Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Filosofis Setra bagi Umat Hindu Bali: Termasuk Tempat Suci, Bukan Sekadar Kuburan, Tempat Sakral Peleburan Roh ke Alam Dewa

I Putu Suyatra • Minggu, 16 Maret 2025 | 01:57 WIB

Setra atau Sema dalam tradisi Hindu Bali lebih dari sekadar tempat pembakaran atau penguburan jenazah.
Setra atau Sema dalam tradisi Hindu Bali lebih dari sekadar tempat pembakaran atau penguburan jenazah.

BALIEXPRESS.ID - Setra atau Sema dalam tradisi Hindu Bali lebih dari sekadar tempat pembakaran atau penguburan jenazah.

Di balik kesan angker yang melekat, ternyata Setra menyimpan makna filosofis yang dalam, yakni sebagai tempat pemeralina atau peleburan Panca Mahabutha agar menyatu kembali dengan Sang Pencipta, Sang Hyang Siwa.

Makna Filosofis Setra Gandamayu

Menurut Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran, istilah Setra berasal dari "Setra Gandamayu" yang disebut dalam Kitab Yama Purana Tattwa dan Bhagavad Gita.

Kata "Caitra" yang menjadi akar katanya bermakna sembilan, angka yang dalam ajaran Hindu melambangkan titik peleburan dan menjadi simbol Dewa Siwa.

Sementara itu, "Gandamayu" berasal dari "Ganda" yang berarti keharuman para Dewa dan "Mayu" atau "Mahayu" yang bermakna proses pengembalian.

Dengan demikian, Setra Gandamayu secara filosofis diartikan sebagai tempat penyucian Panca Mahabutha agar menjadi Dewa.

Setra dan Proses Pralina

Dalam ajaran Hindu Bali, Setra memiliki sifat pralina, yakni proses peleburan kembali badan kasar ke asalnya.

Proses ini berkaitan erat dengan konsep Tri Murti, yaitu tiga manifestasi Tuhan:

Kitab Bhagavad Gita menyebutkan bahwa semua unsur di dunia ini muncul dan melebur pada saat yang bersamaan, dengan unsur paling halus muncul lebih dulu, disusul oleh unsur-unsur yang lebih kasar secara bertahap.

Setra, Tempat Suci yang Disalahpahami

Sayangnya, banyak masyarakat Hindu Bali menganggap Setra sebagai tempat kotor karena menjadi lokasi pembakaran jenazah.

Padahal, secara filosofis, Setra adalah tempat suci di mana proses penyucian roh terjadi.

Dalam konsepnya, Setra adalah tempat pelepasan unsur-unsur kasar tubuh agar roh kembali dalam kesucian.

Selain itu, Setra juga memiliki Dewa yang dipuja, yakni Dewa Siwa beserta Saktinya, Dewi Durga, yang berperan sebagai pelebur.

Keberadaan Dewi Durga yang sering digambarkan menyeramkan membuat Setra, Pura Dalem, dan Pura Mrajapati dianggap angker.

Padahal, ketiga tempat ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan energi kosmis.

Tiga Tempat Sakral di Setra

Menurut Lontar Siwa Purana, terdapat tiga tempat suci yang berkaitan erat dengan Setra:

  1. Pura Dalem – Stana Dewa Siwa sebagai penyeimbang kekuatan positif dan negatif.

  2. Pura Prajapati – Tempat pemujaan kekuatan alam kosmis.

  3. Setra (Sema/Pemuwunan) – Panggung transformasi dan pelepasan roh dari pengaruh duniawi.

Di Pura Dalem, umat Hindu Bali melakukan ritual untuk mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari pengaruh negatif.

Sementara itu, di Prajapati, mereka menyadari kekuatan alam, dan di Setra, upacara kematian serta pembakaran jenazah berlangsung sebagai bagian dari siklus kehidupan.

Dewi Durga dan Peranannya di Setra

Dalam ajaran Kanda Pat, di Setra dipuja Dewi Durga dalam tiga manifestasi kekuatan:

Karena perannya sebagai pelebur, Dewa Siwa sering digambarkan menyeramkan.

Namun, hal ini mencerminkan tugasnya dalam mengembalikan keseimbangan dan menyucikan jiwa agar mencapai Moksa.

Kesimpulan: Setra, Antara Kematian dan Kesucian

Setra bukan sekadar tempat pembakaran mayat, melainkan ruang sakral untuk penyucian roh menuju kebebasan spiritual.

Di balik kesan mistis dan angkernya, tersembunyi makna suci yang mendalam.

Masyarakat Hindu Bali diharapkan memahami filosofi ini agar tidak lagi memandang Setra sebagai tempat kotor, melainkan sebagai gerbang menuju penyatuan dengan Sang Hyang Siwa. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#setra #tempat suci #hindu bali #pura prajapati #Pura Dalem #dewa siwa