BALIEXPRESS.ID - Pulau Dewata tak pernah kehabisan kisah tentang tempat suci Hindu Bali sakral yang menyimpan sejarah, keunikan arsitektur, hingga makna spiritual yang mendalam.
Salah satu tempat suci Hindu Bali yang jarang terdengar namun memiliki daya tarik mistis adalah Pura Luhur Pucak Batu Gaing, yang terletak di Desa Pakraman Kebonjero, Desa Munduktemu, Pupuan, Kabupaten Tabanan.
Pura ini bukan sekadar tempat ibadah bagi umat Hindu Bali, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah desa dan kepercayaan masyarakat setempat.
Jejak Sejarah: Dari Hutan Belantara Menjadi Tanah Suci
Menurut Jro Mangku Lingsir Pura Luhur Pucak Batu Gaing, I Made Lidra, keberadaan pura ini erat kaitannya dengan asal-usul Desa Pakraman Kebonjero.
Dahulu, wilayah ini hanyalah hutan belantara yang menjadi batas barat laut dari Desa Galiukir.
Sekitar tahun 1925, masyarakat mulai membuka lahan dan akhirnya membentuk pemukiman yang kini dikenal sebagai Desa Kebonjero.
Namun, yang membuat Pura Luhur Pucak Batu Gaing begitu istimewa adalah batu datar sakral yang menjadi pusat dari pura ini.
Konon, batu tersebut ditemukan oleh seorang warga yang tersesat di bukit. Saat ia berdoa memohon petunjuk, tiba-tiba muncul jalan yang membawanya pulang.
Sejak saat itu, tempat tersebut dikeramatkan dan dipercaya memiliki kekuatan spiritual.
Keunikan yang Mengundang Rasa Penasaran
Di dalam pura ini terdapat babaturan sakral, tempat berstana Ida Bagus Made Lelor, yang diyakini sebagai penjaga spiritual kawasan ini.
Uniknya, batu ini kini diselimuti tanah dan kain kasa putih karena menurut kepercayaan setempat, ketika coba dibersihkan, "Ida tan kayun" (Beliau tidak mengizinkan).
Selain itu, pohon Don Temen yang tumbuh di samping batu ini juga menyimpan misteri.
Banyak umat datang dari berbagai daerah, termasuk Denpasar dan Badung, setelah mendapat petunjuk dalam mimpi untuk mencari daun pohon tersebut sebagai obat (tamba).
Ritual Sakral dan Pantangan Unik
Piodalan di Pura Luhur Pucak Batu Gaing dilaksanakan setiap setahun sekali pada Purnama Kadasa Panglong Ketiga.
Yang menarik, upakara yang dipersembahkan di pura ini tidak boleh mengandung daging babi, melainkan hanya bebek.
Kepercayaan ini berkaitan dengan hubungan antara Ida Bhatara di Pura Batur Galiukir dan Pura Pucak Batu Gaing, yang disebut sebagai saudara tua dan muda dalam dimensi spiritual.
Pura yang Menjadi Panyungsungan Jagat
Berkat aura mistis dan kesakralannya, Pura Luhur Pucak Batu Gaing bukan hanya milik warga Desa Kebonjero, tetapi juga panyungsungan jagat.
Banyak pemedek dari luar desa yang datang untuk memohon perlindungan, kesuksesan dalam bekerja, hingga kesembuhan dari penyakit.
Keberadaan Palinggih Sang Hyang Sangkara, sebagai manifestasi Tuhan dalam menjaga tumbuh-tumbuhan, semakin memperkuat keyakinan bahwa pura ini memiliki hubungan erat dengan kesuburan dan kesejahteraan masyarakat.
Bagi yang penasaran dengan sisi lain spiritual Bali, Pura Luhur Pucak Batu Gaing adalah tempat yang wajib dikunjungi.
Namun, ingatlah untuk selalu menghormati aturan dan kesakralan tempat ini, karena banyak misteri yang masih menyelimuti keberadaannya. ***
Editor : I Putu Suyatra