Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Hari Suci Galungan dan Kuningan

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 24 April 2025 | 19:14 WIB
BANTEN : Banten Galungan yang dibuat oleh umat Hindu.
BANTEN : Banten Galungan yang dibuat oleh umat Hindu.

BALIEXPRESS.ID- Hari suci Galungan dan Kuningan merupakan hari suci yang ditunggu umat Hindu. Hari suci ini datangnya setiap 6 bulan sekali menurut perhitungan Pawukon. Tokoh agama, Jro Mangku Gde Nyoman Adi Garnida, menjelaskan ada banyak pertanyaan yang muncul, kenapa kita merayakan Galungan dan Kuningan?. 

Diungkapkan bahwa makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pandang teologi akan di dapat sarat makna dan lelaku spiritual yang sangat tinggi. “Ini merujuk pada beberapa sumber sastra yakni Lontar Sri Aji Jayakusunu, Sundarigama dan Lebu Guntur, yang membahas dan memberikan petunjuk pelaksanaan Galungan dan Kuningan,” paparnya.

Jro Mangku Adi Garnida menambahkan, sesungguhnya rangkaian awal sudah dimulai dari tumpek wariga. Ada beberapa puja sonteng yang di pakai pada saat itu seperti "kaki kaki tiang mepengarah buin selai dina 25 Galungan, apang mebuah nged nged". Dari sini sudah disampaikan hari raya Galungan akan datang lagi 25 hari.

Selanjutnya membersihkan bhuwana agung dan bhuwana alit bermakna bersiap menyongsong datangnya Sang Bhuta Galungan, bukan sang bhuta kala Galungan. Pelaksanaanya pada hari Kamis sungsang (sugihan jawa) mereresik atau ngerebuin yakni membersihkan bhuwana agung secara niskala dan sekala.

Kemudian pada hari Jumat sungsang mereresik atau ngerebuin yakni membersihkan bhuwana alit secara niskala dan sekala. Maka dapat disimpulkan menyongsong Galungan dan Kuningan dipersiapkan secara matang baik sekala dan niskala.

Muncul pertanyaan siapa yang akan datang sampai persiapan begitu matang?, tak lain adalah Sanghyang Tiga Wisesa dalam rupa Sang Bhuta Tiga yaitu Sang Bhuta Dungulan, Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Amangkurat.

“Pada hari Redite Dungulan disebut penyekeban mulai hari ini gangguan datang dari Sang Bhuta Dungulan, selaku spiritual adalah melakukan tapa, brata yaitu pengekangan diri (introspeksi), pelaksanaan mulai di simbolkan dengan nyekeb buah-buahan,” bebernya.

Kemudian pada Soma Dungulan disebut penyajaan atau penapean mulai hari gangguan datang dari Sang Bhuta Galungan. Selaku spiritual adalah melakukan ayoga semadhi, pelaksanaan disimbolisasikan dengan membuat jajanan, jajan dodol, abuh, satuh, begina dan sebagainya.

Sedangkan pada Anggara dungulan disebut penampahan mulai hari gangguan datang dari sang bhuta amangkurat, selaku spiritual adalah setelah berhasil dalam introspeksi diri. Lakukanlah pembersihan diri secara niskala agar mendapat kerahayuan, pelaksanaan dalam bentuk upacara mebeakala tajeg surya, simbolisasi dengan menyembelih hewan (simbol ego).

“Mempersembahkan rasa syukur kepada Ida Betara yang berstana di Gunung Agung, dengan simbolisasi membuat penjor. Apabila bertepatan dengan sasih pengelong perlu dibuatkan damar pada penjor, kalau sasih penanggal tidak perlu damar,” tegas Jro Mangku Garnida.

Dengan memahami sang bhuta tiga adalah sebuah energi negatif yang dikendalikan oleh durga, maka pelaksanaan upacara lebih mengacu pada ke unsur bhuta berupa banten beakala, caru, pererebuan, segehan, dan sebagainya.

Sementara pada hari Sabtu Kuningan diingatkan kembali (uning) oleh para dewata dan leluhur agar tetap menjalankan dharma. Pelaksanaan dalam bentuk upacara ngaturang atau membuat tamiang (simbol sejata dewata nawa Sangga), bedog (tameng) sebagai pagar diri dari pengaruh negatif (adharma), hari sabtu ini dinamai Kuningan.

“Demikian serangkaian Galungan dan Kuningan adalah merupakan durga puja (energi negatif) menjadi positif (Dharma). Sebagai tombak awal memperbaiki diri atau introspeksi diri yang di ingatkan dan di ulang setiap enam bulan sekali menurut perhitungan pawukon,” pungkasnya. *

Editor : Putu Agus Adegrantika