Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Jaja dalam Yadnya di Bali, Wajik Simbol Hasil Pekerjaan, Sirat bermakna sosial

I Putu Mardika • Sabtu, 1 Maret 2025 | 17:43 WIB

Dodol sebagai bagian dari sarana yang digunakan dalam ritual Hindu di Bali
Dodol sebagai bagian dari sarana yang digunakan dalam ritual Hindu di Bali
BALIEXPRESS.ID-Jajan senantiasa digunakan dalam berbagai ritual Hindu di Bali.

Selain jaja Gina, ada juga penggunaan sarana jaja lainnya, seperti dodol, satuh, hingga Jajan Sirat.

Jika dodol sebagai simbol kerja keras, maka jaja wajik adalah simbol dari hasil kerja keras.

Ini mengacu pada bentuk Jaja Wajik yang mebucu telu atau berbentuk segi tiga yang memiliki sudut.

Dikatakan Kepala Kantor Agama Kota Denpasar, Ida Bagus Ketut Rimbawan jika bucu dimaknai sebagai sebuah hasil dari jerih payah atau kerja keras.

“Seringkali nak tua (orang tua) berpesan agar megae pang mebucu (bekerja biar menghasilkan),” imbuhnya.

Dalam sarana upacara juga ditemukan jajan Sirat.

Secara maknawi, setelah menghasilkan, maka hasil jerih payah itu tidak hanya dinikmati untuk diri sendiri. Tetapi juga diajarkan untuk berbagi.

Baca Juga: Makna Filosfis Jaja dalam upacara Panca Yadnya, Buat Jaja Gina Perhatikan Etika, Satuh Bermaka Kerja Sepanjang Hayat

Kata siratang juga dimaknai seperti seroang pemangku memercikkan tirta kepada pemedek. Begitu juga siratang berarti berbagi atau membagikan.

“Sirat artina bagi-bagi dengan keluarga, tetangga, bangsa dan negara. Agar jerih payah kita bermanfaat untuk orang lain, apakah dalam bentuk dana punia ataupun  bentuk lainnya,” sebutnya.

Selanjutnya sarana jaja matahari yang dimaknai sebagai menyinari semua orang. Jaja matahari ini terbuat dari tepung beras, ditambah gula, lalu dicampurkan air, kemudian digoreng.

Jajan ini menyerupai seperti sinar matahari yang merekah dengan warna-warni mencolok.

Sedangkan makna jaja iwel atau sampani diartikan sebagai sampan atau perahu. Dalam Sarasamuccaya Sloka 14 menyebutkan:"Ikang dharma ngaranya, henuning mara ring svarga ika, kadi gatining parahu, an henuning banyaga nentasing tasik".

Baca Juga: Bank Emas Pegadaian Diluncurkan, Direktur Utama BRI Sebut Jadi Sumber Pertumbuhan Baru

Artinya: Yang disebut dharma, adalah merupakan jalan untuk pergi ke swarga, sebagai halnya perahu, sesungguhnya merupakan alat bagi pedagang untuk mengarungi lautan).

Jika mengacu pada sloka tersebut, bahwa bukan harta atau pun tahta yang bisa menyeberangkan kita dalam samudera kehidupan ini, melainkan dharmalah yang bisa kita gunakan untuk menyeberanginya.

“Nah Jaja iwel ini dimaknai sebagai sebuah sampan atau perahu untuk mengarungi lautan kehidupan dengan dharma, jadi jajan yang dibuat untuk sarana upacara panca yadnya bukan tanpa makna, namun sarat akan nilai filosofis,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #jaja #hindu #dodol #satuh