Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mawinten: Ritual Penyucian Diri yang Penuh Makna bagi Umat Hindu Bali, Siapa Saja yang Bisa Mengikutinya? Apakah Sanggah Kemulan Perlu Ada Pemangku?

I Putu Suyatra • Sabtu, 22 Maret 2025 | 20:41 WIB

Ida Pandita Mpu Yogiswara
Ida Pandita Mpu Yogiswara

BALIEXPRESS.ID - Dalam tradisi Hindu Bali, Mawinten bukan sekadar ritual, melainkan sebuah langkah spiritual untuk meningkatkan kualitas diri. Upacara ini menandakan perubahan status kehidupan menuju kesucian, keagamaan, dan spiritualitas yang lebih mendalam.

Namun, pertanyaannya, siapa saja yang bisa mengikuti pawintenan ini?

Mawinten: Gerbang Menuju Peningkatan Diri

Mawinten merupakan bagian dari upacara Manusa Yadnya yang kian disadari pentingnya oleh umat Hindu Bali.

Ritual ini menjadi syarat utama bagi mereka yang ingin mendalami ajaran agama serta meningkatkan pengabdian kepada umat dan Sang Hyang Widhi Wasa.

Sejak kecil, pawintenan sudah dapat dilakukan.

Contohnya adalah Upanayana, pawintenan bagi anak yang mulai menempuh pendidikan sebagai tanda kesiapan menerima ilmu.

Selain itu, ada juga Pawintenan Saraswati untuk tingkat lanjutan, yang bertujuan agar seseorang dapat menyerap ilmu pengetahuan dari Sang Hyang Aji Saraswati.

Pawintenan Saraswati: Kunci Menuju Ilmu yang Lebih Dalam

Menurut Ida Pandita Mpu Yogiswara dari Pemogan, Denpasar Selatan, Pawintenan Saraswati memungkinkan seseorang untuk mempelajari ilmu lebih mendalam.

Ritual ini juga memberikan kemampuan dasar dalam melakukan yadnya sederhana, seperti menghaturkan canang dan memahami tata cara yadnya lainnya.

Namun, ada tingkatan lebih lanjut dalam Mawinten, yaitu Pawintenan Kepemangkuan, yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin menjadi pemangku dan mengabdi di pura.

Pawintenan Kepemangkuan: Menjadi Pemangku, Sebuah Pengabdian Sejati

Tak hanya di pura besar, bahkan sebuah merajan keluarga pun bisa memiliki pemangku.

"Sebuah Sanggah Kemulan juga sebaiknya memiliki pemangku yang dipilih dari anggota keluarga yang dituakan," ujar Ida Pandita Mpu Yogiswara saat ditemui di Griya Gede Manik Uma Jati, Denpasar Selatan.

Ia menegaskan bahwa keberadaan pemangku di Kemulan sangatlah penting.

"Kemulan adalah tempat utama bagi umat Hindu untuk bersembahyang, karena di dalamnya terdapat Tri Murti: Brahma, Wisnu, dan Siwa," jelasnya.

Makna Mantra dalam Pawintenan

Dalam upacara Pawintenan Kepemangkuan, digunakan berbagai mantra suci, seperti:

Menurut Ida Pandita Mpu Yogiswara, Kemulan menjadi representasi siklus kehidupan manusia dari kelahiran hingga kematian.

"Manusia sejak lahir hingga wafat melewati berbagai upacara di Kemulan, termasuk Tutug Kambuhan, perkawinan, hingga setelah diaben," jelasnya.

Menjadi Pemangku: Tanggung Jawab Besar dalam Spiritualitas

Menjadi pemangku bukan sekadar tugas biasa, melainkan pengabdian tulus kepada umat dan Ida Sang Hyang Widhi.

Pemangku sejati bukan hanya "nganteb" dalam upacara, tetapi juga harus memahami Tri Sandya dan mampu memberikan dharma wacana.

"Jika ingin lebih dari sekadar umat biasa dalam yadnya, maka seseorang dapat mengikuti Pawintenan Kepemangkuan," ujar Ida Pandita Mpu Yogiswara.

Namun, ia menegaskan bahwa menjadi pemangku bukan hanya tentang mengenakan atribut, melainkan juga memahami tanggung jawab spiritual yang diemban.

Bahkan, ia memberikan bimbingan kepada calon pemangku dengan mengadakan pertemuan mingguan untuk mendiskusikan hal-hal yang perlu dipelajari dan diperdalam. *** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Ida Pandita Mpu Yogiswara #Kemulan #Mawinten #hindu bali #pemangku