Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tak Usah Khawatir, Nunas Tirta saat Menjalani Brata Nyepi Tak Bikin Puasa Batal, Begini Penjelasannya

I Putu Mardika • Rabu, 26 Maret 2025 | 03:21 WIB

Ida Pandita Mpu Jaya Acarya Nanda
Ida Pandita Mpu Jaya Acarya Nanda
BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Nyepi Saka 1947 yang jatuh pada Sabtu (29/3) mendatang dirayakan dengan Catur Brata Penyepian. Namun, sering muncul pertanyaan, jika saat berpuasa apakah boleh nunas tirta saat Nyepi?

Seperti diketahui, Catur brata Penyepian Yakni Amati Karya (tidak bekerja), Amati Geni (tidak berapi-api), Amati lelungaan (tidak bepergian) dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).

Ida Pandita Mpu Jaya Acarya Nanda, dalam akun @Wira.Id Channel menjelaskan dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian umat Hindu seringkali melaksanakan upawasa (puasa) atau tidak makan dan minum.

Faktanya, saat melaksanakan persembahyangan, tidak jarang umat Hindu nunas tirta saat Nyepi. Meski demikian tidak ada salahnya jika nunas tirta meskipun dilaksanakan bertepatan dengan puasa.

“Tapi kalau sembahyang saat puasa misal memohon tirta 3 gelas, nunas bija duang gemel, ya tidak elok. Ikut aja standar (nunas tirta secukupny, Red) maka puasa tidak akan batal,” kata Ida Pandita Mpu Acarya Nanda.

Ida Pandita Acarya Nanda menyebut sejatinya niat nunas tirta atau menikmati tirta bukan bertujuan untuk menghilangkan haus. “Intinya boleh nunas tirta seperti biasa,” imbuhnya.

Di sisi lain, Acarya Nanda juga menegaskan jika Amati Geni dalam Catur Brata tidak bisa dimaknai hanya sebatas menyalakan api kompor di dapur atau memasak.

Namun, yang dimaksud amati geni itu adalah menjaga hawa nafsu agar jangan sampai menguasai diri.

“Menyalakan api nafsu tidak boleh, tetapi Jnana Agni (pengetahuan dan kebijaksanaan) harus dinyalakan. Artinya api fisik, api nafsu, yang dipadamkan,” sebutnya.

Ida Pandita Acarya Nanda menambahkan, banyak umat yang bertanya-tanya, mengapa pergantian  pergantian tahun atau hari raya Nyepi selalu jatuh pada Bulan Maret.

Di Hindu, sambungnya mengenal banyak Tarikh, seperti Tarikh Kali, Tarikh Wikrama dan Tarikh Saka. Tarikh Saka hadir sebagai sebuah transformasi pada sistem budaya dan spiritual yang muncul setelah terjadi krisis di India.

Dikatakan Ida Pandita Acarya Nanda, menyebutkan perlu meninjau makna urutan bulan sesuai dengan tata penamaan. Semisal, Bulan Desember adalah Dasa artinya sepuluh, November dari kata nine atau nawa namun menjadi kesebelas.

Kemudian okta sebenarnya delapan menjadi sepuluh. Kemudian September berasal dari kata sapta yang berarti ketujuh namun menjadi kesembilan.

Kemudian Januari adalah bulan kesebelas, Februari ke duabelas dan Maret adalah awal tahun. “Dalam pengetahuan Hindu, memadukan antara Surya Pramana dengan Candra Pramana,” katanya.

Saat bulan maret apalagi bertepatan pada tanggal 21 Maret, maka dalam tata surya, posisi matahari tepat berada di titik Khatulistiwa.

“Di dalam Susastra Hindu disebutkan siapapun yang dengan penuh kesadaran melaksanakan dharma itu disebut Sada Sidhi Muka, maka akan dilipatgandakan pahalanya,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Catur Brata Penyepian #Saka 1947 #Puasa #nyepi #Ida Pandita Mpu Jaya Acarhya Nanda