BALIEXPRESS.ID - Moderasi beragama merujuk pada pendekatan yang seimbang dan toleran terhadap ajaran agama, yang menekankan pemahaman yang inklusif, damai, dan saling menghormati antar umat beragama. Hal ini menghindari ekstremisme dan fanatisme dalam praktik beragama, dengan mendorong umat untuk menghargai perbedaan dan menjalani ajaran agama secara moderat.
Tujuan moderasi beragama adalah menciptakan harmoni dalam masyarakat yang majemuk, mengedepankan dialog antar agama, serta menjauhkan diri dari tindakan yang bisa merusak kerukunan sosial, seperti kekerasan atas nama agama. Dengan demikian, moderasi beragama dapat menjadi kunci untuk menciptakan kedamaian, keadilan, dan kesetaraan bagi semua pihak.
Penyuluh Agama Hindu, Aris Widodo, menjelaskan hal itu tertuang di dalam Bhagawadgita, Sloka 11 Bab IV. Dimana yang berbunyi, “Dengan cara apapun seseorang mendekatiKu, Aku menerimanya. Karena sesungguhnya setiap jalan yang ditempuh adalah jalanKu, adalah jalan menujuKu”.
Kutipan sloka di atas menunjukkan bahwa umat Hindu telah memiliki landasan yang kuat untuk terus menerus melakukan pembaharuan atau moderasi dalam praktek-praktek keagamaannya. Bahkan tidak ada seorangpun atau lembaga yang mempunyai otoritas untuk mendikte cara-cara praktek-praktek keagamaan.
“Tuhan menyediakan dan mempersilahkan umat Hindu untuk datang dan menghadapNya dengan cara apapun sekali lagi dengan cara apapun,” papar Aris.
Dia menambahkan agama sejatinya adalah tuntunan untuk mengantarkan umat untuk menuju pada kesadaran (Cetana). Kesadaran tentang hakikat yaitu hakekat keberadaan kita (ekstensi kita sebagai manusia), hakekat tujuan dari keberadaan kita, dan hakekat bagaimana cara kita menuju tujuan tersebut.
Tentang hakekat kita sebagai manusia Agama Hindu memberikan tuntunan tentang Yoni, karma wasana, dan dalam butir-butir Panca Sradha ada Brahman, Atman, Karma Phala, Reinkarnasi/Samsara dan Moksa.
Selanjutnya Agama Hindu banyak memberikan paparan dalam sastra suci tentang hakekat tujuan kita sebagai manusia seperti yang tercantum dalam Catur Purusa Artha (Empat tujuan hidup manusia) yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Demikian juga dalam Panca Sradha butir kelima yaitu Moksa ( pembebasan).
Baca Juga: Nyoman Parta : RUU Perkoperasian Harus Berikan Spirit Baru untuk Demokrasi Ekonomi
Sastra yang jelas dan lugas mengatakan bahwa ajaran Hindu tentang tujuan hidup umat Hindu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Disisi lain tidak dipungkiri bahwa kegiatan upacara keagamaan memberikan warna tersendiri dalam praktek keagamaan sebagaimana sastra suci yaitu Satyam Siwam, Sundaram. *
Editor : Putu Agus Adegrantika