BALIEXPRESS.ID - Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung, memiliki enggelar tradisi sakral Hindu Bali bernama Mejaga-jaga yang sarat akan aura mistis.
Tradisi Hindu Bali ini biasanya dilaksanakan pada Tilem Sasih Karo — atau maju sehari jika bertepatan dengan Pasah.
Tahun ini, tradisi Hindu Bali yang juga disebut Macaru itu kembali menarik perhatian warga lokal hingga pendatang dari luar desa.
Yang membuat ritual ini begitu unik adalah prosesi mengarak seekor sapi keliling desa, lengkap dengan syarat khusus.
Tidak boleh sembarang sapi dipilih — harus sempurna tanpa cacat, tidak bertanduk putih, lidah putih, atau bercak putih di dada.
Pemilihan sapi dilakukan oleh figur-figur sakral desa: Jro Mangku Catus Pata, Petajuh Pura Dalem, dan Mangku Pura Prajapati.
"Sejak awal, pemilihan sapi sudah dilakukan dengan mapriuning (permohonan petunjuk spiritual). Saat sapi tiba, langsung dibuatkan banten pamendak di jaba Pura Puseh," ungkap Tokoh Adat I Wayan Sulendra.
Prosesi Mengarak Sapi dan Ritual Penebasan
Tradisi dimulai sejak pagi, dengan memandikan sapi sebelum diarak ke Catus Pata — pusat desa.
Sapi diikat dengan tujuh tali tiing: empat di belakang, tiga di depan. Ritual pun dimulai. Sapi diarak ke utara, menuju batas desa dengan Desa Akah, lalu ditebas di pantat kiri menggunakan Blakas Sudamala, sebilah golok sakral.
Darah segar mengucur, dan sapi yang terluka terus diarak keliling desa, berhenti di setiap perbatasan untuk prosesi penebasan berikutnya:
-
Selatan (batas dengan Desa Adat Sangkanbuana): pantat kiri kembali ditebas.
-
Timur (batas dengan Desa Adat Besang Kangin): pantat kanan ditebas.
-
Barat (jaba Pura Prajapati): kaki belakang ditebas.
-
Catus Pata (pusat desa): kaki yang lain dan lambung ditebas.
Semakin keras tabuh baleganjur mengiringi arakan, semakin semangat warga berteriak dan berlari membawa sapi yang kian lemas.
Warga yang kepanasan disiram air, sementara prosesi tetap berjalan hingga selesai.
Darah Sapi Jadi Rebutan, Diyakini Punya Kekuatan Penyembuh
Setelah ritual selesai, sapi disembelih dan diolah menjadi caru (persembahan).
Namun yang mengejutkan, darah sapi yang berceceran justru jadi rebutan warga. Banyak yang mengoleskan darah ke wajah atau tubuh mereka, karena dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.
"Banyak yang datang dari luar desa, bahkan ada yang dari Lombok sengaja datang untuk nunas darah ini. Mereka percaya ini obat dari alam," ujar Sulendra.
Makna Sakral: Menjaga Desa dari Bahaya Sekala-Niskala
Menurut kepercayaan warga, tradisi ini bukan sekadar ritual.
Mejaga-jaga adalah bentuk caru agung untuk menetralisir desa dari ancaman sekala dan niskala — baik bahaya yang tampak maupun tak kasat mata. Oleh karena itu, tradisi ini wajib dilaksanakan demi menjaga keharmonisan desa.
"Ini warisan leluhur yang harus dilestarikan. Bukan sekadar tradisi, tapi bentuk perlindungan untuk desa kami," pungkas I Wayan Sulendra.
Tradisi ini menjadi bukti betapa kuatnya hubungan spiritual masyarakat Bali dengan alam dan leluhur mereka. Sebuah ritual yang tidak hanya memancarkan aura mistis, tapi juga mengundang rasa penasaran siapa pun yang menyaksikannya. ***
Editor : I Putu Suyatra