Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mang Epo, Akademisi dan Seniman yang Menghidupkan Kembali Napas Drama Gong Banyuning

I Putu Mardika • Sabtu, 19 April 2025 | 04:23 WIB

Nyoman Suardika, S.Ag, M.Fil. H, Seniman topeng yang juga akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja aktif dalam menghidupkan drama Gong Banyuning
Nyoman Suardika, S.Ag, M.Fil. H, Seniman topeng yang juga akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja aktif dalam menghidupkan drama Gong Banyuning
BALI EXPRESS.ID – Sosok I Nyoman Suardika, S.Ag., M.Fil., atau yang akrab disapa Mang Epo, tidak asing di kalangan pecinta seni tradisional Buleleng.

Pria kelahiran 22 Mei 1975 asal Kelurahan Banyuning ini bukan hanya dikenal sebagai seniman topeng Sidakarya dan Bondres, namun juga tokoh penting dalam upaya membangkitkan kembali seni Drama Gong di tanah kelahirannya.

Kiprahnya sebagai pendiri Sanggar Seni Nong-Nong Kling di Banyuning menjadi perhatian tersendiri. Sanggar ini bukan hanya ruang ekspresi kesenian, tetapi juga laboratorium pewarisan tradisi kepada generasi muda.

Di tengah kesibukannya sebagai akademisi di STAHN Mpu Kuturan Singaraja dan Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Suardika tetap teguh menjaga nyala api kesenian lokal.

Jejak pendidikan Mang Epo pun tertanam kuat di Buleleng. Ia menempuh pendidikan dasar di Banyuning, kemudian melanjutkan ke SMP Bhaktiyasa Singaraja dan SMA di kawasan kota Singaraja.

Kecintaannya pada bidang keagamaan dan budaya membawanya menyelesaikan pendidikan S1 di STAHN Denpasar, dilanjutkan S2 di IHDN Denpasar, dan kini tengah menyelesaikan studi doktoralnya di UHN I Gusti Bagus Sugriwa.

Sebagai seniman yang juga berlatar belakang akademis, Mang Epo merasa bertanggung jawab untuk menghidupkan kembali Drama Gong Puspa Anom, sebuah kelompok seni legendaris yang sempat berjaya di Banyuning pada era 1970–1990-an.

Drama Gong ini dahulu didirikan oleh almarhum Wayan Sujana alias Jedur bersama Gede Mangku, dua tokoh sentral dalam sejarah seni panggung Buleleng.

“Memang Drama Gong Puspa Anom punya peran memperkenalkan drama gong khas Banyuning. Yang pementasannya pakai dekorasi sesuai dengan latar cerita. Selain itu, drama gong ini kental dengan logat Buleleng,” ujar Mang Epo kepada Bali Express belum lama ini.

Menurutnya, kejayaan masa lalu itu menjadi inspirasi kuat untuk melanjutkan perjuangan para maestro pendahulu.

Popularitas Puspa Anom dulu bahkan menjangkau hampir seluruh desa di Bali hingga ke Lombok. Namun sejak dekade 1990-an, nama besar kelompok ini mulai meredup.

Fenomena ini juga menandai kemunduran kesenian drama gong secara umum di Bali, seiring dengan perubahan minat masyarakat dan minimnya regenerasi pelaku seni.

Melalui Sanggar Nong-Nong Kling, Mang Epo kini menggagas strategi pelestarian yang menyasar generasi muda. Ia melibatkan anak-anak dan remaja dalam setiap pementasan, termasuk saat odalan di pura-pura.

“Ini bentuk regenerasi, sehingga tidak putus. Meskipun anak-anak ini masih belum mengerti alur cerita, tetapi mereka dilibatkan dalam hal bermain dolanan,” katanya dengan nada penuh semangat.

Baginya, regenerasi adalah fondasi penting agar kesenian tidak hanya hidup sebagai kenangan, melainkan menjadi warisan yang terus berkembang.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang kontekstual agar kesenian bisa relevan dengan zaman, tanpa kehilangan ruh tradisinya.

Tak bisa dipungkiri, pengaruh almarhum Wayan Sujana alias Jedur, yang juga mertua Mang Epo, sangat besar dalam membentuk karakteristik khas Drama Gong Banyuning.

“Beliau selalu sukses mengantarkan drama gong meraih juara satu saat dilombakan di PKB. Saya banyak belajar dari cara beliau melatih dan menyusun cerita yang menyentuh penonton,” kenangnya.

Suardika mengisahkan bagaimana ia dulu kerap mendampingi Jedur saat melatih sekaa drama gong ke berbagai desa di Buleleng, terutama menjelang Pesta Kesenian Bali (PKB).

Dari proses itulah, ia mendapat banyak trik dramaturgi dan pendekatan estetika panggung khas Buleleng yang kini diteruskan ke generasi baru.

Lebih jauh, Suardika berharap kehadiran Sanggar Seni Nong-Nong Kling bisa menjadi media pelestarian seni yang aktif, bukan hanya menjadi bagian dari festival sesaat.

“Selama ini memang orang ngupah drama gong karena sesangi atau kaul. Sehingga kami sering diminta mementaskan drama gong keliling Buleleng,” pungkasnya.(dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#kesenian #seniman #akademisi #drama Gong #Nyoman Suardika #Sanggar #Banyuning