Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Upacara Ngaturin di Desa Tajun, Gunakan Sapi sebagai Sarana, Simbol Bhakti untuk Leluhur  

I Putu Mardika • Senin, 7 April 2025 | 01:04 WIB

 

Upacara Ngaturin di Pura Pengaturan yang dilaksanakan krama Pasek Padang Subadra Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan pada Minggu (6/4) siang
Upacara Ngaturin di Pura Pengaturan yang dilaksanakan krama Pasek Padang Subadra Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan pada Minggu (6/4) siang
BALIEXPRESS.ID-Krama Pasek Padang Subadra di Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng menggelar upacara Ngaturin di Pura Pengaturan, Desa Tajun mulai Kamis (3/4) hingga Minggu (6/4).

Ritual yang digelar setiap tahun yang dilaksanakan setelah tradisi Nyeeb (mekrama bagi pengantin baru) dan sebelum Purnama Kedasa ini sebagai bentuk bhakti kepada leluhur dengan mempersembahkan Sapi sebagai sarana utama.

Hari sebelumnya, jumlah sapi yang dipersembahkan masing-masing pada Jumat (4/4) sebanyak 8 ekor sapi, Sabtu (5/4) 7 ekor sapi dan khusus Minggu (6/4) sebanyak 7 ekor Sapi dipersembahkan dengan cara dipotong sebagai sarana utama. Sehingga total yang dipersembahkan sebanyak 22 ekor sapi.

Jumlah sapi-sapi ini berasal dari krama Pasek Padang Subadra yang memberikan persembahan kepada para leluhurnya.

Setiap tahun, sapi yang dipersembahkan juga berbeda beda karena leluhur yang dipersembahkan ngaturin syaratnya harus sudah diaben.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) suasana pada Minggu (6/4) sejak pukul 09.00 Wita krama Pasek Padang Subadra sudah berbondong-bondong membawa sesajen ke Pura Pengaturan, Desa Tajun.

Pura ini memang bersebelahan dengan Pura Dalem Dasar. Namun, khusus dijadikan sebagai tempat mempersembahkan ritual ngaturin oleh Krama Pasek Padang Subadra.

Tercatat sebanyak 7 ekor sapi disemblih di Pura Pengaturan ini. Krama lanang berbagai tugas. Ada yang bertugas sebagai saya, kemudian ada pula yang memotong daging sapi, untuk dimasak di pewaregan lalu dibagikan ke krama.

Menurut Tokoh Adat Tajun, Made Suyasa ritual Ngaturin ini memang tidak lepas dari trah Pasek Padang Subadra yang ada di Desa Tajun.

Dia menjelaskan Pasek Padang Subadra merupakan salah satu trah (garis keturunan) dalam sistem kewangsaan Hindu di Nusantara yang memiliki akar kuat dalam kebangsawanan dan kepemimpinan spiritual.

Nama "Padang Subadra" berkaitan dengan Subadra, tokoh dalam Mahabharata, yang merupakan istri Arjuna dan ibu dari Abimanyu.

Dalam konteks Nusantara, keturunan Pasek Padang Subadra diyakini berasal dari perpaduan kasta kesatria dan brahmana, sehingga memiliki peran penting dalam pemerintahan, ritual, dan spiritualitas masyarakat Hindu.

Keturunan Pasek Padang Subadra berperan sebagai pengayom dan pemimpin spiritual, menjaga keberlangsungan dharma Hindu di Nusantara. Mereka sering menjadi pemimpin adat, pemangku, atau sulinggih yang mengarahkan jalannya upacara yadnya.

Keberadaan Pasek Padang Subadra di Tajun sebut Suyasa diyakini berasal dari Desa Selunglung, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

“Pasek Subadra dari Selulung kesah (pindah, Red) ke Tajun. Dan lambat laun jumlahnya berkembang hingga menjadi saat ini,” jelasnya.

Ritual Ngaturin ini sebut Suyasa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur atau pembayaran hutang (rna). Pelaksanaan upacara ini dilakukan oleh keturunan berupa persembahan sapi untuk para leluhurnya.

Prosesi memotong sapi sebagai sarana Ngaturin di Pura Pengaturan, Desa Tajun pada Minggu (6/4)
Prosesi memotong sapi sebagai sarana Ngaturin di Pura Pengaturan, Desa Tajun pada Minggu (6/4)

Dahulu, ritual Ngaturin di Tajun oleh Krama Pasek Padang Subadra hanya bisa dilaksanakan jika kedua orang tua sudah meninggal, dan menjadi tanggung jawab anak untuk memberikan persembahan setelah kedua orang tua diaben melalui persembahan sapi.

Namun, saat ini tradisi Ngaturin bisa dilakukan jika salah satu orang tua sudah ada meninggal. “Jadi semisal, ayahnya meninggal, namun ibunya masih hidup. Anaknya sudah bisa melakukan ritual ini sebagai bentuk persembahan tulus dan penyucian roh,” imbuhnya.

Sedangkan, bagi pasangan suami istri yang sudah meninggal, namun belum memiliki keturunan, maka bisa dilakukan oleh kerabat terdekat atau semeton ngarep.

“Siapa yang diajak metunggal waris (hak waris) maka bisa dibebankan kepada kerabatnya,” imbuh pensiunan birokrat Pemkab Buleleng ini.

Dipilihnya sapi sebagai sarana persembahan utama, Made Suyasa menyebut ada kesamaan dengan di Desa Selulung, Bangli.

Hanya saja jika di Bangli ada prosesi ngaturin dengan melepaskan sapi, maka di Desa Tajun ada ritual ngaturin dengan memotong sapi.

“Dalam Hindu, sapi adalah lambang kemakmuran, kesucian, dan kesuburan, yang sangat erat kaitannya dengan ajaran Pasek Padang Subadra. Dalam konteks perkawinan, persembahan sapi dalam Upacara Ngaturin melambangkan doa agar keturunan tetap lestari dan berkah turun-temurun,” paparnya. 

Ada sejumlah tahapan yang dilalui dalam prosesi Ngaturin di Pura Pengaturan Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

Salah satu momen yang menarik adalah mesaak atau melempar daging sapi ke atas, lalu direbut oleh krama untuk dibawa pulang.

Menurut Made Suyasa, tahapan ritual Ngaturin diawali dengan prosesi mepiuning Negdegang Peras atau ngingsah baas beberapa hari sebelum acara puncak. Kemudian dilanjutkan dengan prpseso Piuning Ngaturin.

Kemudian pada hari puncak ada prosesi menghaturkan sapi jantan di Pura Pengaturan.

Sapi yang dipersembahkan harus kondisi sehat dan tidak mengalami sakit. Krama rata-rata mempersembahkan godel atau anak sapi yang sudah agak besar.

Usai prosesi memotong sapi jantan kemudian dilanjutkan dengan upacara persembahyangan bersama seluruh krama yang menggelar Ngaturin.

Begitu prosesi persembahyangan bersama dilaksanakan, kemudian dilanjutkan dengan prosesi Mesaak. Prosesi ini dilakukan dengan meleparkan daging sapi ke atas oleh krama.

“Saat mesaak inilah daging sapi yang dilempar ini menjadi rebutan. Biasanya kalau sudah didapat, maka bisa dibawa pulang untuk dimasak,” pungkasnya. (dik)

 

 

 

 

Editor : I Putu Mardika
#upacara ngaturin #sapi #Pasek Padang Subadra #kubutambahan #desa tajun #leluhur #buleleng