebagai purnama yang paling terang dibandingkan dengan purnama-purnama pada sasih lainnya.
Dikatakan Tokoh Adat Desa Lembongan, I Komang Erawan menyebutkan secara sekala, sanghyang sampat merupakan alat pembersihan.
Makna jauh kedalam dari ini, bagaimana kita membersihkan diri sendiri mulai dari pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Sedangkan secara niskala, sarana pemujaan yang digunakan dalam keadaan suci atau bersih.
Segala sesuatu mesti dibersihkan dengan tujuan meningkatkan atau menjaga nilai kegunaannya.
Baca Juga: Sang Hyang Grodog di Desa Adat Lembongan Ada 23 Tarian, Dilaksanakan di Catus Pata
Sebab secara fungsional sesolahan sanghyang grodog ini adalah untuk menyucikan Bhuana Alit dan Bhuwana Agung.
“Sanghyang grodog ini selalui diawali melalui proses penyucian. Selain bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan juga sebagai bentuk syukur kepada leluhur, dan raja terdahulu yang telah memberikan keturunannya sehingga masyarakatnya selamat, tanah yang subur dan makmur,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika