Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witaraga Sanyasa dari Geriya Taman Sari Asrama, Desa Kekeran, Kecamatan Busungbiu mengatakan Hari Raya Galungan merupakan momentum untuk mendapatkan kekuatan spiritual agar mampu membedakan antara dorongan adharma maupun dharma dalam diri manusia.
Dalam lontar Sundarigama disebutkan: Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep.
Terjemahannya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. Jadi, intı Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang.
Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Darı konsepsi lontar Sundarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.
Sebelum perayaan Galungan, maka diawali dengan Hari Panyekeban pada Redite Wuku Dunggulan, Hari Penyajaan pada Soma Wuku Dunggulan dan Hari Penampahan pada Anggara Wuku Dunggulan.
Pada redite paing wuku dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Sang Kala Tiga ini adalah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan, dan Sang Bhuta Amengkurat.
Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jnana, (mendiamkan pikiran-meditasi) agar tidak dimasuki oleh Bhuta Galungan (roh jahat).
Dalam lontar Sundarigama juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Bhuta Galungan.
Saat hari Penyekeban ini umat Hindu melakukan Nyekeb (Proses membuat buah-buahan yang belum dimasak menjadi masak) pisang atau tape untuk persiapan hari Galungan.
Pada hari penyekaban ini merupakan awal Wuku Dungulan yang memiliki makna patut waspada, buah-buahan memiliki makna sebagai simbol pengekangan diri agar tidak tergoda dengan Bhuta Galungan, karena pada Bhuta Kala (Sang Hyang Tiga Wisesa) akan turun dan menggoda keyakinan umat Hindu dalam wujud Bhuta Galungan.
“Oleh karena itu, manusia harus selalu waspada dalam mengendalikan dirinya, mengguatkan batin agar tidak tergoda dengan kekuatan negatif dari Sang Bhuta Galungan,” ujarnya.
Hari Penyajaan Galungan. Hari Penyajahan Galungan dilaksanakan hari senin atau 2 hari sebelum hari raya Galungan. Hari ini digunakan sebagai hari persiapan membuat jajanan (kue) untuk hari raya Galungan.
Kata jajan memiliki makna sebagai simbolis adalah mengandung maksud sungguh-sungguh unutk melaksanakan hari raya Galungan.
Pada hari Penyajaan Galungan ini juga mulai turun Sang Bhuta Kala atau yang biasa disebut dengan Sang Bhuta Dungulan.
Godaannya pun semakin kuat dan keras, oleh karena itu umat Hindu harus lebih waspada dengan gangguan-gangguan negatif dari Bhuta Galungan tersebut.
Pada hari Penyajaaan Galungan ini umat Hindu mulai mempersiapkan diri untuk membuat sesajen/banten.
Harapannya, dengan melakukan kegiatan ini dapat meningkatkan daya konsentrasi diri ke arah yang bersifat suci guna dalam mengalahkan sang Bhuta Galungan agar tidak menggoda umat Hindu.
“Pada hari Senin Pon Dungulan disebut penyajaan galungan Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan, karena pada hari ini disebut hari Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi,” ungkapnya.
Hari Penampahan Galungan dilaksanakan pada hari Selasa Wage Wuku Dungulan atau sehari sebelum hari raya Galungan.
Pada hari dilaksanakan penyembelihan binatang ternak seperti, babi, ayam, itik, atau binatang lain yang digunakan untuk keperluan Yadya dan keperluan pest untuk menyambut hari raya Galungan.
Pada hari Penampahan Galungan ini turun lagi Sang Bhuta Kala Amangkurat untuk menggoda umat Hindu agar gagal melakukan hari raya Galungan. Untuk terhindar dari golongan umat Hindu harus menghindarkan diri dari pertengkaran.
“Pada hari ini biasanya umat Hindu pada umumnya menyemblih babi. Makna dari penyembelihan babi pada hari ini adalah sebagai simbol membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri manusia,” paparnya.
Puncaknya, pada Budha (rabu) Kliwon Wuku Dungulan, yang merupakan Hari Raya Galungan sebagai peringatan terhadap dari kemenangan Dharma melawan Adharma atas kemampuan menghadapi dan menaklukan Sang Kala Tiga.
“Persembahan-persembahan pada hari raya Galungan yang paling utama ditunjukkan kepada manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa dan pemujaan terhadap leluhur di sanggah merajan sebagai bentuk ucapan Syukur atas keberlimpahan yang diberikan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika