Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Tempat Suci Hindu Bali, Pura Pucak Tedung: Jejak Spiritual Mpu Kuturan dan Dang Hyang Nirartha di Puncak Badung

I Putu Suyatra • Kamis, 20 Maret 2025 | 23:29 WIB

Tempat suci Hindu Bali, Pura Pucak Tedung di Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.
Tempat suci Hindu Bali, Pura Pucak Tedung di Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.

BALIEXPRESS.ID - Di tengah perbukitan hijau nan sejuk di Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, berdiri megah tempat suci Hindu Bali, Pura Pucak Tedung, salah satu Pura Dang Kahyangan yang menyimpan sejarah purbakala dan jejak para pendeta suci.

Tak hanya sebagai tempat peribadatan, pura ini juga menjadi lokasi meditasi yang sempurna bagi mereka yang ingin mendalami olah batin.

Aura spiritual yang kuat berpadu dengan kedamaian alam menciptakan pengalaman religius yang mendalam bagi setiap pamedek yang datang.

Misteri dan Keangkeran Pura Pucak Tedung

Petang itu, selepas hujan mereda, langkah kami menyusuri jalanan menuju Pura Pucak Tedung.

Kicauan burung liar dan desiran angin seolah menjadi lantunan doa yang mengiringi perjalanan.

Kabut tipis yang menyelimuti bukit menambah nuansa mistis, seakan menyembunyikan rahasia yang telah tersimpan berabad-abad di tempat suci ini.

Dua ekor kucing tiba-tiba muncul dari sebuah palinggih, mengeong seakan menyapa para peziarah.

Suasana semakin terasa sakral saat seorang pria sepuh, mengenakan pakaian serba putih, menghampiri kami.

Dialah Jro Mangku I Made Bukit, salah satu dari tiga pamangku yang bertugas di Pura Pucak Tedung.

Dengan suara lembut, beliau mulai menuturkan kisah yang penuh makna tentang keberadaan pura ini.

Jejak Mpu Kuturan dan Dang Hyang Nirartha

Menurut Jro Mangku Bukit, keberadaan Pura Pucak Tedung tak lepas dari peran dua pendeta suci, Mpu Kuturan dan Dang Hyang Nirartha.

Kedua tokoh ini dikenal sebagai penyebar ajaran Hindu di Bali, dan jejaknya masih bisa ditemukan di pura ini hingga kini.

Mpu Kuturan dipercaya meninggalkan peninggalan berupa lingga yoni yang kini disakralkan dalam sebuah palinggih.

Sementara itu, Dang Hyang Nirartha meninggalkan pohon Kemuning yang tumbuh tepat di dalam area pura.

Konon, pohon ini merupakan perwujudan dari tongkat beliau yang menjadi simbol kehadirannya di Pucak Tedung.

Tegal Suci: Tempat Pertama Sang Pendeta Mendarat

Saat pertama kali tiba di Pura Pucak Tedung, Dang Hyang Nirartha turun di sebuah area yang kini dikenal sebagai Tegal Suci.

Dengan luas sekitar 5x5 meter, tempat ini dipercaya sebagai lokasi pertama beliau melakukan yoga semadhi sebelum adanya bangunan palinggih.

Kini, di sudut kaja kangin pura, sebuah plang nama bertuliskan 'Tegal Suci' masih berdiri sebagai tanda suci perjalanan spiritual sang pendeta.

Tak hanya itu, di bawah pohon Kemuning yang dipercaya sebagai peninggalan beliau, terdapat arca seorang pendeta yang didampingi dua pengawal di sisi kanan dan kirinya.

Arca ini menjadi simbol keberadaan dan kebesaran sosok yang dihormati oleh umat Hindu di Bali.

Perjalanan Spiritual di Empat Puncak

Tak hanya berdiam di satu titik, perjalanan spiritual Dang Hyang Nirartha di Pucak Tedung pun meliputi beberapa tempat suci lain yang saling terhubung dalam konsep 'nyatur' (empat arah).

  1. Pucak Pegametan – Terletak di utara Pura Pucak Tedung, di sinilah beliau melakukan Surya Sewana atau pemujaan kepada Dewa Surya.

  2. Munduk Saab – Berada di sebelah barat, tempat ini diyakini sebagai lokasi beliau merayunan (menikmati makanan spiritual).

  3. Pura Pucak Gunung Lebah – Di selatan pura, tempat ini menjadi bagian dari perjalanan suci beliau.

  4. Pucak Sekar – Di sebelah timur, menjadi tempat terakhir beliau melakukan yoga sebelum kembali ke Pucak Tedung.

Pura Sekar Taji dan Beji: Simbol Kesucian dan Keharmonisan

Sekitar 50 meter di utara Pura Pucak Tedung, terdapat Pura Sekar Taji yang dipercaya sebagai tempat Dang Hyang Nirartha 'berhias' setelah menyucikan diri di beji (sumber air suci).

Beji ini terletak sekitar 50 meter di bawah pura dan hingga kini masih digunakan sebagai tempat penyucian diri bagi pamedek sebelum sembahyang.

Delapan Desa Adat dan Upacara Piodalan

Pura Pucak Tedung tidak hanya dijaga oleh satu desa adat, melainkan oleh delapan desa adat yang tersebar di sekitar wilayah tersebut, yakni Sulangai, Batulantang, Sandakan, Angantiga, Kerta, Petang, Lipah, dan Mundukdamping.

Setiap rahina Tumpek Krulut, kedelapan desa ini berkumpul untuk melaksanakan upacara piodalan yang berlangsung dengan penuh hikmat dan kemegahan.

Misteri Genta Kuno dan Meru Tumpang Tiga

Sebagai wujud penghormatan kepada Dang Hyang Nirartha, dibangunlah palinggih Meru Tumpang Tiga di pura ini.

Selain itu, terdapat peninggalan sakral berupa genta kuno yang kini disimpan di Desa Kerta.

Konon, genta ini memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa dan hanya digunakan dalam upacara-upacara tertentu.

Pesona yang Tak Terlupakan

Bagi para pamedek yang ingin merasakan ketenangan dan energi spiritual yang kuat, Pura Pucak Tedung adalah tempat yang sempurna.

Dengan suasana yang damai, udara yang sejuk, serta sejarah panjang yang penuh makna, pura ini tidak hanya menjadi destinasi religi tetapi juga tempat untuk merenung dan memperdalam keimanan.

Jadi, jika Anda mencari tempat yang sarat dengan nilai sejarah, spiritualitas, dan keindahan alam yang memesona, Pura Pucak Tedung adalah jawabannya. *** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Kabupaten Badung #Dang Hyang Nirartha #hindu bali #Pura Pucak Tedung #sejarah #mpu kuturan