Kisah Mistis di Balik Tempat Suci Hindu Bali Pura Pasucian Pancoran Dalang: Suara Gaib, Wong Samar, dan Ritual Mistis di Desa Kekeran
I Putu Suyatra• Sabtu, 15 Maret 2025 | 00:45 WIB
Tempt suci Hindu Bali, Pura Pasucian Pancoran Dalang di Desa Adat Kekeran, Mengwi, Kabupaten Badung
BALIEXPRESS.ID - Layaknya tempat suci Hindu Bali di tempat lain, Desa Kekeran, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, menyimpan banyak cerita mistis yang mengundang rasa penasaran. Salah satunya adalah keberadaan Pura Pasucian Pancoran Dalang, yang dulunya dikenal sebagai Pura Beji.
Di balik keasrian pura yang dikelilingi hutan lebat dan sungai jernih, tersimpan kisah-kisah luar biasa yang sulit dijelaskan dengan logika.
Perjalanan Menuju Pura: 99 Anak Tangga Menuju Keheningan
Sejak tahun 2003, akses menuju pura ini telah diperbaiki hingga tiga kali karena medan yang sulit dilalui.
Jro Mangku I Wayan Sana mengisahkan, perjalanan ke pura dimulai dari gang kecil, melewati sawah hijau, hingga akhirnya tiba di tangga turun yang berjumlah 99 anak tangga.
Sepanjang jalan, hanya suara aliran air dan gemerisik daun yang terdengar, menciptakan suasana sakral nan magis.
Gerbang Gaib dan Eksistensi Wong Samar
Sesampainya di pura, pengunjung akan disambut tiga apit surang (gapura) yang masih berdiri kokoh.
Namun, menurut Mangku Sana, keberadaan wong samar (makhluk tak kasat mata) menjadi bagian tak terpisahkan dari pura ini.
Beberapa pamedek sering mendengar suara sorak-sorai tanpa sumber yang jelas, terutama saat Kajeng Kliwon.
Kisah yang paling menggemparkan adalah ketika Mangku Sana sendiri pernah ditemani sosok yang menyerupai anaknya saat bersembahyang.
Sesampainya di pura, anaknya yang asli baru tiba dari rumah — membuat Mangku sadar bahwa sosok sebelumnya adalah wong samar yang menyamar!
Kutukan Pemancing dan Pengunjung yang Tersesat
Tak hanya itu, seorang pemancing yang nekat melewati pura tanpa berdoa mengaku selalu merasa "dipanggil" kembali ke sungai, seolah ada kekuatan yang mengikatnya.
Sementara itu, ada pula pengunjung yang tersesat berjam-jam setelah langsung masuk tanpa menghaturkan sembah. Baru setelah berdoa, ia bisa menemukan jalan keluar.
Ritual Sakral dan Trance di Piodalan
Sebagai pura pasucian, tempat ini menjadi lokasi malukat (penyucian diri) dengan sarana banten prasdaksina dan palukatan.
Namun, keunikan lain terjadi saat piodalan — pamedek yang karauhan (trance) kerap bergerak meliuk seperti ikan julit, lalu menusukkan keris ke dada sendiri tanpa terluka.
Konon, ada "duwe" berupa ikan julit dan ular yang diyakini menjaga kesucian pura. Wanita hamil dilarang datang karena diyakini dapat mengalami keguguran jika tak menghaturkan banten khusus.
Bahkan, anak-anak yang baru pertama kali sembahyang harus dibuatkan banten prasdaksina demi keselamatan mereka.
Pura yang Memikat Wisatawan Asing
Meski menyimpan aura mistis, Pura Pasucian Pancoran Dalang tetap menjadi tujuan wisata spiritual, bahkan dikunjungi wisatawan mancanegara yang ingin merasakan ritual malukat.
Keindahan arsitektur kuno yang diselimuti lumut, telaga berisi ikan, hingga keberadaan Candi Sang Hyang Tunggal yang menjulang tinggi, menambah daya tarik pura ini.
Bagi siapa saja yang berani menginjakkan kaki ke sini, satu pesan dari Mangku Sana.
"Selalu permisi dan berdoa sebelum masuk pura. Hormati yang tak kasat mata, maka Anda akan selamat," pesannya. ***