Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengungkap Misteri Dua Palinggih di Balik Megahnya Pura Pesimpangan Taman Pole, Abiansemal! Dulunya Ada Apa?

I Putu Suyatra • Sabtu, 26 April 2025 | 01:55 WIB

Tempat suci Hindu Bali, Pura Pesimpangan Taman Pole di Banjar Pakandelan, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.
Tempat suci Hindu Bali, Pura Pesimpangan Taman Pole di Banjar Pakandelan, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.

BALIEXPRESS.ID – Jangan terkecoh dengan kemegahan tempat suci Hindu Bali, Pura Pesimpangan Taman Pole di Banjar Pakandelan, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.

Jika pura lain umumnya memiliki banyak palinggih (bangunan suci), pura yang satu ini menyimpan keunikan yang bikin penasaran: hanya ada dua palinggih di dalamnya!

Lebih mencengangkan lagi, kedua palinggih ini berdiri bersebelahan dengan merajan (pura keluarga) dan hanya dipisahkan oleh sekat tembok setinggi tak lebih dari satu meter.

Baca Juga: PKB Tahun 2025, Disbud Badung Siapkan Anggaran Rp 7 Miliar

Lantas, mengapa pura ini begitu istimewa dan berbeda dari yang lain?

Pangarep Pura Pesimpangan Taman Pole, I Made Latrem, membuka tabir misteri ini melalui cerita turun-temurun dari leluhurnya.

Ternyata, pembangunan pura ini berakar dari situasi keamanan yang kurang kondusif di era penjajahan dahulu.

"Dari cerita leluhur terdahulu, konon karena masa perang, keluarga kami tidak berani pergi keluar desa. Apalagi untuk bersembahyang ke pura leluhur di Pura Taman Pole Ubud, Gianyar," ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Baca Juga: Warga Paksebali Keluhkan Truk Ugal-ugalan dan Keamanan Desa

Solusi Cerdas di Tengah Keterbatasan

Demi tetap bisa menghaturkan bakti kepada Ida Batara yang berstana di Pura Taman Pole Ubud, para leluhur I Made Latrem mencari jalan keluar.

Akhirnya, diputuskanlah untuk membangun sebuah pura pesimpangan – sebuah representasi atau perwakilan dari pura utama.

"Pura pesimpangan pun didirikan di area sebelah utara merajan ini. Hingga saat ini, kami keturunannya ngempon (bertanggung jawab) di Pura Pesimpangan Taman Pole ini," jelas pria ramah ini.

Ni Made Warsa, juru sapuh pura, menambahkan betapa sulitnya perjalanan menuju Pura Taman Pole di Ubud zaman dahulu.

"Waktu itu jalan kaki ke Pura Taman Pole yang di Ubud. Lumayan perjalanannya tidak seperti sekarang ya," kenangnya.

Begal Ketupat dan Pembatas yang Mendamaikan

Tak hanya jarak yang menjadi kendala, I Made Latrem dan Ni Made Warsa juga menceritakan tantangan lain seperti melewati jembatan bambu dan bahkan adanya "begal ketupat" yang sering meminta ketupat (makanan dari beras yang dibungkus daun kelapa) usai sembahyang.

Lebih lanjut, I Made Latrem mengungkapkan fakta menarik lainnya.

Baca Juga: SELAMAT! Sebanyak 968 Orang Lolos Seleksi Administrasi PPPK tahap 2 di Tabanan

Dahulu, area merajan dan Pura Pesimpangan Taman Pole tidak memiliki pembatas. Konon, hal ini sempat membuat kehidupan keluarga leluhurnya menjadi tidak harmonis dan sering terjadi perselisihan.

Setelah melakukan mapinunas (meminta petunjuk) kepada tokoh spiritual, didapatkanlah jawaban bahwa tidak diperbolehkan ada dua pura dalam satu area tanpa pembatas yang jelas.

Sejak saat itu, diputuskanlah untuk membangun tembok pembatas dan memisahkan pintu masuk antara merajan di selatan dan Pura Pesimpangan Taman Pole di timur.

"Leluhur yang saya anggap kakek itu lah yang mulai membangun tembok pembatas ini. Sejak pembatas dibuat, semuanya akhirnya baik-baik saja," imbuh I Made Latrem.

 

Baca Juga: Wabup Bagus Alit Sucipta Serahkan Penghargaan Tertib Administrasi di Dalung dan Sading

Kekuatan Tradisi di Tengah Kesederhanaan

Kini, Pura Pesimpangan Taman Pole diempon oleh tiga kepala keluarga dari satu garis keturunan.

Di dalamnya terdapat dua palinggih: stana Dewi Sri dan Gedong sebagai pesimpangan dari Ida Batara Pura Taman Pole, serta sebuah Pelik Sari.

Meskipun tergolong kecil, tradisi upacara piodalan (ulang tahun pura) di sini tetap meriah dengan iringan gong

Menariknya, hingga saat ini pura ini belum memiliki pemangku (pendeta), dan bantuan pemangku dari luar baru diminta saat ada upacara.

Meskipun telah berdiri sejak lama, baik I Made Latrem maupun Ni Made Warsa mengaku tidak pernah mengalami hal-hal mistis di pura ini. ***

Baca Juga: Candi Dieng, Jejak Peradaban Hindu-Budha tertua di Tanah Jawa, Ditemukan dalam Kondisi Tergenang Air

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Kabupaten Badung #Pura Pesimpangan Taman Pole #hindu bali #abiansemal