Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Tempat Suci Hindu Bali Pura Luhur Dalem Betawi: Jejak Sejarah dan Harmoni Siwa-Buddha, Tempat Nunas Tamba dan Keturunan

I Putu Suyatra • Kamis, 20 Maret 2025 | 00:16 WIB

Pura Luhur Dalem Betawi di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung
Pura Luhur Dalem Betawi di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung

BALIEXPRESS.ID - Di balik keindahan arsitektur kuno Pura Luhur Dalem Betawi di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, tersembunyi kisah sejarah panjang yang mencerminkan harmonisasi ajaran Siwa-Buddha di Bali.

Tempat suci Hindu Bali yang bahan utamanya hanya menggunakan batu bata merah ini menjadi saksi bisu perjalanan spiritual yang menakjubkan.

Seperti apa sejarahnya? Simak kisahnya berikut ini!

Asal-Usul: Perjalanan Mistis dari Tiongkok ke Bali

Sejarah Pura Luhur Dalem Betawi tertulis dalam Purana Bangsul. Menurut pemangku pura, Jro Mangku I Made Karda, kisahnya bermula dari pelayaran Raja Jayangerat dan permaisurinya, Ratu Manik Galih dari Kerajaan Guan, Tiongkok.

Saat mengarungi samudra menuju selatan, mereka melihat daratan lumpur yang menarik perhatian mereka.

Namun sebelum tiba di tujuan, Raja Jayangerat moksha, meninggalkan sang permaisuri untuk melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di daratan tersebut, Ratu Manik Galih berniat moksha, namun ditahan oleh ajudannya.

Kabar ini dikirim ke Guan, dan tak lama kemudian, 200 abdi kerajaan datang ke Bali.

Setelah itu, barulah Sang Ratu diizinkan ‘melabuh geni’ atau meninggalkan dunia secara spiritual.

Ia dan sang raja kemudian disemayamkan di Pura Sada Kapal.

Perjalanan Sang Penasihat dan Munculnya Nama 'Betawi'

Salah satu penasihat kerajaan melanjutkan perjalanan ke arah barat dan bermeditasi di Pura Gunung Sari.

Dari sana, ia berpindah ke Pura Dalem Brerong, tempat di mana ia menemukan kekuatan mistis yang membuat warga setempat ketakutan.

Berkat ilmunya, penasihat ini berhasil menenangkan energi gaib di sana, sehingga masyarakat bisa kembali hidup damai.

Ia kemudian dikenal dengan nama Santun.

Ketika bermeditasi di Pura Gunung Sari, Santun meminta izin menetap dan mendirikan pura di area hutan belantara yang saat itu disebut 'bet' (rimba).

Ada tiga opsi nama yang diajukan: Betawi (dari kata 'bet' yang berarti hutan), Berawi (karena dulunya adalah setra atau kuburan), dan Batawi (karena bahan bangunannya dari bata merah).

Akhirnya, nama yang disepakati adalah Pura Luhur Dalem Betawi, yang juga disebut Pura Dalem Tanah China.

Taksu, Senjata Mistis, dan Peran Pura dalam Keagamaan

Setelah berdiri, Pura Dalem Brerong menghadiahkan taksu kepada Pura Luhur Dalem Betawi, sehingga pura ini bisa menggelar ritual sakral seperti Calon Arang dan Tari Kecak.

Tak hanya itu, pemilik Hotel Cendana, Edi Cendana, juga memberikan dua senjata sakral kepada pura ini, yaitu sambleng (tombak khas Tiongkok) dan kuku Bima.

Sebagai bentuk timbal balik, Pura Luhur Dalem Betawi menghadiahkan Ratu Mas dan Ratu Ayu kepada Pura Dalem Brerong.

Sejak saat itu, kedua pura ini memiliki peran simbolis: Pura Dalem Brerong melambangkan Dewa Siwa dan Dewi Uma, sedangkan Pura Luhur Dalem Betawi menjadi perlambang Buddha Dewi Kwan Im.

Keunikan Arsitektur: Palinggih Siwa Durga hingga Padmasana Kuno

Pura ini memiliki Gedong Siwa Durga yang menghadap ke barat, dijaga oleh dua patung raksasa, Rahwana dan Kumbakarna.

Selain itu, ada Padmasana yang dihiasi ukiran indah, dengan Naga Basuki di bagian bawah dan patung purusa-pradana di atasnya.

Ukiran-ukiran ini mencerminkan konsep spiritual Siwa Padma Sada Siwa Sakrastem Parama Siwa Trisulam.

Di sisi lain, terdapat Gedong Buddha Dewi Kwan Im dengan stupa di puncaknya.

Konon, di gedong ini ada patung anak kecil yang dipercaya bisa membantu pasangan yang ingin memiliki keturunan.

Pura ini juga memiliki Sambyangan Agung, tempat khusus untuk menerima tamu secara niskala (gaib).

Uniknya, di dalamnya terdapat banyak patung dan senjata suci, serta patung Bima yang berdiri gagah di depan Padmasana.

Piodalan dan Fungsi Spiritual Pura

Piodalan utama di Pura Luhur Dalem Betawi jatuh pada Buda Kliwon Wuku Mata, selain itu ada piodalan pada Tahun Baru Imlek dan Purnama Kadasa.

Tak heran jika banyak warga etnis Tionghoa juga datang bersembahyang di sini.

Selain sebagai simbol harmoni ajaran Siwa-Buddha, pura ini juga dikenal sebagai tempat nunas tamba atau memohon kesembuhan.

Jika ingin nunas tamba, umat disarankan membawa pajati yang nantinya ditambahkan daun jepun dan kelor sebagai bagian dari ritual penyembuhan.

Lokasi Pura Luhur Dalem Betawi

Ingin berkunjung? Lokasi pura ini cukup mudah ditemukan. Dari Jalan Denpasar-Gilimanuk, masuk ke Desa Mengwitani, lalu cari Jalan Astina Pura.

Susuri hingga menemukan Jalan Baradwaja, kemudian cari Gang Perkutut, di sanalah pura ini berada.

Pura Luhur Dalem Betawi bukan sekadar tempat suci, tetapi juga warisan sejarah yang mencerminkan keharmonisan ajaran Siwa dan Buddha di Bali.

Dengan keunikan arsitekturnya yang masih asli, pura ini menjadi destinasi spiritual yang penuh makna bagi siapa saja yang ingin menyelami lebih dalam hubungan antara Hindu Bali dan pengaruh budaya Tionghoa.

Siap untuk menjelajahi kisahnya langsung? *** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#dewi kwan im #keturunan #Kabupaten Badung #hindu bali #tamba #sejarah #Pura Luhur Dalem Betawi #Kecamatan Mengwi