Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) sekira pukul 11.00 Wita, ribuan krama sudah berkumpul di Pura Subak Dangin Yeh yang posisinya persis berada di pinggir ruas jalan Singaraja-Kubutambahan, atau sebelah barat Kantor Perbekel Desa Giri Emas.
Uniknya, ribuan krama ini menggunakan pakaian yang kompak.
Khusus krama yang sudah berumah tangga, krama lanang wajib menggunakan udeng putih lengkap bunga pucuk merah, baju putih dan saput merah, pun dengan kaum Perempuan menggunakan pakaian yang warnanya kombinasi putih (baju) dan merah (kamen).
Sedangkan untuk krama yang masih remaja (belum berkeluarga) mereka juga mengenakan busana yang kompak.
Udeng putih, baju putih dan saput kuning untuk pria. Pun dengan kaum Wanita, mereka juga mengenakan busana dengan kombinasi putih kuning.
Sebelum mengarak sarad agung, seluruh krama terlebih dahulu melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Subak.
Usai melaksanakan persembahyangan bersama, seluruh krama lanang yang juga sudah siap mengenakan sepatu itu, mengangkat sarad agung yang selanjutnya disebut bukakak inilah menjadi sarana utama dalam ngusaba.
Manggala Karya Ngusabha Bukakak, Wayan Sunarsa menjelaskan nama Bukakak berasal dari kata Lembu (lambang Siwa) dan Gagak (lambang Wisnu). Bukakak diwujudkan sebagai seekor burung garuda atau paksi yang terbuat dari ambu atau daun enau muda serta dihiasi bunga kembang sepatu atau bunga pucuk bang.
Bukan tanpa alasan mengapa konsep Lembu dan Gagak ini disatukan sebagai simbol dwitunggal dewa Siwa dan Wisnu.
Dikatakan Sunarsa, dari penuturan para leluhurnya terdahulu, konon konsep dwitunggal itu telah dijalankan saat jaman Kerajaan Daha Panjalu yang saat itu dibawah kepemimpinan Raja Sri Aji Jaya Pangus, sekitar 1181 M -1193 M.
Menurut cerita, kala itu raja Jaya Pangus adalah penganut sekta Wisnu. Kekuasaannya didukung mayoritas wangsa Siwa Shambu yang tak lain adalah masyarakat Desa Adat Sangsit Dangin Yeh.
Lalu, Raja Jaya Pangus mengadakan penyebaran ajaran memakai konsep Dwi Tunggal menyatukan sekta Wisnu dan Sekta Siwa dengan simbol pemujaan Nandi Garuda yang dalam bahasa Bali Kuno disebut Bukakak.
Sarana yang ditempatkan di dalam Bukakak adalah seekor babi (lambang Dewa Sambhu) yang diguling hanya bagian punggungnya saja. Sedangkan bagian bawah dibiarkan mentah, sehingga babi tersebut memiliki tiga warna.
Yakni warna merah pada bagian matang, hitam pada bagian yang masih ada bulunya (Dewa Wisnu), dan warna putih pada bagian yang masih mentah dan bulunya telah dihilangkan (Dewa Siwa).
“Bukakak ini adalah guling babi yang matang sebelah untuk keperluan sesajen. Bukakak simbol pelinggih (tempat duduk) yang berbentuk menyerupai burung garuda terbuat dari bahan bambu, daun enau muda, dihiasi dengan bunga kembang sepatu berwarna merah dan dilandasi dengan daging seekor babi hitam mulus yang diolah, mentah sebagian dan dipanggang menjadi matang sebagian,” paparnya.
Dalam tradisi Ngusaba Bukakak sebut Sunarsa prosesi dilaksanakan selama enam hari. Prosesi diawali dengan Upacara Melis Kesegara, dilakukan pada hari pertama yang dilaksanakan di pinggir laut Desa Giri Emas.
Melasti bertujuan untuk menyucikan pratima maupun krama sebelum melaksanakan Ngusabha.
Selanjutnya pada hari kedua dinamakan dengan upacara Ngusaba Uma. Prosesi ini juga melalui beberapa tahapan yaitu upacara Ngusaba di Pura Empelan, Pura Panti Pura Gaduh dan persembahyangan di masing masing petak sawah yang dimiliki oleh warga setempat di Desa Giri Emas.
Kemudian dilanjutkan dengan Upacara Ngembang, rangkaian upacara pada hari yang ketiga meliputi pembuatan Dangsil di Pura Subak dan malam harinya melaksanakan upacara persembahyangan (Nuntun Ida Bhatara Bhatari) serta Upacara Ngusaba di Pura Dalem dan Pura Segara.
Pada hari keempat, pagi harinya masyarakat terlebih dahulu menancapkan Dangsil dan Penjor diiringi gamelan Gong Duwe setelah itu, kemudian dilaksanakan upacara di Pura Dalem dan Pura Segara.
Pada hari kelima merupakan puncak upacara di sebut dengan Ngusaba Desa yang bertepatan jatuh pada Purnama Kedasa.
Kemudian pada hari keenam dilanjutkan dengan prosesi Melayagin Bukakak atau melancaran.
Melayagin adalah meliputi berbagai rangkaian upacara yakni pembuatan SaradAgeng (tempat Bukakak), melaksnakan persembahyang di Pura Pancoran Emas, upacara Mejaya jaya ke Pura Gunung Sekar, dan Melancaran Bukakak.
“Kalau melancarannya rutenya berubah ubah setiap pelaksanaan. Semua berdasarkan pawisik dari Ida Bhatara. Nah kalau hari ini melancarannya ke Pura Kaja di Desa Sangsit,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika