Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Fenomena Penampakan Payung Terbang di Tempat Suci Hindu Bali, Pura Luhur Hyang Api Tabanan: Benarkah Angker dan Berkhasiat Menyembuhkan?

I Putu Suyatra • Jumat, 25 April 2025 | 01:20 WIB

Tempat suci Hindu Bali yang menyimpan misteri dan dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan: Pura Luhur Hyang Api.
Tempat suci Hindu Bali yang menyimpan misteri dan dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan: Pura Luhur Hyang Api.

BALIEXPRESS.ID - Di tengah ramainya lalu lintas jalanan Desa Buahan, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, terselip sebuah kawasan tempat suci Hindu Bali yang menyimpan misteri dan dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan: Pura Luhur Hyang Api.

Meski lokasinya cukup mudah dijangkau, aura "angker" begitu melekat pada tempat suci ini, terutama karena fenomena penampakan tedung (payung) terbang secara gaib yang kerap disaksikan warga dan kemudian menghilang di area pura.

Bagi sebagian besar warga Desa Adat Buahan, cerita keangkeran wilayah mereka bukanlah hal baru.

Baca Juga: Dua Wanita Jadi Korban Tabrak Lari di Bypass Dharma Giri Gianyar, Kijang 905 Beri Respon Cepat

Selain dikenal sebagai salah satu desa tertua di Tabanan dengan pepohonan rimbun, kisah mistis Pura Luhur Hyang Api bermula dari pengalaman seorang warga yang sedang mencari kelapa.

Jero Mangku Ketut Jajar, atau yang lebih dikenal sebagai Mangku Hyang Api, mengungkapkan kejadian unik yang menjadi cikal bakal berdirinya pura ini pada September 2016.

"Setiap naik kelapa, warga itu pasti melihat tedung terbang dan turun di sebuah tempat yang kini dikenal dengan Pura Luhur Hyang Api," tuturnya.

Rasa penasaran mendorong warga tersebut untuk mendekati lokasi jatuhnya payung misterius itu.

Baca Juga: Dua Wanita Jadi Korban Tabrak Lari di Bypass Dharma Giri Gianyar, Kijang 905 Beri Respon Cepat

Namun, alih-alih menemukan payung, ia hanya mendapati sebuah batu. Keanehan ini terjadi berulang kali, namun saksi mata awalnya tidak mempercayai apa yang dilihatnya.

Lantas, bagaimana batu tersebut bisa bertransformasi menjadi sebuah pura yang dihormati?

Mangku Jajar menceritakan bahwa semuanya berawal dari sakit yang diderita oleh pemilik tanah tempat batu itu berada.

"Karena tidak percaya ada yang berstana di batu itu, akhirnya dia sakit-sakitan," jelasnya.

Titik balik terjadi ketika Ketut Jajar muda, yang kala itu aktif dalam sebuah partai, merasa terancam saat terjadi pembantaian anggota partainya.

Dalam kondisi genting tersebut, ia mencari perlindungan spiritual di lokasi batu misterius itu bersama anggota keluarga lainnya.

"Saya mohon perlindungan di sana, terkait dengan pembunuhan besar-besaran saat pemberontakan G30S/PKI alias Gestok," kenangnya.

Keajaiban terjadi. Keluarga Mangku Jajar yang berada di sekitar lokasi pura selamat dari tragedi tersebut.

Merasa terlindungi oleh kekuatan spiritual di tempat itu, Mangku Jajar bersama rekan dan keluarganya membangun panyengker (pagar pelindung) sederhana mengelilingi batu tersebut.

Ia bahkan sempat dikira telah menjadi korban pembantaian oleh tetangganya.

Sesuai dengan nazarnya, Mangku Jajar kemudian membangun tempat pemujaan di sana sebagai wujud baktinya.

Baca Juga: Uniknya Tarian Baris Nanda di Pura Petilan Kesiman: Gerakan Sederhana, Sarat Makna

Kabar mengenai tempat ini pun menyebar dari mulut ke mulut. Pemilik tanah yang sebelumnya sakit akhirnya datang dan memohon kesembuhan di batu yang dulunya ia ragukan keberadaannya.

Kejadian luar biasa kembali terjadi. Tanpa pengobatan medis, warga tersebut sembuh dari penyakitnya.

Sebagai rasa syukur, tanah tempat berdirinya palinggih kecil itu diikhlaskan untuk pembangunan pura.

Sejak saat itu, Pura Luhur Hyang Api mulai didatangi oleh warga yang mempercayai kisah misteri dan kekuatan penyembuhannya.

Baca Juga: Tari Baris Nanda di Pura Agung Petilan Kesiman, Dipentaskan saat Manis Galungan, Gunakan Tanda Simbol Lingga-Yoni  

"Biasanya warga yang datang selalu dalam keadaan sakit, dan mohon kesembuhan di pura ini," ungkap Mangku Jajar.

Mereka yang memohon kesembuhan biasanya menyertakan janji untuk ngayah (mengabdi) di pura jika permohonan mereka dikabulkan.

"Tak sedikit warga yang telah disembuhkan sejak saat itu," imbuhnya. Kini, pura yang awalnya hanya dirawat oleh dua orang telah memiliki lebih dari 60 orang pangempon (pengurus) yang tergabung dalam pemaksan (komunitas) Pura Luhur Hyang Api.

Mangku Jajar menjelaskan bahwa untuk memohon penyembuhan, terutama untuk penyakit niskala (non-fisik), cukup dengan membawa banten pejati peras daksina dan yang terpenting adalah ketulusan dalam memohon.

Pujawali pura yang jatuh pada Anggarkasih Tambir diyakini memiliki pasangan niskala.

Pura yang terletak di sisi utara jalan ini dipercaya sebagai representasi perempuan, sedangkan pura yang berada di selatan dan diempon oleh satu keluarga diyakini sebagai representasi laki-laki.

Seiring berjalannya waktu, Ida Bhatara (manifestasi Tuhan) yang berstana di pura ini memberikan petunjuk untuk dibuatkan tapakan (simbol).

Setelah musyawarah, dibuatlah tapel rangda (topeng rangda) sebagai representasi Ida Bhatara.

Baca Juga: Ratusan Siswa SMP Tak Bisa Membaca, Pengamat Pendidikan: Pemerintah Kurang Evaluasi Literasi dan Distribusi Buku

Keanehan kembali terjadi ketika kajeng kliwon (hari suci tertentu), tapel rangda tersebut seringkali terbuka sendiri, membuat Mangku Jajar merasa heran.

Namun, misteri ini belum terpecahkan, tapel rangda tersebut tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Tak kehilangan harapan, pemaksan pura kembali membuatkan patapakan yang baru, kali ini berjumlah tiga, yaitu Ratu Gede, Ratu Ayu, dan Rarung.

Kisah misteri dan kekuatan penyembuhan Pura Luhur Hyang Api ini terus menarik perhatian warga lokal maupun pendatang. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#kabupaten tabanan #hindu bali #Pura Luhur Hyang Api #angker