Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M.Ag menjelaskan Upacara kematian menurut Teks Yama Purwana Tattwa menggunakan bermacam-macam bentuk bebanten atau sesajen.
Sesajen dibuat dengan mempergunakan sarana tertentu, antara lain bunga, buah-buahan, daun tertentu misalnya sirih serta makanan seperti nasi dan lauk pauk, jajan dan sebagainya, disamping sarana yang sangat penting lainnya seperti api dan air
Sarana banten yang digunakan dalam upacara kematian adalah Dyuskamaligi. Banten ini adalah satu soroh sesajen yang digunakan pada saat melaksanakan upacara ngaben. Menurut Teks Yama Purwana Tattwa, dyuskamaligi digunakan dalam pelaksanaan Upacara Pengabenan Swastha Gheni,
Teks Yama Purwana Tattwa menjelaskan, bagi orang yang memilih melaksanakan Upacara Pengabenan Swastha Gheni, setelah selesai pembakaran, abu tulang disirami air dan tirtha penyeeb.
Selanjutnya tulang-tulangnya dipungut, direka, digilas pada batu atau sasenden, setelah halus dimasukkan kedalam puspa lingga, setelah dipakaikan busana dihaturkan sesajen yang salah satunya adalah dyuskamaligi, selanjutnya dianyud ke laut.
Selanjutnya Banten panjang matah demikian pula panjang lebeng adalah merupakan sesajen yang penggunaannya khusus pada saat melaksanakan upacara pengabenan.
“Dalam melaksanakan upacara pengabenanpun tidak semuanya menggunakan banten panjang matah demikian juga panjang lebeng,” ungkapnya.
Teks Yama Purwana Tattwa menyuratkan, banten panjang matah demikian juga panjang lebeng akan dipergunakan jika memilih melaksanakan upacara pengabenan madhya, uttama serta upacara mati matanem.
Banten panjang matah demikian juga panjang lebeng merupakan sesajen yang dibawa sebagai bekal oleh atma perjalanannya dalam perjalanannya menuju sunia loka. Ketika lahir ke dunia manusia ditemani oleh memiliki 108 nyama bajang.
Dalam perjalanannya untuk kembali kepada Sang Pencipta satu persatu saudara-saudaranya itu datang menghampiri Sang Atma, selanjutnya diajak ngobrol.
“Sebagai ucapan terima kasih karena telah menemani dalam perjalanan maka kepadanya diberikan oleh-oleh sesuai dengan kesukaannya, yaitu isi banten panjang matah dan panjang lebeng tersebut,” imbuhnya.
Lebih lanjut Wayan Murniti mengatakan bahwa, makna banten panjang matah dan panjang lebeng dalam pelaksanaan upacara pengabenan adalah agar Sang Atma memperoleh keselamatan dalam perjalanannya menuju Sang Pencipta.
Sarana lainnya adalah Banten Pulagembal sering juga disebut Pragembal. Penggunaan banten Pulagembal dalam pelaksanaan upacara ngaben juga tidak setiap saat. Banten Pulagembal dipergunakan jika melaksanakan upacara pengabenan madhya, uttama serta upacara penguburan uttama.
Pulagembal berasal dari dua kata yaitu pula yang dalam kaitannya dengan pengertian ini diartikan Pulau. Sedangkan gembal berarti kecil, dengan demikian Pulagembal diartikan sebagai pulau yang kecil.
Banten Pulagembal ini terdiri dari dua bagian, bagian bawah disebut tatakan pulagembal, selanjutnya barulah diisi tandingan pulagembalnya. Di Bali bentuk jajan pulagembal antara satu daerah dengan daerah lainnya agak berbeda.
“Akan tetapi jika diperhatikan dari jaja/kue cacalan yang dipakai rata-rata melukiskan isi sebuah pulau yang layak ditempati manusia (pulau yang subur) seperti pengharapan manusia agar dapat mencapai kemakmuran dalam hidupnya,” katanya.
Selanjutnya sorohan pulagembal terdiri dari peras, soda, dapetan, pengiring, pengambeyan, pengapit, penyeneng, udel, kurenan, bulakan, pancoran, ungang, tagog, ancak, bingin, pengebek, dan buah jerimpen, selanjutnya dilengkapi dengan sebuah taman, tegteg, tempeh mesrombong, paso mesrombong, dan pepletikan.
Memperhatikan nama-nama kue cacalan yang digunakan dalam tetandingan pulagembal, demikian juga tatakan tetandingannya, maupun sorohan yang mengikutinya dapat digambarkan bahwa pulagembal merupakan lukisan atau minimalis sebuah pulau, yang layak ditempati oleh manusia sehingga dianggap layak untuk dipersembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi.
Sehingga pada saatnya nanti manusia melepaskan diri dari kenikmatan dunia, dalam hubungannya dengan upacara pengabenan diharapkan roh dapat melepaskan badan kasarnya dengan ikhlas sehingga perjalanannya ke sunia loka tidak terganggu.
Sarana selanjutnya dalam ritual kematian adalah Banten Bebangkit.
Banten sebuah banten yang terdiri dari tiga bagian yaitu: tadah pebangkit ireng (hitam), tadah pebangkit putih dan balen pebangkit yang bentuknya hampir sama dengan taman hanya saja tiangnya dapat dibuat dari bambu atau lainnya bahkan ada kalanya bertingkat seperti meru tergantung pada tingkatannya.
Pada balen pebangkit ditempeli beberapa jenis jajan sesamuhan. Baik bentuk, nama serta jumlah dari pada jajan-jajan tersebut agak berbeda-beda di beberapa tempat, tetapi selalu ada jajan yang disebut: bulan, matanai (matahari), marga (jalan), dan lawang (pintu), walaupun mungkin bentuknya ada yang berbeda-beda.
Keempat jajan tersebut ditempel pada keempat dinding dan balen pebangkit dan diletakkan sedemikian rupa sehingga bulan berlawanan arah dengan matahari, marga berlawanan arah dengan lawang
“Kalau diperhatikan dari bentuk, nama serta jumlah jajan cacalan yang dipergunakan demikian juga tetandingan serta sarana upakara lain yang menyertainya, bebangkit melambangkan alam semesta, yaitu wujud dunia sebagai makro kosmos,” katanya. (dik)
Editor : I Putu Mardika