Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Terjebak Lingkaran Iri dan Pamer? Ini Kunci Bijak Melepas Belenggunya!

I Putu Suyatra • Sabtu, 26 April 2025 | 02:10 WIB

ILUSTRASI
ILUSTRASI

BALIEXPRESS.ID – Siapa yang tak pernah merasakan secuil iri saat melihat pencapaian orang lain? Atau mungkin tanpa sadar, kita pun pernah memamerkan sesuatu? Dua sifat ini, ibarat dua sisi mata uang, seringkali menghantui benak manusia.

Lantas, bagaimana cara ampuh untuk menepis jauh-jauh rasa iri hati dan keinginan pamer yang bisa merusak kebahagiaan diri sendiri dan orang lain?

Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, seorang tokoh agama Hindu Bali terkemuka, memberikan pencerahan mendalam mengenai akar permasalahan dan solusi bijak untuk mengatasi dua sifat buruk ini.

Baca Juga: GEGER! KPK Sita Puluhan Kendaraan Terkait Korupsi Bank BJB, Motor Mewah Eks Gubernur Jawa Barat Ikut Terseret!

Beliau menegaskan bahwa iri hati adalah bibit kehancuran, berbeda jauh dengan motivasi yang timbul saat melihat kesuksesan sesama.

"Iri hati cenderung akan membicarakan kesuksesan seseorang dengan orang lainnya dalam sudut pandang negatif," ungkap Ida Pedanda kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

"Sedangkan jika termotivasi melihat orang sukses, maka akan cenderung mendekati orang sukses tersebut agar bisa belajar jadi lebih baik," tambahnya.

Lebih dalam, sloka 88 dalam Sarasamuscaya mengingatkan: "Bagi mereka yang ingin memeroleh kebahagiaan abadi, hendaknya jangan sekali-kali berkeinginan untuk memiliki sesuatu yang bukan merupakan haknya, jangan sekali-kali berperasaan iri hati pada orang yang beruntung."

Baca Juga: Mengungkap Misteri Dua Palinggih di Balik Megahnya Pura Pesimpangan Taman Pole, Abiansemal! Dulunya Ada Apa?

Era Digital dan Jebakan Pamer

Di era modern yang serba digital ini, Ida Pedanda Gde Isana Manuaba mengakui bahwa rasa iri hati seringkali muncul tanpa disadari akibat kurangnya pengendalian panca indria.

Media sosial, dengan segala kemudahannya, menjadi panggung pamer yang tak terhindarkan, baik disengaja maupun tidak.

"Semisal kita melihat teman membawa mobil mewah, kita tiba-tiba ingin punya. Begitulah yang sekarang sering terjadi," ujarnya, menggambarkan betapa mudahnya rasa iri dipicu oleh apa yang kita lihat di dunia maya.

Beliau justru menyoroti bahwa orang yang berpengetahuan akan merasa kasihan pada mereka yang gemar pamer.

"Sering ada orang yang pamer, kemudian dikomentari oleh orang lain. Dia merasa jengkel dan harus membalas kritikan yang tidak dia duga itu. Sebenarnya jika dia tidak pamer, maka tidak perlu membuang energi meladeni hal seperti itu," papar sulinggih dari Griya Lebah Manuaba ini.

Iri Hati Sumber Sengsara

Ida Pedanda Gde Isana Manuaba dengan tegas menyatakan bahwa iri hati sesungguhnya akan menyebabkan orang sengsara.

"Orang yang diliputi oleh kedengkian dan iri hati, hidupnya akan selalu dilekati oleh duka dan nestapa. Hal ini terjadi, sebab orang tersebut lebih sibuk memikirkan keberuntungan, kekayaan, kerupawanan dan kebahagiaan yang dimiliki orang lain," urainya.

Lantas, bagaimana cara mengendalikan belenggu iri hati ini? Ida Pedanda merujuk pada Kitab Suci Weda yang memberikan tuntunan bijak:

Baca Juga: PKB Tahun 2025, Disbud Badung Siapkan Anggaran Rp 7 Miliar

"Miliki yang satu untuk bedakan yang dua," yang bermakna bahwa dengan pengetahuan, manusia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.

"Kenali yang tiga untuk menapaki yang empat," yang berarti manusia harus memahami Tri Guna (Sattwam, Rajas, dan Tamas) agar tahu kapan waktu yang tepat untuk menggunakannya. Menapaki yang empat adalah Catur Purusa Artha (Dharma, Arta, Kama, dan Moksha).

"Kendalikan yang lima untuk menghindari yang enam," yang mengajarkan pentingnya mengendalikan Panca Indria (mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit) untuk menghindari Sad Ripu (Kama, Lobha, Krodha, Moha, Mada, dan Matsarya/iri hati). "Memiliki pengendalian terhadap panca indria akan menghindarkan diri dari rasa iri hati," jelas beliau.

Bukan Sekadar Ritual, Tapi Perubahan Pergaulan

Mengenai upacara seperti Mapandes (potong gigi), Ida Pedanda menjelaskan bahwa ritual ini adalah upaya mengharmonisasikan energi diri dengan alam semesta dan menjadi pengharapan untuk mengurangi pengaruh sifat negatif.

Baca Juga: Warga Paksebali Keluhkan Truk Ugal-ugalan dan Keamanan Desa

Namun, beliau menekankan ada cara yang lebih sederhana dan mendasar untuk mengatasi iri hati.

"Seseorang harus bisa menjauhi pergaulan dengan orang yang suka iri dan juga pamer," sarannya.

Beliau menjelaskan bahwa lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter.

"Bergaul bersama orang yang suka iri hati dan pamer akan membuat seseorang juga memiliki sifat yang sama. Makanya bertemanlah dengan orang bijak atau yang tidak punya sifat buruk seperti itu," pungkas Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, memberikan kunci sederhana namun mendalam untuk meraih ketenangan batin. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Sarasamuscaya #hindu bali #iri hati #digital #pamer #media sosial #Ida Pedanda Gde Isana Manuaba