Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Perang Api “Ter-teran” di Desa Adat Jasri: Simbol Pengusiran Bhuta Kala dan Penyucian Alam, Begini Rangkaiannya

I Gusti Ayu Agung Era Kuswari • Senin, 31 Maret 2025 | 18:23 WIB

Tradisi Perang Api “Ter-teran” di Desa Adat Jasri
Tradisi Perang Api “Ter-teran” di Desa Adat Jasri

BALIEXPRESS.ID– Menjelang Hari Raya Nyepi, Desa Adat Jasri di Karangasem kembali melaksanakan salah satu tradisi sakral yang penuh makna spiritual, yakni Usabha Muu-Muu atau juga dikenal dengan Ngusaba Dalem. Salah satu rangkaian utama dari upacara ini adalah tradisi Ter-teran, atau yang sering disebut sebagai “perang api”.

Baca Juga: Update Nilai Pasar Pemain Timnas Indonesia: Bintang Eredivisie Anjlok, Debutan Meroket!

Ter teran kata ter artinya lempar dan di sambung menjadi ter teran yaitu saling melempar dari 2 kelompok tersebut yang digelar setiap dua tahun sekali sehari sebelum Hari Raya Nyepi, bertepatan dengan pelaksanaan Tawur Kesanga.

Menurut informasi yang diperoleh dari warga lokal, Pande Putra, tradisi ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan adat dan budaya, melainkan juga sarat dengan filosofi mendalam mengenai keseimbangan alam dan kehidupan manusia.

Sembilan hari sebelum puncak upacara, masyarakat Desa Adat Jasri sudah mulai melakukan persiapan spiritual dengan melaksanakan Ngatag, yaitu pemberitahuan bahwa Usabha Muu-Muu akan segera dilaksanakan.

Baca Juga: Akun @Mulki Vlog Minta Maaf Usai Kritik Toleransi Saat Nyepi dan Ramadhan di Bali, Sebut Tak Berniat Provokasi

 Dalam masa ini, krama desa dilarang menghaturkan canang di sanggah/merajan rumah dan pura desa sebagai bentuk penyucian.

Memasuki hari ketiga, warga melakukan Nyegaga, dengan menghaturkan segahan dan api sambuk di depan rumah masing-masing, sebagai bentuk perlindungan dari gangguan Bhuta Kala.

Tiga hari setelahnya, mereka mendirikan sanggah kliwon dari batang kelapa sebagai sarana penghatur banten kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, memohon berkah dan keselamatan.

Kemudian, dua hari sebelum Nyepi, Desa Adat Jasri melaksanakan upacara Banten Kesanga.

Baca Juga: GEGER! Akun @Mulki Vlog Kritik Ketimpangan Toleransi Saat Nyepi dan Ramadhan di Bali

Berbeda dari desa lain yang melaksanakan upacara ini tepat pada Tilem Kesanga, Desa Jasri melaksanakannya lebih awal sebagai bentuk penghormatan khusus sebelum menggelar Usabha Muu-Muu.

Puncak dari rangkaian adat ini adalah Ter-teran, sebuah tradisi unik di mana dua kelompok warga, yakni Jasri Kaler dan Jasri Kelod, saling melempar api menggunakan obor dan prakpak—alat tradisional berbentuk suluh dari daun kelapa kering yang diisi dengan  kayu dan di ikat menjadi beberapa bagian  untuk memperkuat  jangkauan lemparan lebih jauh.

Menurut Pande Putra, tradisi ini melambangkan pertempuran simbolik antara kekuatan baik dan jahat. Lemparan api diyakini sebagai cara untuk mengusir Bhuta Kala (roh-roh jahat) agar tidak mengganggu ketenteraman Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (kehidupan manusia).

Baca Juga: Naik Kelas Bisnis, Pria Ini Nekat Nge-Vape di Dalam Pesawat, Berakhir Didenda Rp 2,5 Miliar

“Tradisi ini bukan sekadar perang api biasa, tapi merupakan bagian dari ritual pemendak atau penyambutan pratima yang baru selesai disucikan di pantai Jasri,” jelas Pande Putra. “Dengan Ter-teran, kita membersihkan alam dan batin, agar saat Hari Raya Nyepi tiba, kita bisa benar-benar hening, suci, dan damai.”

Meski zaman terus berkembang, masyarakat Desa Adat Jasri tetap mempertahankan warisan leluhur ini. Tradisi Ter-teran menjadi daya tarik budaya dan spiritual yang mendalam, bukan hanya bagi warga Jasri, namun juga wisatawan yang berkesempatan menyaksikan langsung perhelatan sakral ini.

Dengan semangat gotong royong dan keyakinan spiritual yang kuat, tradisi ini menjadi simbol kekuatan adat Bali dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

 

Editor : Wiwin Meliana
#bhuta kala #karangasem #perang api #desa adat jasri