BALIEXPRESS.ID - Di Desa Darmasaba, Kabupaten Badung, tersembunyi kisah unik dan penuh misteri tentang tempat suci Hindu Bali, Pura Ratu Mas Sedana.
Berbeda dari tempat suci Hindu Bali pada umumnya, pura ini berdiri megah di pekarangan rumah warga, tepatnya di kediaman I Wayan Sukarja yang sekaligus menjadi pemangku pura.
Mengapa pura ini berada di halaman rumah?
Menurut Jro Mangku Sukarja, dulu kawasan ini merupakan bagian dari Desa Peguyangan sebelum akhirnya masuk wilayah Desa Adat Tegal.
Seiring waktu, Pura Ratu Mas Sedana dibangun sebagai penanggu (pembatas) antara dua desa.
Uniknya, pura ini awalnya hanya berupa tirta bersinar yang dibawa dari Pura Dalem Desa Adat Tegal.
Namun, yang membuat pura ini semakin mistis adalah deretan kejadian gaib yang terus berulang.
Konon, saat seorang panglisir mandi di pancuran pura, ia mendapat pawisik (bisikan gaib) bahwa desa harus menggelar pacaruan.
Bahkan, banyak orang yang datang untuk nunas tamba (memohon kesembuhan) setelah mendapat pawisik lewat mimpi, dan ajaibnya mereka sembuh!
Tak hanya itu, Jro Mangku Sukarja juga bercerita tentang sosok penjaga gaib pura.
"Pernah ada orang cuntaka yang membuka mata air pura tiba-tiba dikejutkan oleh kemunculan ular berkepala dua. Anehnya, saat orang suci yang membuka, ular tersebut lenyap tanpa jejak," ungkapnya.
Yang lebih mengejutkan, ada warga yang bermimpi harus berdoa di pura ini jika ingin memiliki anak laki-laki.
Setelah mengikuti pawisik tersebut, mereka benar-benar dikaruniai keturunan!
Bahkan, ayah Jro Mangku Sukarja sendiri pernah sembuh dari penyakit misterius hanya dengan mengoleskan daun lidah buaya sesuai petunjuk mimpi.
Dengan hanya satu palinggih, yaitu Palinggih Ratu Mas Sedana, pura ini diyakini memiliki energi suci yang luar biasa.
Banyak umat yang datang untuk memohon keselamatan dan keberkahan, terutama saat piodalan di Buda Cemeng Warigadean.
Apakah semua ini kebetulan? Atau memang Ratu Mas Sedana benar-benar bersemayam dan melindungi wilayah ini?
Yang pasti, Pura Ratu Mas Sedana bukan sekadar tempat ibadah, melainkan titik pertemuan dunia nyata dan alam gaib yang penuh keajaiban. ***
Editor : I Putu Suyatra