Mengungkap Tradisi Unik Hindu Bali Soroh Pulosari: Memandikan Jenazah di Sanggah Kamulan, Mengapa Harus di Area Suci?
I Putu Suyatra• Sabtu, 15 Maret 2025 | 14:37 WIB
Salah satu sanggah kemulan Soroh Pulosari
BALIEXPRESS.ID - Dalam tradisi Hindu Bali, prosesi memandikan jenazah biasanya dilakukan di halaman rumah. Namun, ada yang berbeda dengan soroh Pulosari: mereka melakukannya di depan Sanggah Kamulan, area suci tempat pemujaan leluhur. Apa yang melatarbelakangi tradisi langka ini?
Jejak Sejarah dalam Kitab Catur Bumi
Menurut Jro Mangku Ketut Parka (69), tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan tertuang dalam kitab Catur Bumi.
Ada kalimat yang menyatakan:
Yening wenten I Pulosari ritatkala kelayuan sekar wenang ngarepan ring ajeng Sanggah Kamulan ritatkala nyiraman layon.
Artinya, jika ada warga soroh Pulosari yang meninggal, jenazahnya wajib dimandikan di depan Sanggah Kamulan. PHDI pernah mengkaji tradisi ini, tetapi setelah memahami makna teks suci tersebut, tradisi ini dipertahankan hingga kini.
Makna Spiritual di Balik Prosesi Memandikan Jenazah
Proses memandikan jenazah di Sanggah Kamulan memiliki makna mendalam.
Sebelum ke area suci, jenazah terlebih dahulu dimandikan di bale adat rumah sebagai simbol pembersihan fisik.
Sementara prosesi di Sanggah Kamulan melambangkan pembersihan secara rohani, selaras dengan konsep Utpatti, Sthiti, Pralina (lahir, hidup, mati).
“Saat lahir, ada upacara tutug kambuhan di Sanggah Kamulan. Saat hidup, ada otonan dan ritual lainnya di sana. Maka, ketika meninggal, upacaranya pun dilakukan di Sanggah Kamulan,” jelas Jro Mangku Parka.
Sarana Unik: Daun Pisang Kaikik Berisi Rerajahan
Dalam prosesi ini, selain menggunakan kasa dan tikar, soroh Pulosari juga memakai daun pisang Kaikik sebagai alas jenazah.
Daun ini dipotong sepanjang 30 cm, diletakkan di dada jenazah, dan diberi rerajahan. Daun yang sudah dirajah nantinya ikut dimasukkan ke dalam peti.
Tidak Semua Jenazah Bisa Dimandikan di Sanggah Kamulan
Tradisi ini juga memiliki syarat khusus. Anak-anak yang belum ketus gigi (gigi susu belum tanggal) tidak dimandikan di Sanggah Kamulan, melainkan hanya di halaman rumah tanpa prosesi lengkap.
Konsekuensi Menghentikan Tradisi
Pernah ada kejadian di salah satu desa, enam kepala keluarga (KK) sempat meninggalkan tradisi ini karena dilarang memandikan jenazah di Sanggah Kamulan.
Tragisnya, satu per satu anggota keluarga meninggal hingga hanya tersisa satu KK. Peristiwa ini membuat warga kembali melestarikan tradisi leluhur mereka.
Pantangan dan Masa Cuntaka yang Singkat
Sebagai keturunan Dalem Tarukan, warga soroh Pulosari memiliki pantangan unik: mereka tidak mengonsumsi telur dan daging burung puyuh, jagung nasi, buah pisang Kaikik, serta tidak menanam beras hitam (injin).
Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka.
Masa cuntaka (kotor secara rohani) setelah kematian juga berbeda. Biasanya hanya berlangsung 1-7 hari, bahkan bisa dipersingkat dengan upacara Makekelud, terutama jika ada keperluan mendesak seperti pernikahan keluarga. ***