BALIEXPRESS.ID - Bali sejak lama dikenal dengan kekayaan warisan spiritualnya, salah satunya adalah ilmu kebatinan yang tersimpan dalam lontar-lontar kuno di lingkungan masyarakat Hindu Bali.
Salah satu lontar yang dianggap memiliki ajaran mendalam tentang ilmu kebatinan adalah Lontar Dasar Pangiwa.
Lontar ini tidak hanya menyimpan pengetahuan spiritual tetapi juga diyakini berkaitan dengan ilmu gaib yang bisa digunakan untuk tujuan baik maupun sebaliknya.
Baca Juga: Zurich dan PJI Apresiasi Kemenangan Iuventa Student Company di Kompetisi Bisnis Tingkat Asia Pasifik
Menurut Prof. I Wayan Sukayasa, seorang pemerhati lontar, ilmu kebatinan Bali terbagi menjadi dua kutub, yaitu tengen (kanan) yang dikenal sebagai white magic dan kiwa (kiri) yang disebut sebagai black magic.
“Dasarnya sama, tetapi cara memainkan formula dan tujuannya yang berbeda,” ungkapnya dalam wawancara pada Juli 2016.
Dalam ajaran Pangiwa, praktik spiritual ini melibatkan olah fisik, olah napas, dan olah pikiran, yang dilakukan dengan sarana-sarana khusus seperti babantenan (sesajen) serta ritual pada hari-hari tertentu.
Pangiwa sendiri lebih bersifat destruktif, berbeda dengan ilmu kebatinan di jalur kanan yang lebih membangun dan harmonis.
Baca Juga: VIRAL!!! Tiga Bocah SD Tertangkap Basah Curi Motor di Tengah Malam, Warga Syok
Ajaran ini juga berkaitan erat dengan konsep Kanda Pat, Dasaksara, dan Dasabayu, yang menjadi dasar ilmu spiritual Hindu Bali.
Namun, ada satu hal menarik yang diungkapkan Prof. Sukayasa: ilmu hitam tidak akan bisa mencelakai seseorang yang tidak memiliki celah atau kesalahan.
“Pengguna black magic harus memancing emosi targetnya agar ada energi yang tersambung. Seperti radio, kalau ingin menangkap siaran Denpasar, harus mencari frekuensi yang tepat,” jelasnya.
Oleh karena itu, cara terbaik untuk terhindar dari serangan ilmu Pangiwa adalah dengan menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan agar selalu positif.
Menariknya, ia juga membantah mitos bahwa seorang praktisi ilmu kebatinan bisa mengubah wujudnya menjadi makhluk lain.
“Itu hanya ilusi. Manusia dikendalikan oleh pikirannya. Ada konsep dalam yoga yang disebut Samyama, yaitu fokus penuh terhadap suatu bentuk, sehingga seseorang bisa merasa menjadi sesuatu yang dibayangkannya. Tapi itu semua tetap ilusi,” tegasnya.
Dengan demikian, Lontar Dasar Pangiwa bukan hanya sekadar kitab kuno, tetapi menyimpan rahasia mendalam tentang kekuatan pikiran dan energi manusia.
Ilmu ini tetap menjadi bagian dari warisan spiritual Bali, yang mengajarkan bahwa niat seseoranglah yang menentukan apakah ilmu yang dipelajari akan menjadi berkah atau malah mendatangkan bencana. ***
Editor : I Putu Suyatra