BALIEXPRESS.ID - Di era modern, mandi adalah aktivitas yang sangat privat. Namun, ada satu tempat di Kabupaten Karangasem, Bali, yang masih mempertahankan tradisi unik dan tak biasa.
Di Beji Cempaka, siapa pun yang ingin mandi atau melakukan ritual melukat harus telanjang bulat, tanpa sehelai kain pun, baik pria maupun wanita.
Bagi yang belum memahami, tradisi ini bukanlah bentuk pornografi atau pornoaksi.
Ini adalah dresta, kebiasaan yang sudah turun-temurun di Banjar Dinas Sangkungan, Desa Tangkup, Sidemen, Karangasem.
Dresta ini hanya berlaku di sumber air suci Beji Cempaka, tempat di mana siapa saja yang mandi harus mengikuti aturan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Air Bisa Berhenti Mengalir Jika Ada yang Mandi Berpakaian
Salah seorang warga, I Kadek Mertayoga, mengungkapkan bahwa sejak dahulu, ada kepercayaan bahwa air di Beji Cempaka akan berhenti mengalir jika ada orang yang mandi dengan pakaian.
Dalam bahasa Bali, fenomena ini disebut nyat.
"Percaya atau tidak, kalau ada yang melanggar dan tetap mengenakan kain, walaupun hanya sehelai, maka air di tebing ini bisa berhenti mengalir," ujarnya.
Oleh sebab itu, seluruh warga setempat—baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan—sudah terbiasa mandi di sana tanpa pakaian.
Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Minibus Pengangkut Telur Ludes Dilalap Api, Kerugian Capai Puluhan Juta Rupiah
Medan Terjal Menuju Beji Cempaka
Rasa penasaran membawa Bali Express untuk mengunjungi langsung lokasi Beji Cempaka. Perjalanan menuju beji tidaklah mudah.
Dari jalan raya, harus berjalan kaki sejauh 300 meter melewati jalan setapak yang berliku, sawah, dan tegalan.
Medannya cukup curam dengan batuan berlumut yang licin. Jika tidak berhati-hati, bisa saja tergelincir ke jurang sedalam 10 meter.
Setelah perjalanan sekitar 15 menit, akhirnya tibalah di lokasi. Beji Cempaka ternyata tersembunyi di balik tebing dan pepohonan rimbun.
Airnya sangat jernih, mengalir langsung dari dalam tebing. Untuk memudahkan mengambil air, warga memasang belahan bambu sebagai pancuran.
Di dekatnya, terdapat palinggih kecil dengan tumpukan sesajen, tanda bahwa tempat ini dianggap suci.
Larangan Mandi dengan Pakaian dan Misteri di Baliknya
Di area beji, ada sebuah tulisan tegas yang menyatakan bahwa mandi dengan pakaian dilarang.
Tepat di bawahnya, ada tulisan lain yang menjelaskan bahwa tempat ini adalah arena penyucian Ida Hyang Parama Kawi (Tuhan Yang Maha Esa).
Uniknya, ada pula angka 8-8-80 yang menunjukkan bahwa senderan di beji ini dibuat pada 8 Agustus 1980.
Di samping beji, terdapat sungai kecil dengan air yang juga jernih dan menyegarkan. Beberapa ikan tampak berenang bebas, menandakan kebersihan kawasan ini masih sangat terjaga.
Tak lama, datanglah dua orang ibu-ibu membawa ember dan botol air. Saat ditanya tentang tradisi mandi telanjang, mereka membenarkan hal itu.
Baca Juga: Misteri Setra Hindu Bali: Antara Kesucian dan Aura Angker yang Menyimpan Rahasia Spiritual
"Benar, kalau ada yang memakai baju, airnya bisa nyat," ungkap salah satu ibu.
Mereka juga mengaku terbiasa minum langsung air dari beji ini, karena dipercaya memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan.
Antara Kepercayaan dan Tradisi yang Terus Dijaga
Tradisi mandi telanjang di Beji Cempaka memang terdengar tak biasa di era modern ini. Namun, bagi warga setempat, ini adalah bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga.
Fenomena air yang berhenti mengalir pun terus menjadi misteri yang menarik untuk ditelusuri.
Apakah Beji Cempaka benar-benar memiliki kekuatan mistis? Ataukah ini hanya mitos yang terus dipertahankan oleh masyarakat setempat?
Yang jelas, tradisi ini tetap lestari dan menjadi bagian dari identitas budaya yang unik di Bali. ***
Baca Juga: Judi dalam Manawadharmasastra, Ada Pembauran antara Tabuh Rah dengan Tajen