Jero Mangku Dalang Anom, Desa Adat Panjer menjelaskan, dua hari sebelum tradisi meburu dilaksanakan erat kaitannya dengan tawur kesanga.
Sebelum dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan upacara paruman di Pura Desa/Pura Bale Agung Desa Adat Panjer.
Tradisi sakral meburu dapat dipercaya untuk menetralisir pengaruh energi negatif dari bhuta kala melalui ritual nyomya bhuta kala agar menjadi kekuatan dan energi positif.
Rangkaian tradisi meburu diawali dengan membuat banten upacara, Ida Bhatara menuju paum/rapat di Pura Bale Agung, melasti, ngembang, meprani, tawur agung panca sata, pelaksanaan meburu, dan penyimpenan
Acara diawali dengan upacara pedatangenan sari di Pura Bale Agung, ngaturin kawas pemendakan, ngider bhuana/berputar di Bale Agung sebanyak tiga kali, ngeluarin.
Kemudian dilanjutkan dengan persembahan banten kawas pemendakan dan pementasan tari-tarian/pemendetan dengan tari rejang dan tari baris.
Upacara ngider bhuwana dan pedatengan sari menggunakan areal ruang di dalam Pura Bale Agung yang dipimpin langsung oleh pemangku Pura Bale Agung. Pedatengan adalah bagian dari upacara keagamaan bagi umat Hindu di Bali.
Pedatengan bersumber dari kitab suci Weda dan sastra-sastra yang ada di Bali.
Pedatengan diambil dari bahasa Kawi (Jawa Kuno) berati menjamu atau penyapa ida bhatara diiringi dengan tari pependetan untuk memohon wara nugraha/keselamatan.
“Setelah selesai acara tari-tarian atau pemendetan, pada sekitar pukul 17.30 Wita dilakukan upacara pengeluaran di Bale Agung. Tukang banten atau serati telah siap melaksanakan upacara meburu,” paparnya.
Pelaksanaan meburu dimulai para pemangku dan serati ngaturin kawas pemendakan dan ngider bhuana atau mengelilingi Bale Agung sebanyak tiga kali dengan diiringi musik tradisional, yaitu baleganjur.
Setelah itu, beberapa warga dan para sadeg (tapakan ida bhatara) mulai kesurupan (kerauhan) ada yang mengambil keris dan mengambil tombak (pengawin pajenengan Ida Bhatara Pura Tegal Penangsaran.
Beberapa sadeg mengalami kerahuan dan langsung berlari meburu menuju Pura Tegal Penangsaran.
Para pecalang Desa Adat Panjer beserta pihak kepolisian ikut mengamankan ritual meburu tersebut dengan berjaga di Pura Tegal Penangsaran.
Baca Juga: Bupati I Made Satria Tinjau Pasar Murah, Stabilkan Harga Bahan Pokok Jelang Nyepi dan Lebaran
Masyarakat yang tidak kesurupan (kerauhan) mengikuti iringan tersebut sampai di Pura Tegal Penangsaran.
Sesampainya di Pura Tegal Penangsaran dilaksanakan upacara mecaru dan nyambleh atau menyembelih dengan mengambil ruang jaba sisi Pura Tegal Penangsaran.
Dikatakan Jero Mangku Anom, upacara ini selalu ditradisikan karena masyarakat Panjer sangat percaya dengan adanya kekuatan magis dari Ratu Gede untuk melindunginya.
“Jero mangku nganteb caru dan melakukan pembersihan secara niskala (mereresik ngemargiang pebiokaonan, prayascita) dan lain-lain menghadap ke barat, sedangkan Ida Sesuhunan menghadap ke timur,” ungkapnya.
Setelah semua upacara mecaru selesai dilaksanakan penyamblehan bebek putih, ayam putih, dan babi kecil jantan/kucit butuan. Para sadeg patih yang kesurupan (kerauhan) sangat semangat dan semarak menyantap isi caru.
Keris pajenengan Ida Bhatara Pura Tegal Penangsaran digunakan untuk nyambleh kucit butuan. Saat warga kerauhan pada rangkaian meburu diiringi suara gamelan beleganjur yang bergemuruh
“Tradisi meburu merupakan pelaksanaan ajaran kuna dresta dari ajaran catur dresta (kuna dresta, sastra dresta, loka dresta, dan desa dresta). Meburu sebagai kuna dresta memiliki makna sakral dan magis,” imbuhnya.
Selain itu, tradisi meburu menciptakan keseimbangan bhuana agung dan bhuana alit. Artinya perlu dijaga agar dapat memberikan nilai kesejahteraan, keamanan, dan kenyamanan bagi masyarakat, baik sekarang maupun pada masa mendatang.
Dikatakan Jro Mangku Anom Pura Tegal Penangsaran merupakan pura yang diyakini sebagai suatu proses penghukuman dari mitologi Hindu dan sebagai tempat para atman.
Tegal Penangsaran berarti tempat yang linggah/luas tidak terjangkau sebagai tempat Sang Hyang Atma melakukan perjalanan sebelum menuju surga atau. Posisi melakukan nyomya menghadap ke barat/kauh.
“Nyomya bermakna mengusir dengan ngelarung caru. Tradisi sakral meburu diyakini oleh masyarakat dapat menetralisasi kekuatan bhuta dan disomya/netralisasi agar menjadi energi positif /kerahayuan jagat di Desa Adat Panjer,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika