Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Upacara Otonan bagi Umat Hindu Bali: Ritual Sakral Penebus Dosa Bayi yang Sarat Makna

I Putu Suyatra • Sabtu, 15 Maret 2025 | 13:31 WIB

OTONAN : Prosesi otonan yang dilaksanakan oleh umat Hindu.
OTONAN : Prosesi otonan yang dilaksanakan oleh umat Hindu.

BALIEXPRESS.ID - Di tengah derasnya arus modernitas, tradisi Otonan tetap kokoh dijalankan sebagai ritual penting dalam siklus kehidupan masyarakat Hindu Bali.

Saat seorang bayi menginjak usia 210 hari atau enam bulan pawukon, upacara ini digelar untuk menyucikan dan mengantarkannya menuju kehidupan yang lebih baik.

Mengapa Otonan Begitu Penting?

Menurut Jero Mangku Dalem Rsi dari Griya Gede Tegallingah, Ida Bagus Nyoman Madya, Otonan bukan sekadar seremoni.

Upacara ini diyakini mampu menebus kesalahan di kehidupan lampau, membuka pintu kebaikan, dan mengharmoniskan hubungan bayi dengan alam semesta.

"Setiap hari ada umat yang melangsungkan berbagai upacara di Griya Wayahan Buruan Manuaba, seperti Macolongan, Tiga Bulanan, Otonan, hingga Matatah," ujar Jero Mangku.

Proses Magis Menghapus Dasa Mala

Puncak ritual Otonan adalah prosesi Mapetik atau Magunting Bok, di mana rambut bayi dipotong sebagai simbol pembersihan diri dari Dasa Mala — sepuluh sifat buruk manusia, seperti malas (Tandri), sombong (Kulina), hingga sifat kejam (Megata).

Rambut yang dipotong kemudian diletakkan dalam blayag dan ditanam bersama ari-ari bayi, sebagai simbol pelepasan kekotoran lahiriah dan batiniah.

Prosesi Sakral yang Sarat Makna

Upacara dimulai dengan Mabiyakaonan, dilanjutkan Mapetik, Majaya-jaya, muspa (sembahyang), hingga matataban.

Dalam proses Majaya-jaya, bayi disucikan dengan tirta panglukatan, lalu diberikan beras suci di sembilan titik tubuh sebagai simbol perlindungan spiritual.

"Setelah semua prosesi selesai, bayi dipakaikan gelang benang putih sebagai tanda kesucian," tambahnya.

Tradisi yang Merangkul Semua Kalangan

Sejak tahun 1980-an, Griya Wayahan Buruan Manuaba menjadi tempat umat melangsungkan Manusa Yadnya, termasuk Otonan.

Uniknya, biaya upacara disesuaikan kemampuan umat, menghindari beban finansial yang kerap membayangi pelaksanaan ritual.

"Yadnya itu soal ketulusan, bukan besar kecilnya banten," tegas Jero Mangku. Ia berharap umat tidak terbebani utang hanya demi menggelar upacara, karena esensi sejati ada pada niat suci yang tulus.

Harapan dan Doa untuk Generasi Penerus

I Dewa Gede Rastana, salah satu orang tua yang menggelar Otonan untuk putranya, mengungkapkan harapan mendalam.

"Kami ingin anak kami sehat, selamat, dan tumbuh menjadi manusia yang suputra — berbakti pada leluhur dan sesama."

Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Ritual Otonan menjadi pengingat bahwa meski zaman terus berubah, akar tradisi dan spiritualitas tetap menjadi fondasi kuat dalam membentuk karakter generasi masa depan.

Dengan melestarikan warisan ini, umat Hindu Bali tidak hanya menjaga hubungan harmonis dengan leluhur, tetapi juga mempererat ikatan sosial antaranggota masyarakat. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#ritual #Otonan #hindu bali #tradisi