Pembuatan Upakara, Didasari Tulus Ikhlas dan Kebersamaan
Putu Agus Adegrantika• Jumat, 14 Maret 2025 | 14:26 WIB
UPAKARA : Proses pembuatan upakara untuk digunakan pada hari suci Purnama Kasanga oleh Pokjaluh Kemenag Gianyar.
BALIEXPRESS.ID - Pelaksanaan sebuah upacara atau yadnya oleh umat Hindu tentu menggunakan sarana upakara.
Dalam proses pembuatannya tentu jika sarana upakaranya banyak tidak bisa diselesaikan dengan satu orang, dan berdasarkan ketulusan dalam pembuatannya.
Penyuluh Agama Hindu, Kemenag Kabupaten Gianyar, Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba, memaparkan sudah sepatutnya pembuatan upakara berdasarkan hati yang tulus.
Lebih lengkapnya lagi dikerjakan bersama-sama dengan riang gembira, untuk membuat setiap langkah bahan upakara lebih suci.
Tidak kalah penting dalam bahan yang digunakan adalah sukla. “Sukla merujuk pada cahaya, atau putih, yang memiliki makna simbolis dalam banyak aspek spiritual dan ritus keagamaan. Sukla biasanya dikaitkan dengan kebaikan, kemurnian, dan pencerahan,” papar Gus Manu sapaan akrabnya.
Selain itu, dalam berbagai upacara keagamaan Hindu, warna putih (sukla) sering kali dianggap sebagai simbol kesucian dan kemurnian, yang menggambarkan kedamaian dan kebersihan jiwa. “Maka ini penting dalam pembuatan upakara diterapkan menghadirkan vibrasi kedamaian,” imbuhnya.
Sementara Banten Upakara adalah persembahan atau sesajen yang digunakan dalam upacara keagamaan Hindu, khususnya di Bali.
Kata "banten" sendiri berasal dari bahasa Bali yang berarti persembahan, sedangkan "upakara" berarti sesuatu yang disediakan atau diberikan untuk suatu tujuan tertentu, terutama dalam konteks upacara agama.
Banten Upakara memiliki tujuan utama untuk menghormati para dewa, roh leluhur, serta entitas spiritual lainnya.
Persembahan ini biasanya berisi berbagai macam bahan seperti bunga, buah, nasi, air, dan dupa, yang disusun dengan sangat rapi dan indah.
Setiap elemen dalam banten memiliki makna simbolis tertentu, tergantung pada jenis upacara dan waktu pelaksanaannya.
“Proses pembuatan banten dalam tradisi Hindu, khususnya di Bali, melibatkan langkah-langkah yang sangat hati-hati dan penuh makna. Banten tidak hanya sekedar persembahan, tetapi juga merupakan wujud dari rasa syukur, penghormatan, dan permohonan kepada Tuhan dan para dewa,” tegas Gus Manu.
Sehingga seluruh proses pembuatan banten ini memiliki makna yang sangat mendalam. Setiap bahan, cara penyusunan, dan waktu pelaksanaan melambangkan penghormatan kepada Tuhan, dewa-dewi, roh leluhur, serta alam semesta secara keseluruhan. Dalam setiap langkah, ada rasa kesucian, kebersihan hati, dan niat yang tulus dalam menjalani upacara. *