Tokoh Adat Desa Adat Ungasan, Ketut Margi menjelaskan munculnya Tari Sanghyang Jaran Gading berawal dari Pura Dalem Balangan di pesisir barat daya Desa Jimbaran tepatnya 10 km dari Desa Ungasan. Tari Sanghyang Jaran Gading juga disebut Sang Hyang Lelente atau Dewa Bagus.
Dari penuturan pendahulunya Ketut Margi menceritakan pada tahun 1930 Desa Ungasan mengalami musibah kekeringan atau terjadinya wabah penyakit yang melanda warga desa.
Setelah itu salah satu dari warga pengempon Pura Dalem Balangan yang tinggal di Desa Ungasan mendapatkan pawisik agar tangkil ke Pura Dalem Balangan.
Setelah sampainya di Pura Dalem Balangan warga Desa Ungasan mendapatkan titik terang bawasannya Bhatara Bhatari yang ada di Pura Dalem Balangan mempunyai pelinggih yang bernama I Ratu Bagus atau Sanghyang Lelente yang disebut juga Jaran Gading agar dituntun atau dilinggihkan di Pura Puseh Desa Ungasan pada tahun 1930.
Sesudahnya melinggih di Pura Puseh Desa Ungasan Tarian Sanghyang Jaran Gading tersebut mengalami pasang surut sampai pernah vakum selama sekian tahun. Umur dari Tari Sanghyang Jaran Gading ini sudah ratusan tahun,
“Kami tidak tahu sejak kapan awal Tari Sanghyang Jaran Gading ini didirikan maka direkonstruksi kembali sekitar tahun 1969 yang berstana di Pura Puseh Desa Ungasan,” ungkapnya.
Setiap pujawali di Pura Dalem Balangan tepatnya pada hari anggarkasih medangsia sesuhunan Ida Ratu Bagus atau Sanghyang Jaran Gading harus tangkil untuk meminta restu kepada Ida Bhatara Bhatari yang melinggih di Pura Dalem Balangan yang sekaligus Sanghyang Jaran Gading napak pertiwi atau dipentaskan.
Pada piodalan di Pura Puseh Desa Ungasan tepatnya pada Umanis Galungan yang diharuskan juga untuk tangkil tujuannya juga sama untuk meminta restu kepada Ida Bhatara Bhatari di Pura Puseh Desa Ungasan Tari Sanghyang Jaran Gading juga dipentaskan.
Ketut Margi juga menjelaskan jika ada warga Desa Ungasan atau diluar Desa yang memiliki masalah dalam kehidupan, maka mereka bisa naur sesangi.
Dalam istilah setempat, warga penyungsung yang naur sesangi disebut pemeras. Sesangi ialah sebuah janji yang pernah diucapkan sebagai sebuah permohonan. Jika terkabul maka janji tersebut wajib ditepati dengan cara “mayah/naur sesangi.
“Tarian ini sampai saat ini masih disakralkan dan ditempatkan di Pura Puseh Desa Ungasan untuk mengharmoniskan lingkungan di Desa Ungasan,” paparnya.
Pada saat sasih kesanga tepatnya pada hari pengerupukan Tari Sanghyang Jaran Gading dipentaskan untuk mengusir roh-roh jahat yang ada di sekeliling Desa Ungasan dan menimbulkan aura-aura positif di sekeliling Desa Ungasan.
Tari Sanghyang Jaran Gading memiliki 2 penari, yang satu menarikan keris dan yang satu menari seperti biasa dalam keadaan kerauhan. Penari yang di posisi kanan disebut Jaran Gading dan penari yang di posisi sebelah kiri disebut Penganggo
Pemilihan penari dalam Tari Sanghyang Jaran Gading melibatkan proses sakralisasi yang penting dan unik. Proses ini dimulai dengan ritual semadhi.
Selama ritual ini, para peserta yang mengalami kesurupan dianggap sebagai calon penari yang sah. Dalam kelompok tari ini, terdapat dua penari dewasa laki-laki, dengan peran yang dibagi antara Jaran Gading di posisi kanan dan Penganggo di posisi kiri.
Setelah penari terpilih melalui ritual semadhi, mereka menjalani upacara penyucian diri yang dikenal sebagai mewinten pragina.
“Upacara ini bertujuan untuk menyucikan para penari, yang dianggap sebagai langkah penting untuk mempersiapkan mereka secara spiritual,” katanya.
Mewinten pragina dilakukan untuk memastikan bahwa penari tidak hanya terpilih berdasarkan pengalaman spiritual tetapi juga disiapkan secara ritual untuk peran mereka dalam pertunjukan.
Keberadaan proses ini menunjukkan kedalaman spiritual dan keseriusan masyarakat dalam menjaga keaslian dan kekuatan upacara tari mereka.
Penyucian sebelum pementasan Tari Sanghyang Jaran Gading merupakan proses ritual penting untuk mengubah benda profan menjadi sakral.
Proses ini melibatkan beberapa tahap, dimulai dengan prosesi matur piuning di Pura Puseh Desa Ungasan, diikuti oleh netralisasi penari dengan banten prayascita untuk membersihkan diri.
Penari kemudian melakukan persembahyangan di Pura Puseh dengan menggunakan sarana bunga, dupa, dan arak-berem, memohon keselamatan di hadapan penyancangan sebelum pementasan.
Selanjutnya, tirta dipercikkan oleh jro mangku untuk memberikan energi positif, sementara sarana banten pejati ditempatkan di lokasi pementasan untuk menetralisir pengaruh negatif.
“Tahap berikutnya melibatkan penyediaan bara api oleh jro mangku, disertai dengan nyanyian kekidungan Sanghyang oleh para sekaa penyungsungnya,” imbuhnya.
Kidung ini harus terus dinyanyikan selama pementasan agar tidak terputus.
Keseluruhan proses penyucian bertujuan untuk menetralisir alam semesta dan masyarakat Desa Ungasan dari energi negatif, memastikan bahwa pementasan Tari Sanghyang Jaran Gading berlangsung dengan keberkahan dan kesucian
Proses penyamblehan adalah ritual memotong anak ayam hitam setelah pementasan Tari Sanghyang Jaran Gading, yang bertujuan untuk menetralisir kekuatan negatif.
Ritual ini melibatkan berbagai sarana seperti Banten Penyamblehan, Tipat sodan, Daksina, Canang, Segehan, dan anak ayam hitam.
Dalam upacara ini, rah (darah ayam) dipersembahkan kepada Sang Bhuta Kala untuk menghindari gangguan negatif dari para bhuta kala, yang dianggap sebagai bawahan Ida Bhatara.
“Pemenggalan kepala ayam ini merupakan upaya untuk menghindari hal-hal buruk atau negatif yang mungkin mempengaruhi masyarakat setempat,” tutupnya.
Prosesi nyambleh, yang telah dilaksanakan sejak zaman dahulu, dianggap penting untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat di Desa Ungasan. Ritual ini tetap dilakukan mengikuti aturan turun-temurun dengan harapan agar Tari Sanghyang Jaran Gading membawa kebaikan bagi masyarakat. (dik)
Editor : I Putu Mardika