Jro Dalang Putu Ardiyasa menjelaskan, dii Bali dikenal ada dua karakteristik wayang kulit berdasarkan wilayah asalnya yaitu wayang kulit Bali Utara dan wayang kulit Bali Selatan.
Yang dimaksud dengan Bali Utara adalah wilayah kabupaten Buleleng sementara Bali Selatan meliputi wilayah kabupaten Badung, Gianyar, Tabanan,Klungkung,Karangasem,Jembrana.
Secara umum penggambaran bentuk dari tokoh punakawan wayang kulit Bali pada di daerah Utara dan Selatan adalah sama.
Namun perbedaan yang signifikan antara wayang Bali utara dan Bali selatan terletak pada tampilan tokoh punakawan Tualen.
Penggambaran tokoh Tualen di Bali Utara memilki bentuk tubuh besar atau gemuk dengan warna kulit hitam, berkepala plontos; sedangkan penggambaran tokoh Tualen Bali Selatan juga hampir sama dengan penggambaran Bali Utara juga memiliki fisik besar atau gemuk, dengan kulit hitam.
Namun untuk bagian kepalanya tualen di Bali Selatan identik dengan memilki kuncir dan memakai ikat kepala.
Sedangkan Tualen di Bali Utara digambarkan dengan sosok yang gundul tanpa memiliki rambut atau jambot.
Baca Juga: Makna Melukat Wayang saat Upacara Bayi Tiga Bulanan, Dilukat Wayang Ismaya, Gunakan Tirta Sudhamala
Perbedaan penggambaran fisik tokoh tualen Bali Utara dan Bali Selatan mempunyai latar belakang atau riwayat tertentu. Mengingat di antara tokoh punakawan Tualen memiliki peran yang sangat vital.
Tokoh punakawan Tualen disimbolkan sebagai pengayom dari semua hal-hal yang sejalan dengan ajaran kebenaran (Dharma).
Dikatakan Jro Ardi, Wayang Punakawan Tualen berbentuk tubuh manusia biasa.
Untuk menambah kesan hidup pada wayang maka dibuatkanlah bentuk badannya dibuat terlihat dari tampak samping tangannya dilepas kemudian persendian lengan dan bahu diberi sengki tanduk (alat penyambung), demikian juga hubungan siku dengan lengan diberi sengki tanduk.
Kedua tangan yang dilepas dan dipasang dengan cara tersebut dimaksudkan agar tangan mudah digerakkan.
Sama seperti figur wayang kulit punakawan lainnya, rahang pada mulut wayang punakawan dilepas diberi sengki tanduk dan diuntai dengan pecuntil yang terbuat dari tanduk sapi yang berbentuk silinder.
Ukuran fisik wayang kulit punakawan Tualen Bali Utara secara umum memiliki ukuran relatif sama dengan ukuran Tualen Bali Selatan.
Tualen Bali Selatan dan Tualen Bali Utara sama-sama digambarkan sebagai orang tua yang berbadan besar dengan perut buncit, namun Tualen Bali selatan tampak agak lebih langsing dibandingkan dengan Tualen Bali Utara
Tualen Bali selatan memiliki hiasan atau ornament yang lebih banyak dibandingkan Tualen Bali Utara.
Hal ini dikarenakan Tualen Bali Selatan memilki bentuk kepala yang menggunakan penutup kepala (udeng) dan berisi kuncir sedangkkan Tualen Bali Utara memilki kepala yang Gundul polos tanpa hiasan yang hanya berisi hiasan pada telinganya
“Figur Tualen di Bali identik dengan warna hitam pada tubuhnya baik itu Tualen Bali Selatan maupun Tualen Bali Utara namun untuk warna hiasannya saja mungkin berbeda tergantung dari dari si pembuat wayang sesuai dengan kreasi masing masing,” jelasnya.
Disini diceritakan setelah Tualen diasingkan dari swargaloka, Sang Hyang Semar mengembara untuk menemukan tempat mengabdi dijalan kebenaran.
Di tengah pengembaran sang Hyang Semar Melihat ada seorang ibu dan anaknya yang sedang dalam bahaya karena akan diserang oleh seekor macan.
Ibu dan anak itu adalah Dewi Kunti dan anaknya Bima yang masih bayi.
Sang Hyang Semar kemudian menyelamatkan si Bima yang hampir dimangsa dengan cara membunuh macan tersebut.
Setelah kejadian tersebut datanglah Pandu ayah dari Bima dan mengucapkan terima kasih kepada Sang Hyang Semar.
Sang Hyang Semar diajak sang Pandu ke kerajaannya Yaitu kerajaan Astina, untuk tinggal di kerajaan tersebut.
Sang Hyang Semar juga dijanjikan oleh Pandu ababila saat hari otonan dari putranya Bima tiba maka Tualen pun akan dibuatkan upacara otonan pula dengan upacara Ngetep Jambot (potong rambut).
Lewat upacara tersebut nama Sang Hyang Semar diganti menjadi Tualen.
“Dan hingga saat ini tradisi ngetep jambot masih dilakukan oleh masyarakat Buleleng, ketika anak memasuki usia 3 bulan. Figur Tualen tidak memiliki rambut pada pada kepala dan sekujur tubuhnya,” jelasnya.
Lakon lahirnya dan upacara otonan Tualen tersebut kemudian dibawakan pada upacara otonan tiga bulanan. Pada upacara tiga bulanan biasanya berisi ngetep jambot (potong rambut) hanya ada di daerah Buleleng.
Secara mitologi Tualen Bali Utara saat masih bernama sang Hyang Ismaya, beliau terbakar oleh api dari Sang Hyang Siwa hingga sekujur tubuhnya hangus terbakar dan seluruh rambut di sekujur tubuhnya habis.
“Oleh karena itu Tualen Bali Utara memiliki penampilan hitam dengan kepala gundulnya, hingga menyebabkan tampilan Tualen Bali Utara berbeda dengan Tualen Bali Selatan,” imbuh Jro Dalang Putu Ardiyasa.
Tualen Megundul adalah kisah Bhatara Ismaya turun ke dunia, dan menghilangkan unsur kedewaannya. Tualen memotong rambut untuk pemahayu jagat, Tidak ada yang bisa memotong rambutnya kecuali Dewa Siwa.
Konsep megundul secara filosofis, tualen artinya melepas keduniawiaan, dan menahan nafsu indria.
“Tokoh Tualen dianggap sangat penting, karena selain sebagai ismaya, Tualen juga adalah perwujudan dari paramasiwa,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika