BALIEXPRESS.ID - Apakah benar ilmu Pangiwa bisa mengubah wujud seseorang? Sebuah lontar kuno, Lontar Dasar Pangiwa, mengungkap bahwa perubahan wujud itu sejatinya hanyalah ilusi.
Bukan tubuh fisik yang berubah, melainkan energi atau bayangan yang terlihat oleh mata manusia.
Menurut pakar lontar, Prof. I Wayan Sukayasa, fenomena ini erat kaitannya dengan pikiran dan energi seseorang.
“Tubuhnya hanya tidur, tapi pikirannya yang terbang. Energinya yang muncul dalam wujud api dan sering terlihat oleh orang-orang,” ungkapnya dalam wawancara pada Juli 2016.
"Perang Leak" di Denpasar: Kejadian Mistis yang Pernah Jadi Tontonan Publik
Salah satu bukti dari fenomena ini terjadi pada tahun 1970-an di sekitar Bendungan Penatih, Denpasar Timur.
Kala itu, masyarakat sering menyaksikan perang leak—pertarungan mistis antara para praktisi ilmu pangleakan yang berwujud api di langit.
“Saya sering melihat itu dulu. Api pangleakan namanya,” tutur Prof. Sukayasa.
Menurutnya, setiap menjelang malam, langit dipenuhi cahaya api yang beradu dari berbagai penjuru.
Ada yang datang dari barat, ada dari utara, lalu bertempur di titik pertemuan. Fenomena ini begitu menarik hingga masyarakat berbondong-bondong menonton, bahkan sampai membawa kursi agar bisa duduk menyaksikan pertempuran gaib tersebut.
“Itu seperti pertandingan tinju, tapi yang terlihat hanya api. Ada yang berwarna biru, kuning, merah,” imbuhnya.
Namun, di era modern, kejadian serupa semakin langka.
“Sekarang orang lebih sibuk mencari nafkah. Dulu, tujuannya adalah kesaktian, tapi sekarang lebih fokus ke kekayaan,” jelasnya.
Rahasia Ilmu Pangiwa: Kunci Kekuatan Ada pada Keyakinan
Meski ilmu kebatinan seperti Pangiwa kini tak sepopuler dulu, bukan berarti sudah punah.
“Masih ada yang menekuni, hanya saja tidak sebanyak dulu,” ungkapnya.
Dalam ajaran Bali, konsep Rwa Bhineda (dua hal yang selalu berpasangan) selalu ada.
“Kita hanya bisa melihat putih jika berada di tempat yang gelap,” ujarnya. Itulah sebabnya, pertentangan antara white magic dan black magic akan selalu ada.
Namun, Prof. Sukayasa menegaskan bahwa ilmu ini netral—tergantung siapa yang menggunakannya.
Baca Juga: Gara-gara Utang Piutang, Pria Tewas Dianiaya di Jalan: Ada Dugaan Terkait Narkoba
“Kiwa-tengen ini sebenarnya kembar, hanya saja penggunanya yang menentukan arahnya. Jika niatnya negatif, maka akan condong ke kiri (pangiwa), begitu pula sebaliknya,” paparnya.
Mereka yang ingin mendalami ilmu kebatinan harus lebih dulu memantapkan susila dan sesana (etika).
“Kalau tidak, maka bisa tersesat,” tegasnya.
Rahasia Aksara Sakti dan Ritual dalam Ilmu Kebatinan
Ilmu kebatinan tak lepas dari penggunaan aksara sakti yang memiliki energi tersendiri. Beberapa aksara yang sering digunakan dalam ritual di antaranya adalah:
- Ekaksara
- Dwiaksara
- Triaksara
- Pancaksara
- Pancabrahma
- Dasaksara
- Triodasaksara
- Sodasaksara
- Dasabayu
Selain aksara, ada juga sarana pendukung lainnya, seperti dyantra (media tertentu), mandala (tempat khusus), mudra (gerakan tangan), dan mantra yang harus diucapkan pada waktu tertentu.
Menariknya, ada pula orang yang mendapatkan kekuatan secara instan dengan membeli benda bertuah.
“Namun, benda itu tetap harus diisi energi oleh seseorang yang memiliki kemampuan,” jelasnya.
“Tapi sifatnya hanya tempelan. Jika tidak digunakan, kekuatannya hilang. Jika dipakai, baru bisa berfungsi,” lanjutnya.
Kekuatan Pikiran: Antara Surga, Neraka, dan Moksa
Dalam kebatinan, faktor utama yang menentukan kekuatan adalah keyakinan.
“Tidak bisa menggunakan logika di sini. Harus fokus. Seperti matahari dan kaca pembesar, jika fokus, maka bisa membakar,” ungkapnya.
Kunci utama dalam kebatinan disebut sebagai Sakti Lingga Ning Ambek—jika fokus pada hal positif, pahalanya adalah surga. Jika fokus pada hal negatif, pahalanya adalah neraka.
Namun, jika benar-benar netral, barulah seseorang bisa mencapai moksa (kehidupan tertinggi yang bebas dari dualisme).
Baca Juga: Komisi I DPRD Badung Setujui Proses Hibah Tanah di Desa Adat Kedonganan
Lontar Dasar Pangiwa: Kitab Rahasia yang Masih Menyimpan Misteri
Di luar Lontar Dasar Pangiwa, ternyata masih banyak lontar lain yang membahas ilmu kebatinan seperti Pragolan, Kautamaning Pangiwa, dan Padestian.
“Setiap lontar selalu memberikan pilihan, tidak hanya hitam atau putih saja. Ada sebab dan akibat yang dijelaskan di dalamnya,” tandasnya.
Dengan demikian, mempelajari lontar bukan hanya soal ilmu kebatinan, tetapi juga soal memahami konsekuensi dari setiap tindakan.
“Jika niatnya baik, maka hasilnya baik. Jika buruk, maka akibatnya juga buruk,” pungkasnya. ***
Editor : I Putu Suyatra