BALIEXPRESS.ID - Di Banjar Gunung, Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung,berdiri kokoh sebuah tempat suci Hindu Bali tua yang menyimpan segudang misteri dan keunikan. Pura Gunung Sari, peninggalan Pasek Tohjiwa, bukan sekadar tempat pemujaan biasa.
Di sini, tersembunyi sebuah palinggih langka bernama Rong Lima, sebuah struktur sakral yang mengundang rasa penasaran dan decak kagum.
Perjalanan Panjang Pura Gunung Sari: Dari Masa Ki Pasek Badak hingga Air Mata Haru Para Pemudik
Kisah Pura Gunung Sari rupanya terbentang panjang, melintasi zaman dan generasi.
Baca Juga: Dapat DM Hingga Ingin Diajak Ngopi, Lisa Mariana Tunjuk Hotman Paris Jadi Kuasa Hukum?
Diperkirakan berdiri beberapa abad silam, sejarah pura ini masih terus ditelusuri, menyimpan jejak-jejak masa lalu yang menakjubkan.
Konon, keberadaannya erat kaitannya dengan masa kejayaan Ki Pasek Badak di Buduk.
Pura ini menjadi saksi bisu perpindahan warga ke Tangguntiti, Tabanan, pasca-wafatnya Ki Pasek Badak.
Ketika situasi kembali kondusif, sebagian warga kembali ke Banjar Gunung, membawa serta warisan leluhur berupa Pura Gunung Sari, Pura Ratu Nyoman Pangenter Jagat, dan Pura Tumbal Segara.
"Warga yang datang kemudian merawat dan menjadi pangempon pura, sampai sekarang ini," ungkap I Made Mustika, Pangarep Pura Gunung Sari.
Palinggih Rong Lima: Simbol Leluhur dan Pusat Jagat Raya yang Menggetarkan Hati
Puncak keunikan Pura Gunung Sari terletak pada Palinggih Rong Lima, sebuah struktur yang sangat jarang ditemui.
Bentuknya menyerupai Palinggih Kamulan, namun dengan lima rong (ruang) yang menyimpan makna mendalam.
Menurut penelusuran I Made Mustika dan I Gede Nyoman Wiranatha, Palinggih Rong Lima ini dipercaya sebagai stana Ida Bathara Lelangit, yang terdiri dari Mpu Gnijaya, Mpu Ketek, Kyai Agung Pamacekan, Kyai I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa, dan I Gusti Pasek Tohjiwa.
Ada pula yang memaknainya sebagai tempat pemujaan Ida Batara Panca Tirta, yakni Mpu Gnijaya, Mpu Mahameru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, dan Mpu Baradah.
"Palinggih Tetetapan ini dimaknai agar jangan lupa dengan Ida Batara Lelangit. Jadi, tempat tersebut jangan diubah karena sebagai pijakan awal dan juga sebagai pusat jagat raya," jelas I Made Mustika.
Baca Juga: Di tengah Huru Hara, Ayu Aulia Spill Chat Atalia Praratya; Sedih Pasti…
Air Mata Haru di Pura Kawitan: Pertemuan Kembali dengan Leluhur yang Mengharukan
Sebagai Pura Kawitan, Pura Gunung Sari menjadi tempat pemujaan atman suci leluhur bagi umat Hindu keturunan Pasek Tohjiwa.
Tak jarang, para pamedek (umat yang datang) meneteskan air mata haru saat pertama kali bersembahyang di pura ini.
"Mereka ternyata menangis setelah akhirnya menemukan kawitan yang mereka cari selama ini," ungkap I Made Mustika.
"Mungkin Ida Bathara di Pura Gunung Sari memberi tanda bahwa mereka sudah benar ke sini, sehingga sampai bisa menangis seperti itu."
Baca Juga: Nyaris Kolaps! Thom Haye Ungkap Momen Mencekam di Laga Timnas Indonesia vs Bahrain
Pura Gunung Sari: Warisan Leluhur yang Terus Dijaga dan Dilestarikan
Pura Gunung Sari, dengan segala keunikan dan misterinya, menjadi warisan leluhur yang terus dijaga dan dilestarikan oleh keturunan Pasek Tohjiwa.
Pura ini bukan sekadar tempat pemujaan, tetapi juga simbol identitas dan kebanggaan bagi mereka yang memiliki ikatan darah dengan leluhur yang agung. ***