Tempat Suci Hindu Bali Unik, Pura Penyambutan Pengacangan di Buleleng: Tanpa Piodalan, Hanya untuk Memanggil Roh?
I Putu Suyatra• Minggu, 16 Maret 2025 | 00:43 WIB
Pura Penyambutan Pengacangan di Buleleng, Bali.
BALIEXPRESS.ID - Di balik keindahan pesisir Buleleng, tersembunyi sebuah tempat suci Hindu Bali unik yang nyaris tak tersentuh perubahan zaman. Namanya Pura Penyambutan Pengacangan.
Pura Penyambutan Pengacangan di Desa Penuktukan, Buleleng, bukan sekadar tempat suci Hindu Bali biasa.
Berbeda dari pura lainnya, di sini tidak pernah ada piodalan, bahkan bangunannya pun tergolong aneh—hanya berupa tumpukan batu yang disebut Taulan oleh warga setempat.
Pura yang terletak di Banjar Batu Lumbang ini memiliki fungsi yang sangat spesifik, yakni sebagai tempat Ngulapin, atau prosesi memanggil roh setelah upacara Matuun—sebuah ritual yang dilakukan setelah seseorang meninggal dan telah dikuburkan setidaknya satu tahun.
Setelah prosesi ini, upacara Mamarek akan menyusul dalam rentang waktu 12 hari.
Menurut Tokoh Banjar Adat Penuktukan, Jero Penyarikan Nyoman Adnyana, Pura Penyambutan Pengacangan bukan tempat pemujaan seperti pura lainnya, melainkan warisan leluhur yang masih dijaga kesuciannya.
Tidak ada bangunan megah atau palinggih, hanya susunan batu yang dipercaya sebagai peninggalan sakral.
Prosesi Mistis: Ayam Diterbangkan Sebagai Penebus Roh
Salah satu tradisi paling unik di pura ini adalah ritual Nyambutin roh, yang melibatkan penggunaan media yang disebut Jemek.
Dalam prosesi ini, seekor ayam akan dilepaskan dan diterbangkan sesuai jenis kelamin roh yang dipanggil, sebagai bentuk penebusan.
Prosesi ini dianggap sangat sakral dan hanya dilakukan oleh warga yang memahami tata cara adat setempat.
Tanda-Tanda Kematian: Ledakan Misterius dan Lolongan Anjing
Warga desa juga mempercayai bahwa pura ini memiliki pertanda gaib jika akan ada seseorang yang meninggal.
Sebelum kejadian, sering terdengar ledakan keras seperti bambu meledak, disertai lolongan anjing yang bergema di sekitar pura.
Fenomena ini diyakini sebagai pertanda bahwa akan ada roh yang segera dipanggil kembali ke alamnya.
Sejarah Desa Penuktukan: Berawal dari Konflik hingga Jadi Permukiman Baru
Nama Desa Penuktukan sendiri menyimpan kisah sejarah yang menarik. Dahulu, masyarakat Desa Les hidup dalam ketentraman hingga terjadi pembabatan dan pembakaran hutan secara misterius di bagian timur wilayah mereka.
Setelah diselidiki, ternyata rombongan dari Desa Bumbungan, Klungkung tengah membuka lahan untuk pemukiman baru.
Mereka mengaku berasal dari trah ksatria Anak Agung, yang harus meninggalkan tanah asal akibat konflik keluarga.
Setelah perundingan panjang, mereka diperbolehkan bermukim di sana dengan syarat mau madesa pakraman (menjadi bagian desa) di Desa Les dan meninggalkan identitas wangsa mereka.
Seiring waktu, semakin banyak orang, termasuk keluarga Pande yang datang untuk berdagang peralatan pertanian, sehingga wilayah ini berkembang menjadi kawasan pasar.
Dari Penutupan, nama desa ini lama-lama berubah menjadi Penuktukan, yang bertahan hingga sekarang.
Warisan Leluhur yang Penuh Misteri
Pura Penyambutan Pengacangan bukan sekadar tempat suci biasa. Keberadaannya yang tanpa piodalan, berfungsi khusus sebagai tempat pemanggilan roh, hingga mitos tentang tanda kematian, menjadikannya salah satu situs paling misterius di Bali Utara. ***