BALIEXPRESS.ID - Di balik keheningan tempat suci Hindu Bali, Pura Dalem Mataram di Desa Kekeran, Mengwi, Badung, tersimpan kisah yang menghubungkan Bali dengan Kerajaan Mataram dan Majapahit di Jawa.
Legenda ini bermula dari kedatangan seorang utusan Majapahit yang konon membawa pengaruh besar hingga akhirnya meninggal di Pulau Dewata.
Jejak Raja Jawa dan Asal-Usul Nama Mataram
Nama "Mataram" yang disematkan pada pura ini memang bukan kebetulan. Jro Mangku I Made Teker, pemangku Pura Dalem Mataram, mengungkapkan bahwa dahulu ada seorang raja dari Jawa yang datang ke Kekeran bersama tiga pengikutnya.
"Konon, raja ini masih keturunan dari Ratu Mataram," tutur Jro Mangku.
Namun, kedatangan utusan tersebut berakhir tragis.
Sebulan setelah tiba di Bali, sang utusan yang bergelar Dalem Mataram meninggal dunia.
Berita ini sampai ke telinga Raja Majapahit, yang kemudian mengirim dua perempuan ke Bali dengan membawa perlengkapan ritual dalam kampil (karung).
Dari peristiwa ini, diputuskan untuk membangun pura sebagai penghormatan, menggunakan nama sang utusan: Pura Dalem Mataram.
Tugas Khusus Para Pengikut dan Struktur Pura yang Unik
Menariknya, tiga pengikut Dalem Mataram diberi tugas khusus. Satu menjadi undagi (arsitek pura), satu menjadi juru arah atau kelihan, dan satu lagi mengurus sawah (carik).
Hingga kini, pura ini diempon oleh 105 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di Kekeran dan Kecamatan Mengwi.
Pura Dalem Mataram mengusung konsep Dwi Mandala, berbeda dari kebanyakan pura di Bali yang menganut Tri Mandala.
Dua kawasan utamanya adalah Utamaning Mandala dan Nista Mandala. Di Utamaning Mandala, terdapat berbagai palinggih sakral seperti Palinggih Ulun Danuh, Ratu Made, Ratu Mas Ayu, dan Gedong Ida Ratu Bathara Sakti.
Palinggih Ratu Mas Ayu bahkan disebut sebagai pasimpangan Ida Ratu Dalem Ped, menambah nuansa mistis pura ini.
Tapakan Mistis dan Peran Pura Prajapati
Keunikan lain dari Pura Dalem Mataram adalah keberadaan tapakan sakral berupa Barong, Rangda Putih, dan Rarung Merah yang disimpan di dalam gedong.
Rencang (pengikut) dari tapakan ini adalah ular putih, simbol kekuatan spiritual dan penjaga energi pura.
Di luar Utamaning Mandala, berdiri Pura Prajapati yang dipimpin oleh Jro Mangku I Wayan Sendri, anak kandung Jro Mangku I Made Teker.
Ketika piodalan tiba, upakara digelar secara berurutan: mulai dari Pura Dalem Mataram, lalu berlanjut ke Pura Prajapati yang memiliki rencang unik berupa ular poleng.
Menjaga Keaslian Arsitektur Kuno
Meski banyak pura yang direnovasi, Jro Mangku Sendri menegaskan bahwa Pura Dalem Mataram akan selalu mempertahankan keasliannya.
Jika ada pemugaran, arsitektur kuno tetap dijaga agar warisan leluhur ini tak pudar seiring waktu.
Kisah Pura Dalem Mataram menjadi bukti hidup bagaimana sejarah, budaya, dan spiritualitas saling bertaut di Bali.
Sebuah destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur, tetapi juga menyimpan jejak masa lalu yang penuh misteri. Siapa sangka, di balik ketenangan pura ini, tersimpan legenda tentang utusan kerajaan yang abadi dalam ingatan masyarakat setempat? ***
Editor : I Putu Suyatra