BALIEXPRESS.ID – Tradisi Mabuug-buugan, ritual unik yang hanya bisa ditemukan di Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, akan kembali digelar pada 30 Maret 2025.
Dikenal sebagai tradisi sakral yang dilakukan setiap Hari Ngembak Geni, Mabuug-buugan bukan sekadar permainan lumpur, tetapi juga ritual penyucian diri yang diwariskan turun-temurun.
Menariknya, tahun ini peserta akan mendapatkan hadiah khusus, membuat acara semakin semarak!
Diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Keunikan Mabuug-buugan telah mendapat pengakuan nasional sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Hal ini dibuktikan dengan dua sertifikat resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2019 dan 2021.
Upaya pelestarian terus dilakukan, termasuk menambahkan unsur budaya baru agar tradisi ini tetap lestari.
Prosesi Mabuug-buugan: Bermain Lumpur hingga Penyucian Diri
Rangkaian upacara dimulai dari Bale Agung, tempat berkumpulnya para peserta.
Mereka kemudian menuju pantai timur Kedonganan, yang merupakan kawasan hutan bakau.
Baca Juga: Hujan Deras dan Angin Kencang Terjang Tabanan, Bale Gong di Pura Merajan Ambruk!
Di sinilah keseruan dimulai—peserta akan saling melumuri tubuh dengan lumpur atau "buug", menciptakan pemandangan unik penuh kegembiraan.
Setelah puas bermain lumpur, peserta melanjutkan perjalanan ke Pantai Kedonganan di bagian barat.
Di sana, tubuh mereka dibersihkan dengan air laut, sebelum akhirnya mendapat percikan tirta suci dari jero mangku.
Ritual ini memiliki makna mendalam, yaitu pembersihan diri, baik secara jasmani maupun rohani, setelah melewati rangkaian perayaan Nyepi.
Hadiah dan Inovasi Baru di Mabuug-buugan 2025
Bendesa Adat Kedonganan, Wayan Sutarja, mengungkapkan bahwa tahun ini akan ada hadiah bagi para peserta, termasuk anak-anak, siswa, hingga masyarakat umum.
Langkah ini diambil sebagai bentuk apresiasi sekaligus dorongan agar tradisi ini tetap lestari.
“Kami ingin memastikan Mabuug-buugan tetap ada di masa depan. Oleh karena itu, kami memberikan hadiah bagi mereka yang berpartisipasi, tanpa mengurangi makna dari ritual ini,” ujar Sutarja.
Tak hanya itu, pihaknya juga merancang pementasan seni dan tambahan unsur budaya dalam tradisi ini.
Rencananya, prosesi akan semakin meriah dengan iringan gamelan atau kulkul, untuk memperkuat suasana sakral. Jika belum bisa terealisasi tahun ini, inovasi ini akan diterapkan pada tahun depan.
Dengan berbagai inovasi dan pelestarian yang dilakukan, Mabuug-buugan tak hanya menjadi ritual sakral, tetapi juga daya tarik budaya yang semakin menarik perhatian. ***
Editor : I Putu Suyatra