BALIEXPRESS.ID - Profesi upacara manusa yadnya tidak hanya saat seseorang tersebut sudah dewasa. Namun manusa yadnya tersebut sudah dilakukan sejak atman ada di dalam Rahim seorang ibu hingga sampai lahir. Salah satunya adalah upacara tigang sasih.
Penyuluh Agama Hindu, Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba, menjelaskan Upacara Tigang Sasih atau Nelu Bulanin memiliki makna sebagai penyambutan dari kehadiran atman di dunia.
“Upacara Nelu Bulanin merupakan upacara yang dilaksanakan sebagai perpisahan dengan empat saudara (darah, tali pusar, air ketuban, dan plasenta) yang mengikuti dan menolong si bayi pada saat ia dilahirkan,” paparnya.
Disebutkan bahwa perpisahan ini hanya melepaskan unsur negatif yang dibawa oleh ke empat saudara bayi itu. Tetapi unsur kejiwaan masih tetap dekat dan bisa membantu bayi itu sampai usia tuanya.
Ida Bagus Manuaba mengatakan tujuan dari upacara Tigang Sasih atau Nelu Bulanin adalah agar jiwa-atma si bayi benar – benar kembali pada raganya. Disamping itu sebagai pembersihan atau penyucian serta penegasan nama si bayi.
Dipercaya dari kelahirannya, bayi masih dalam keadaan kotor (cuntaka), sehingga perlu melaksanakan upacara Nelu Bulanin untuk penyucian karena panca indra yang sudah aktif itu berpengaruh pada kesucian atman yang menjiwai si bayi.
“Serangkaian dengan upacara ini biasanya dilakukan upacara turun tanah. Tujuannya adalah untuk memohon waranugraha ke hadapan Ibu Pertiwi bahwa si anak akan menginjakkan kakinya dan agar beliau melindungi serta mengasuhnya,” ungkap Gus Manu sapaan akrabnya.
Sebelum upacara tigang sasih digelar juga dilaksanakan upacara abulan pitung dina (awulan sapta hari). Seorang bayi atau dikenal dengan upacara Tutug kambuhan dan Macolongan.
“ Setelah si bayi berumur satu bulan tujuh hari (42 hari), diadakanlah upacara yang sering juga disebut upacara mecolongan,” imbuh Gus Manu.
Dalam upacara ini di samping pembersihan jiwa raga si bayi dari segala noda dan kotoran, juga bertujuan untuk mengembalikan ‘Nyama-Bajang” si bayi dan pembersihan si ibu agar dapat memasuki tempat-tempat suci seperti Merajan, Pura dan sebagainya. Kiranya perlu dikemukakan perbedaan antara “Catur-Sanak” dengan “Nyama-Bajang”.
Catur-Sanak, berarti saudara empat, yang dimaksud dalam hal ini adalah empat (4) unsur (benda beserta kekuatannya) yang dianggap sangat membantu pertumbuhan dan keselamatan si bayi sejak mula terciptanya didalam kandungan sampai dia lahir. Nama dari saudara empat ini akan berganti-ganti sesuai dengan pertumbuhan si bayi didalam kandungan dan setelah lahir, sehingga akan terdapat banyak nama untuk mereka.
Oleh karena Sang Catur-Sanak itu dianggap sangat berjasa, maka dianjurkan agar setiap orang tidak melupakan mereka baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka.
Saat bayi berumur 42 hari akan dilaksanakan upacara yang dinamai dengan upacara Tutug Kambuhan. Upacara Tutug Kambuhan ini bertujuan untuk pembersihan orang tua dan bayinya terhadap lingkungan luarnya.
“Karena sebelum berumur 42 hari orang tua si bayi terutama si Ibu dianggap masih kotor, sehingga tidak diperbolehkan untuk masuk ke tempat suci, oleh karena itu mesti dilaksanak upacara Tutug Kambuhan (42 hari),” tegasnya.
Upacara mecolongan atau Tutug Kambuhan dilakukan tempatnya di depan sanggah Kemulan dengan jenjang upacara Alit-Madya-Uttama yang mana semua tata cara/laku upacaranya sama.
Sang bayi dan ibunya di antar ke sanggah kemulan, sujud kehadapan Hyang Kawitan dengan terlebih dahulu melakukan penyucian badan (byakaonan) di depan mulut dapur (pagenian) bersama dengan ayam “colongan” yaitu ayam yang ditangkap dengan jalan mencuri tiga ekor, disimbulkan sebagai pangganti babu bajang si bayi.
Sehabis penyucian tersebut, dilanjutkan dengan sembahyang di sanggah kemulan manghadap banten caru acolongan. Berupa beras empat kulak, benang agulung, papaya atangkep, pisang dwang tandan, basan bwat, dupa, dammar (lampu), bunga anyar dan tahenan.
Gus Manu mengatakan banten kumara berupa beras empat kulak, sesari satak selae keteng, benang agulung, pisang atangkep, sedah who, dupa, dammar, sesari secukupnya.
Setelah disiapkan demikian, sang bayi bersama ibunya segera diberi tirtha penglukatan dan pebersihan selengkapnya, dipuja oleh Pandita dengan melakukan ngayab banten dapetan, penyeneng, jerimpen diwakul dan juga kurenan.
Bila dikehendaki lebih besar lagi ditambah dengan jejanganan, among dan babi guling dan itik guling dilengkapi dengan suara tetabuhan (gambelan).
Bilamana dikehendaki yang alit lagi hanya dengan caru bebajangan colong, karena dalam hal ini tiada lain adalah perihal panudaning babajangan namanya.
Pelaksanaan upacara Tutug Kambuhan di Bali mungkin tidak sama persis antara satu daerah dengan daerah lainnya, tetapi secara umum sama dan juga memiliki makna serta tujuan yang sama.
Dimana makna dari Upacara Tutug Kambuhan yaitu sebagai ucapan terima kasih kepada “Nyama Bajang” yang merupakan manifestasi kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa. *
Editor : Putu Agus Adegrantika